<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Perluas Pasar Ekspor Tekstil ke Amerika dan Eropa</title><description>Airlangga Hartarto menekankan, pihaknya telah mendorong industri TPT nasional agar segera memanfaatkan teknologi digital.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2082967/indonesia-perluas-pasar-ekspor-tekstil-ke-amerika-dan-eropa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2082967/indonesia-perluas-pasar-ekspor-tekstil-ke-amerika-dan-eropa"/><item><title>Indonesia Perluas Pasar Ekspor Tekstil ke Amerika dan Eropa</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2082967/indonesia-perluas-pasar-ekspor-tekstil-ke-amerika-dan-eropa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2082967/indonesia-perluas-pasar-ekspor-tekstil-ke-amerika-dan-eropa</guid><pubDate>Rabu 24 Juli 2019 13:36 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/24/320/2082967/indonesia-perluas-pasar-ekspor-tekstil-ke-amerika-dan-eropa-D4yKEWReEk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/24/320/2082967/indonesia-perluas-pasar-ekspor-tekstil-ke-amerika-dan-eropa-D4yKEWReEk.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description> 
JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menekankan, pihaknya telah mendorong industri TPT nasional agar segera memanfaatkan teknologi digital seperti 3D printing, automation, dan internet of things sehingga siap memasuki era industri 4.0. Upaya transformasi ini diyakini dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Menperin menyampaikan, pemerintah juga berupaya membuat perjanjian kerja sama bilateral dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa supaya memperluas pasar ekspor TPT lokal.

&amp;ldquo;Karena bea masuk ekspor produk tekstil Indonesia masih dikenakan 5%-20%, sedangkan ekspor Vietnam ke Amerika dan Eropa sudah 0%,&amp;rdquo; tuturnya seperti dikutip Harian Neraca, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kesulitan Bahan Baku, Pengusaha Tekstil Minta Pembenahan Produsen Kain
Lebih lanjut, Kemenperin terus berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk mengatasi impor ilegal produk TPT dalam bentuk borongan. &amp;ldquo;Kami juga akan perhatikan dan ada tindakan tegas untuk impor baju bekas yang masuk melalui pelabuhan tikus,&amp;rdquo; imbuhnya.

Industri TPT menorehkan kinerja yang gemilang pada triwulan I tahun 2019. Sepanjang tiga bulan tersebut, pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi tercatat paling tinggi dengan mencapai 18,98%. Jumlahnya naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu di angka 7,46% dan juga meningkat dari perolehan selama 2018 sebesar 8,73%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Tumbuh 3,6%
Sebelumnya, industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional. Pada periode Januari-Mei 2019, sektor manufaktur mampu mengapalkan produk-produk unggulannya hingga mencapai USD51,06 miliar atau menyumbang 74,59% pada total nilai ekspor nasional.

&amp;ldquo;Secara volume, ekspor industri manufaktur kita mengalami peningkatan 9,8% dari Januari-Mei 2019 dibanding periode yang sama tahun lalu. Selama ini industri manufaktur masih konsisten menjadi kontributor terbesar pada nilai ekspor kita,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.
Menperin menyebutkan, beberapa sektor manufaktur yang berperan besar  terhadap capaian ekspor pada lima bulan pertama tahun ini, di antaranya  industri makanan yang menembus USD10,56 miliar, disusul industri logam  dasar USD6,52 miliar, serta industri bahan kimia dan barang dari bahan  kimia USD5,38 miliar.

&amp;ldquo;Industri makanan menyumbang 20,69 persen dari total ekspor industri  pengolahan pada Januari-Mei 2019,&amp;rdquo; ungkapnya. Kemudian, industri pakaian  jadi menyetor nilai ekspor sekitar USD3,55 miliar serta industri kertas  dan barang dari kertas USD3 miliar.

&amp;ldquo;Pemerintah terus mendorong peningkatan investasi dan ekspansi di  sektor industri. Jadi, kapasitas produksi meningkat, selain untuk  memenuhi kebutuhan pasar domestik, juga bisa mengisi pasar ekspor,&amp;rdquo;  tuturnya.

Beberapa negara tujuan utama ekspor produk manufaktur nasional,  antara lain Amerika Serikat, China, Jepang, Singapura, dan India.

Airlangga juga mengungkapkan, pemerintah gencar menarik investasi  sektor industri yang dapat menghasilkan produk substitusi impor. Langkah  tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan defisit  neraca perdagangan.

&amp;ldquo;Bapak Presiden Joko Widodo telah menunjukkan komitmennya dalam  menjaga iklim usaha yang kondusif di Indonesia. Wujud nyatanya antara  lain memberikan kemudahan dalam perizinan usaha, menjaga ketersediaan  bahan baku dan energi, serta telah menerbitkan kebijakan insentif fiskal  untuk memacu industri terlibat dalam kegiatan vokasi dan litbang,&amp;rdquo;  paparnya.

Guna lebih mendobrak pasar ekspor, Kemenperin telah memiliki peta  jalan Making Indonesia 4.0, yang mendorong industri manufaktur nasional  agar memanfaatkan teknologi industri 4.0. Peta jalan tersebut memacu  inovasi produk yang berkualitas sehingga meningkatkan daya saing produk  nasional di pasar global.

Dalam upaya menggenjot investasi dan ekspor, pemerintah berkomitmen  untuk terus menciptakan iklim bisnis yang kondusif dan memberikan  kemudahan perizinan usaha. Langkah strategis yang telah dilakukan,  antara lain pemberian insentif fiskal, penerapan online single  submission (OSS), serta pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan  vokasi.

Di tengah kondisi perlambatan ekonomi di tingkat global, Kemenperin  optimistis memasang target pertumbuhan industri nonmigas sebesar 5,4%  pada tahun 2019. Adapun sektor-sektor yang diproyeksikan tumbuh tinggi,  di antaranya industri makanan dan minuman (9,86%), permesinan (7%),  tekstil dan pakaian jadi (5,61%), serta kulit barang dari kulit dan alas  kaki (5,40%).</description><content:encoded> 
JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menekankan, pihaknya telah mendorong industri TPT nasional agar segera memanfaatkan teknologi digital seperti 3D printing, automation, dan internet of things sehingga siap memasuki era industri 4.0. Upaya transformasi ini diyakini dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Menperin menyampaikan, pemerintah juga berupaya membuat perjanjian kerja sama bilateral dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa supaya memperluas pasar ekspor TPT lokal.

&amp;ldquo;Karena bea masuk ekspor produk tekstil Indonesia masih dikenakan 5%-20%, sedangkan ekspor Vietnam ke Amerika dan Eropa sudah 0%,&amp;rdquo; tuturnya seperti dikutip Harian Neraca, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Kesulitan Bahan Baku, Pengusaha Tekstil Minta Pembenahan Produsen Kain
Lebih lanjut, Kemenperin terus berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk mengatasi impor ilegal produk TPT dalam bentuk borongan. &amp;ldquo;Kami juga akan perhatikan dan ada tindakan tegas untuk impor baju bekas yang masuk melalui pelabuhan tikus,&amp;rdquo; imbuhnya.

Industri TPT menorehkan kinerja yang gemilang pada triwulan I tahun 2019. Sepanjang tiga bulan tersebut, pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi tercatat paling tinggi dengan mencapai 18,98%. Jumlahnya naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu di angka 7,46% dan juga meningkat dari perolehan selama 2018 sebesar 8,73%.
&amp;nbsp;Baca Juga: Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Tumbuh 3,6%
Sebelumnya, industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional. Pada periode Januari-Mei 2019, sektor manufaktur mampu mengapalkan produk-produk unggulannya hingga mencapai USD51,06 miliar atau menyumbang 74,59% pada total nilai ekspor nasional.

&amp;ldquo;Secara volume, ekspor industri manufaktur kita mengalami peningkatan 9,8% dari Januari-Mei 2019 dibanding periode yang sama tahun lalu. Selama ini industri manufaktur masih konsisten menjadi kontributor terbesar pada nilai ekspor kita,&amp;rdquo; kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.
Menperin menyebutkan, beberapa sektor manufaktur yang berperan besar  terhadap capaian ekspor pada lima bulan pertama tahun ini, di antaranya  industri makanan yang menembus USD10,56 miliar, disusul industri logam  dasar USD6,52 miliar, serta industri bahan kimia dan barang dari bahan  kimia USD5,38 miliar.

&amp;ldquo;Industri makanan menyumbang 20,69 persen dari total ekspor industri  pengolahan pada Januari-Mei 2019,&amp;rdquo; ungkapnya. Kemudian, industri pakaian  jadi menyetor nilai ekspor sekitar USD3,55 miliar serta industri kertas  dan barang dari kertas USD3 miliar.

&amp;ldquo;Pemerintah terus mendorong peningkatan investasi dan ekspansi di  sektor industri. Jadi, kapasitas produksi meningkat, selain untuk  memenuhi kebutuhan pasar domestik, juga bisa mengisi pasar ekspor,&amp;rdquo;  tuturnya.

Beberapa negara tujuan utama ekspor produk manufaktur nasional,  antara lain Amerika Serikat, China, Jepang, Singapura, dan India.

Airlangga juga mengungkapkan, pemerintah gencar menarik investasi  sektor industri yang dapat menghasilkan produk substitusi impor. Langkah  tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan defisit  neraca perdagangan.

&amp;ldquo;Bapak Presiden Joko Widodo telah menunjukkan komitmennya dalam  menjaga iklim usaha yang kondusif di Indonesia. Wujud nyatanya antara  lain memberikan kemudahan dalam perizinan usaha, menjaga ketersediaan  bahan baku dan energi, serta telah menerbitkan kebijakan insentif fiskal  untuk memacu industri terlibat dalam kegiatan vokasi dan litbang,&amp;rdquo;  paparnya.

Guna lebih mendobrak pasar ekspor, Kemenperin telah memiliki peta  jalan Making Indonesia 4.0, yang mendorong industri manufaktur nasional  agar memanfaatkan teknologi industri 4.0. Peta jalan tersebut memacu  inovasi produk yang berkualitas sehingga meningkatkan daya saing produk  nasional di pasar global.

Dalam upaya menggenjot investasi dan ekspor, pemerintah berkomitmen  untuk terus menciptakan iklim bisnis yang kondusif dan memberikan  kemudahan perizinan usaha. Langkah strategis yang telah dilakukan,  antara lain pemberian insentif fiskal, penerapan online single  submission (OSS), serta pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan  vokasi.

Di tengah kondisi perlambatan ekonomi di tingkat global, Kemenperin  optimistis memasang target pertumbuhan industri nonmigas sebesar 5,4%  pada tahun 2019. Adapun sektor-sektor yang diproyeksikan tumbuh tinggi,  di antaranya industri makanan dan minuman (9,86%), permesinan (7%),  tekstil dan pakaian jadi (5,61%), serta kulit barang dari kulit dan alas  kaki (5,40%).</content:encoded></item></channel></rss>
