<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kredit BCA Tumbuh 11,5% Setara Rp565,2 Triliun di Semester I-2019</title><description>Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan, kredit korporasi memberikan porsi terbesar dengan tumbuh 14,6% yoy</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083159/kredit-bca-tumbuh-11-5-setara-rp565-2-triliun-di-semester-i-2019</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083159/kredit-bca-tumbuh-11-5-setara-rp565-2-triliun-di-semester-i-2019"/><item><title>Kredit BCA Tumbuh 11,5% Setara Rp565,2 Triliun di Semester I-2019</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083159/kredit-bca-tumbuh-11-5-setara-rp565-2-triliun-di-semester-i-2019</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083159/kredit-bca-tumbuh-11-5-setara-rp565-2-triliun-di-semester-i-2019</guid><pubDate>Rabu 24 Juli 2019 19:12 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/24/320/2083159/kredit-bca-tumbuh-11-5-setara-rp565-2-triliun-di-semester-i-2019-JdvzdlIbnC.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Penyampaian Kinerja BCA Sepanjang Semester I-2019</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/24/320/2083159/kredit-bca-tumbuh-11-5-setara-rp565-2-triliun-di-semester-i-2019-JdvzdlIbnC.jpeg</image><title>Foto: Penyampaian Kinerja BCA Sepanjang Semester I-2019</title></images><description>JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp565,2 triliun sepanjang semester I-2019. Realisasi ini tumbuh 11,5% (year on year/yoy) dari posisi periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp481 triliun.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan, kredit korporasi memberikan porsi terbesar dengan tumbuh 14,6% yoy menjadi Rp219,1 triliun. Kemudian kredit komersial dan UKM tercatat sebesar Rp189,2 triliun atau tumbuh 12,5% yoy.
&quot;Sementara kredit konsumer meningkat 6,4% yoy menjadi Rp152,0 triliun,&quot; ungkapnya dalam konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Baca Juga: Laba Bersih BCA Rp12,9 Triliun pada Semester I-2019, Naik 12%
Kredit konsumer tersebut berasal dari  kredit beragun properti yang tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp90,7 triliun. Sebaliknya, kredit kendaraan bermotor turun 1,5% yoy menjadi Rp48,2 triliun, yang dipengaruhi oleh penurunan pembiayaan kendaraan roda dua.
Sementara itu, saldo outstanding kartu kredit tumbuh 6,0% yoy menjadi Rp13,1 triliun pada Juni 2019. Di periode yang sama, pembiayaan Syariah meningkat 4,3% yoy menjadi Rp4,9 triliun.
Jahja menyatakan, dalam hal penyaluran kredit pihaknya akan lebih berhati-hati, sebab harus memperhitungkan likuiditas. Sebab, dengan adanya penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 25 bps ke 6,75% maka berpotensi akan terjadinya penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Baca Juga: RUPSLB, BCA Sepakat Akuisisi Bank Royal Indonesia
Di samping itu, juga perlu memperhitungkan risiko ketika saat ini juga terdapat beberapa obligasi (bonds) yang mengalami gagal bayar (default).
&quot;Jujur yang sekarang ini berat bukan penyaluran kredit, karena melepas kredit itu mungkin lebih gampang. Tetapi ini memang harus hati-hati sekali. Kita mengetahui beberapa bonds di market itu kelihatannya default. Karena yang butuh kredit pasti banyak, tapi yang betul-betul bisa menggunakan dana secara optimal untuk bisnis dan berkembang, serta bisa mengembalikan, itu yang enggak gampang,&quot; jelasnya.Hingga paruh pertama tahun 2019, BCA mencatatkan pertumbuhan Dana  Pihak Ketiga (DPK) sebesar 8,6% yoy menjadi Rp673,9 triliun. Di mana  dana murah (CASA) yakni giro dan tabungan tumbuh 5,9% yoy menjadi  Rp510,4 triliun, dengan porsi sebesar 75,7% dari total DPK. Sementara  dari dana deposito meningkat 18,1% yoy menjadi Rp163,5 triliun.
Adapun untuk rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dan  kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposits ratio/LDR) pada  level masing-masing sebesar 23,6% dan 79,0%. Rasio kredit bermasalah  (non performing loan/NPL) juga tercatat berada pada level yang dinilai  dapat ditoleransi, yakni sebesar 1,4%.
Sedangkan rasio cadangan terhadap kredit bermasalah (loan loss  coverage) berada pada level yang memadai sebesar 183,7%. Rasio  pengembalian terhadap aset (return on asset/ROA) sebesar 3,7%.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp565,2 triliun sepanjang semester I-2019. Realisasi ini tumbuh 11,5% (year on year/yoy) dari posisi periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp481 triliun.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan, kredit korporasi memberikan porsi terbesar dengan tumbuh 14,6% yoy menjadi Rp219,1 triliun. Kemudian kredit komersial dan UKM tercatat sebesar Rp189,2 triliun atau tumbuh 12,5% yoy.
&quot;Sementara kredit konsumer meningkat 6,4% yoy menjadi Rp152,0 triliun,&quot; ungkapnya dalam konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Baca Juga: Laba Bersih BCA Rp12,9 Triliun pada Semester I-2019, Naik 12%
Kredit konsumer tersebut berasal dari  kredit beragun properti yang tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp90,7 triliun. Sebaliknya, kredit kendaraan bermotor turun 1,5% yoy menjadi Rp48,2 triliun, yang dipengaruhi oleh penurunan pembiayaan kendaraan roda dua.
Sementara itu, saldo outstanding kartu kredit tumbuh 6,0% yoy menjadi Rp13,1 triliun pada Juni 2019. Di periode yang sama, pembiayaan Syariah meningkat 4,3% yoy menjadi Rp4,9 triliun.
Jahja menyatakan, dalam hal penyaluran kredit pihaknya akan lebih berhati-hati, sebab harus memperhitungkan likuiditas. Sebab, dengan adanya penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 25 bps ke 6,75% maka berpotensi akan terjadinya penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Baca Juga: RUPSLB, BCA Sepakat Akuisisi Bank Royal Indonesia
Di samping itu, juga perlu memperhitungkan risiko ketika saat ini juga terdapat beberapa obligasi (bonds) yang mengalami gagal bayar (default).
&quot;Jujur yang sekarang ini berat bukan penyaluran kredit, karena melepas kredit itu mungkin lebih gampang. Tetapi ini memang harus hati-hati sekali. Kita mengetahui beberapa bonds di market itu kelihatannya default. Karena yang butuh kredit pasti banyak, tapi yang betul-betul bisa menggunakan dana secara optimal untuk bisnis dan berkembang, serta bisa mengembalikan, itu yang enggak gampang,&quot; jelasnya.Hingga paruh pertama tahun 2019, BCA mencatatkan pertumbuhan Dana  Pihak Ketiga (DPK) sebesar 8,6% yoy menjadi Rp673,9 triliun. Di mana  dana murah (CASA) yakni giro dan tabungan tumbuh 5,9% yoy menjadi  Rp510,4 triliun, dengan porsi sebesar 75,7% dari total DPK. Sementara  dari dana deposito meningkat 18,1% yoy menjadi Rp163,5 triliun.
Adapun untuk rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dan  kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposits ratio/LDR) pada  level masing-masing sebesar 23,6% dan 79,0%. Rasio kredit bermasalah  (non performing loan/NPL) juga tercatat berada pada level yang dinilai  dapat ditoleransi, yakni sebesar 1,4%.
Sedangkan rasio cadangan terhadap kredit bermasalah (loan loss  coverage) berada pada level yang memadai sebesar 183,7%. Rasio  pengembalian terhadap aset (return on asset/ROA) sebesar 3,7%.</content:encoded></item></channel></rss>
