<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Suku Bunga BI Turun, Bos BCA: Kredit Tidak Harus Digenjot   </title><description>Jahja Setiaatmadja menilai, meski suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) turun, bukan berarti penyaluran kredit bisa digenjot</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083226/suku-bunga-bi-turun-bos-bca-kredit-tidak-harus-digenjot</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083226/suku-bunga-bi-turun-bos-bca-kredit-tidak-harus-digenjot"/><item><title>Suku Bunga BI Turun, Bos BCA: Kredit Tidak Harus Digenjot   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083226/suku-bunga-bi-turun-bos-bca-kredit-tidak-harus-digenjot</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083226/suku-bunga-bi-turun-bos-bca-kredit-tidak-harus-digenjot</guid><pubDate>Rabu 24 Juli 2019 21:24 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/24/320/2083226/suku-bunga-bi-turun-bos-bca-kredit-tidak-harus-digenjot-kuXy1DxK39.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/24/320/2083226/suku-bunga-bi-turun-bos-bca-kredit-tidak-harus-digenjot-kuXy1DxK39.jpg</image><title>Grafik Ekonomi (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja menilai, meski suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) turun, bukan berarti penyaluran kredit bisa digenjot. Sehingga penurunan suku bunga tidak serta merta bisa menaikkan performa kredit perbankan.
&quot;Enggak bisa suku bunga turun, terus penyaluran kredit naik. Enggak begitu rumusnya. Bunga turun, yes, kita akan ikut turun kalau cost of fund-nya kita bisa kita turunkan. Karena itu akan perform lebih baik,&amp;rdquo; ujar Jahja dalam konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Jahja menjelaskan, performa kredit berbeda dengan deposito. Jika bunga deposito mengalami kenaikan, yang kemudian direspons banyak nasabah menginginkan membuka deposito, maka bank tak bisa menolak permintaan tersebut.
Baca Juga: Kata Bos BCA Soal Gagal Bayar Duniatex
Namun berbeda halnya ketika suku bunga  kredit mengalami penurunan. Jika pada akhirnya banyak nasabah yang datang mengajukan kredit, bukan berarti bank akan menerima. Bank bisa saja menolak permintaan tersebut dengan berbagai penilaiannya.
&amp;ldquo;Misalnya, bila ada nasabah datang minta kredit Rp100 miliar tambahan, BCA bisa bilang enggak dong. Enggak harus kita menggelontorkan kredit. Enggak menggenjot kredit sesuai permintaan. Itu bedanya,&amp;rdquo; jelas Jahja.
Baca Juga: Duniatex Terancam Gagal Bayar, OJK Pelototi Risiko Kredit Macet Bank
Oleh sebab itu, dia menekankan, credit assessment merupakan tahapan penting dalam pengajuan kredit. Sebab, keputuhan akhir tetap akan ada di pihak perbankan.
&quot;Tetap saja final descision di bank. Kan enggak semua KPR bisa disetujui, tetap perlu lihat lokasi, ada surat gaji apa enggak. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum kita oke. Jadi bunga turun, tapi enggak serta merta genjot kredit,&amp;rdquo; ungkapnya.Seperti diketahui, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25  basis poin (bps) menjadi 5,75% dari level 6%. Pelonggaran kebijakan  moneter ini  memang diharapkan bisa meningkatkan penyaluran kredit  sehingga mendongkrak pertumbuhan kredit.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan kembali merevisi pertumbuhan  kredit bisa mencapai 13% secara tahunan (year on year/yoy) di 2019,  dengan rentang 11%-13%. Setelah pada bulan Juni 2019 sempat merevisi ke  bawah target pertumbuhan kredit perbankan menjadi 9% - 11% yoy hingga  akhir tahun.
&quot;BI sudah melonggarkan giro wajib minimum dan menurunkan suku bunga.  Ini adalah amunisi yang bagus untuk kita tetap optimis dengan  pertumbuhan kredit di akhir tahun. Kemarin kami pesimis karena memang  belum ada tanda pelonggaran (kebijakan moneter),&quot; ujar Ketua Dewan  Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam konferensi pers di Kantor OJK, Rabu  (24/7/2019).</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja menilai, meski suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) turun, bukan berarti penyaluran kredit bisa digenjot. Sehingga penurunan suku bunga tidak serta merta bisa menaikkan performa kredit perbankan.
&quot;Enggak bisa suku bunga turun, terus penyaluran kredit naik. Enggak begitu rumusnya. Bunga turun, yes, kita akan ikut turun kalau cost of fund-nya kita bisa kita turunkan. Karena itu akan perform lebih baik,&amp;rdquo; ujar Jahja dalam konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Jahja menjelaskan, performa kredit berbeda dengan deposito. Jika bunga deposito mengalami kenaikan, yang kemudian direspons banyak nasabah menginginkan membuka deposito, maka bank tak bisa menolak permintaan tersebut.
Baca Juga: Kata Bos BCA Soal Gagal Bayar Duniatex
Namun berbeda halnya ketika suku bunga  kredit mengalami penurunan. Jika pada akhirnya banyak nasabah yang datang mengajukan kredit, bukan berarti bank akan menerima. Bank bisa saja menolak permintaan tersebut dengan berbagai penilaiannya.
&amp;ldquo;Misalnya, bila ada nasabah datang minta kredit Rp100 miliar tambahan, BCA bisa bilang enggak dong. Enggak harus kita menggelontorkan kredit. Enggak menggenjot kredit sesuai permintaan. Itu bedanya,&amp;rdquo; jelas Jahja.
Baca Juga: Duniatex Terancam Gagal Bayar, OJK Pelototi Risiko Kredit Macet Bank
Oleh sebab itu, dia menekankan, credit assessment merupakan tahapan penting dalam pengajuan kredit. Sebab, keputuhan akhir tetap akan ada di pihak perbankan.
&quot;Tetap saja final descision di bank. Kan enggak semua KPR bisa disetujui, tetap perlu lihat lokasi, ada surat gaji apa enggak. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum kita oke. Jadi bunga turun, tapi enggak serta merta genjot kredit,&amp;rdquo; ungkapnya.Seperti diketahui, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25  basis poin (bps) menjadi 5,75% dari level 6%. Pelonggaran kebijakan  moneter ini  memang diharapkan bisa meningkatkan penyaluran kredit  sehingga mendongkrak pertumbuhan kredit.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan kembali merevisi pertumbuhan  kredit bisa mencapai 13% secara tahunan (year on year/yoy) di 2019,  dengan rentang 11%-13%. Setelah pada bulan Juni 2019 sempat merevisi ke  bawah target pertumbuhan kredit perbankan menjadi 9% - 11% yoy hingga  akhir tahun.
&quot;BI sudah melonggarkan giro wajib minimum dan menurunkan suku bunga.  Ini adalah amunisi yang bagus untuk kita tetap optimis dengan  pertumbuhan kredit di akhir tahun. Kemarin kami pesimis karena memang  belum ada tanda pelonggaran (kebijakan moneter),&quot; ujar Ketua Dewan  Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam konferensi pers di Kantor OJK, Rabu  (24/7/2019).</content:encoded></item></channel></rss>
