<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Curhat Garuda Rugi Rp5 Triliun dalam 2 Tahun Gara-Gara Tiket</title><description>Menurut Pikri, struktur biaya yang diterapkan Garuda sudah tidak bisa ditanggung dengan harga tiket yang telah dilempar ke pasar</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083233/curhat-garuda-rugi-rp5-triliun-dalam-2-tahun-gara-gara-tiket</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083233/curhat-garuda-rugi-rp5-triliun-dalam-2-tahun-gara-gara-tiket"/><item><title>Curhat Garuda Rugi Rp5 Triliun dalam 2 Tahun Gara-Gara Tiket</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083233/curhat-garuda-rugi-rp5-triliun-dalam-2-tahun-gara-gara-tiket</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/24/320/2083233/curhat-garuda-rugi-rp5-triliun-dalam-2-tahun-gara-gara-tiket</guid><pubDate>Rabu 24 Juli 2019 22:07 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/24/320/2083233/curhat-garuda-rugi-rp5-triliun-dalam-2-tahun-gara-gara-tiket-t7M3XIwdzm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Pesawat Garuda Indonesia (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/24/320/2083233/curhat-garuda-rugi-rp5-triliun-dalam-2-tahun-gara-gara-tiket-t7M3XIwdzm.jpg</image><title>Foto: Pesawat Garuda Indonesia (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyoroti mahalnya harga tiket pesawat. Bahkan, DPR mempertanyakan mengapa tiket yang dijual mahal, justru membuat maskapai seperti Garuda Indonesia merugi.
Direktur Niaga PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Pikri Ilham menerangkan, pada saat ini kondisi perusahaan memang masih merugi. Kerugian tersebut terjadi dalam beberapa tahun ini.
Sebagai gambaran pada 2017, Garuda mengalami kerugian sekira Rp3 triliun. Namun bersyukur pada September 2018, kerugian perseroan berhasil dipangkas menjadi Rp1,6 triliun.
&quot;Jadi dalam dua tahun hampir rugi Rp5 triliun,&quot; ujarnya di Gedung DPR-RI, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Baca Juga: Wacana Diskon Tiket Pesawat Setiap Hari, Begini Persiapan AP I
Menurut Pikri, struktur biaya yang diterapkan Garuda sudah tidak bisa ditanggung dengan harga tiket yang telah dilempar ke pasar. Oleh karena itu, pihaknya terpaksa untuk mencari cara lain  agar kerugian ini berkurang.
&quot;Memang struktur biaya tidak bisa dicover dengan harga yang dilempar pasar kemarin. Sehingga mau tidak mau mencari jalan agar kerugian ini setidak-tidaknya berkurang,&quot; jelasnya.
Baca Juga: Jangan Ditutupi, Lion-Citilink Diminta Transparan soal Tiket Penerbangan Murah
Pikri melanjutkan, salah satunya upaya yang dilakukan dengan menjual tiket yang agak sedikit mahal. Namun dirinya meyakinkan jika tarif yang ditetapkan tidak lebih dari batas atas yang dipatok pemerintah.
&quot;Itulah yang menjadi dasar penetapan ini. Bagaimana menutup, agar tidak usah untung katakan, hanya Rp1 hanya BEP (break even point). Kalau kita lihat temuan BPK laporan keuangan kita memang dinilai BPK bahwa kita menjual harga tidak sesuai HPP (harga pokok penjualan), ini yang kita evaluasi dan kita lakukan penyesuaian harga jual kita,&quot; jelasnya.Sementara itu, dalam kesempatan berbeda Managing Director of Lion Air  Group Daniel Putut mengatakan, komponen harga tiket bukan hanya tarif  batas melainkan ada pajak, asuransi, dan airport tax. Artinya untuk  menjual tiket murah harus ada penyesuaian dengan harga harga di atas.
&quot;Kalau ilustrasi Bandara Soekarno Hatta Terminal 2 domestik,  seandainya tiket kami Rp800 ribu, PPN Rp80 ribu, IWJR tambah PSC Rp85  ribu sehingga total Rp970 ribu,&quot; ungkapnya.
Menurutnya, beban Lion Air meningkat terutama sejak dolar menguat  mulai tahun 2013. Apalagi, biaya komponen Lion Air sebagian menggunakan  mata uang asing.
&quot;Memang asal muasal sejak 2013 dolar angka tidak save bagi industri,  save margin di Rp11 ribu, sejak 2013 (dolar) Rp13 ribu, Rp14 ribu, Rp15  ribu. Semua komponen cost yang menggunakan mata uang asing masih 50%,  paling tinggi di pesawatnya sendiri,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyoroti mahalnya harga tiket pesawat. Bahkan, DPR mempertanyakan mengapa tiket yang dijual mahal, justru membuat maskapai seperti Garuda Indonesia merugi.
Direktur Niaga PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Pikri Ilham menerangkan, pada saat ini kondisi perusahaan memang masih merugi. Kerugian tersebut terjadi dalam beberapa tahun ini.
Sebagai gambaran pada 2017, Garuda mengalami kerugian sekira Rp3 triliun. Namun bersyukur pada September 2018, kerugian perseroan berhasil dipangkas menjadi Rp1,6 triliun.
&quot;Jadi dalam dua tahun hampir rugi Rp5 triliun,&quot; ujarnya di Gedung DPR-RI, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Baca Juga: Wacana Diskon Tiket Pesawat Setiap Hari, Begini Persiapan AP I
Menurut Pikri, struktur biaya yang diterapkan Garuda sudah tidak bisa ditanggung dengan harga tiket yang telah dilempar ke pasar. Oleh karena itu, pihaknya terpaksa untuk mencari cara lain  agar kerugian ini berkurang.
&quot;Memang struktur biaya tidak bisa dicover dengan harga yang dilempar pasar kemarin. Sehingga mau tidak mau mencari jalan agar kerugian ini setidak-tidaknya berkurang,&quot; jelasnya.
Baca Juga: Jangan Ditutupi, Lion-Citilink Diminta Transparan soal Tiket Penerbangan Murah
Pikri melanjutkan, salah satunya upaya yang dilakukan dengan menjual tiket yang agak sedikit mahal. Namun dirinya meyakinkan jika tarif yang ditetapkan tidak lebih dari batas atas yang dipatok pemerintah.
&quot;Itulah yang menjadi dasar penetapan ini. Bagaimana menutup, agar tidak usah untung katakan, hanya Rp1 hanya BEP (break even point). Kalau kita lihat temuan BPK laporan keuangan kita memang dinilai BPK bahwa kita menjual harga tidak sesuai HPP (harga pokok penjualan), ini yang kita evaluasi dan kita lakukan penyesuaian harga jual kita,&quot; jelasnya.Sementara itu, dalam kesempatan berbeda Managing Director of Lion Air  Group Daniel Putut mengatakan, komponen harga tiket bukan hanya tarif  batas melainkan ada pajak, asuransi, dan airport tax. Artinya untuk  menjual tiket murah harus ada penyesuaian dengan harga harga di atas.
&quot;Kalau ilustrasi Bandara Soekarno Hatta Terminal 2 domestik,  seandainya tiket kami Rp800 ribu, PPN Rp80 ribu, IWJR tambah PSC Rp85  ribu sehingga total Rp970 ribu,&quot; ungkapnya.
Menurutnya, beban Lion Air meningkat terutama sejak dolar menguat  mulai tahun 2013. Apalagi, biaya komponen Lion Air sebagian menggunakan  mata uang asing.
&quot;Memang asal muasal sejak 2013 dolar angka tidak save bagi industri,  save margin di Rp11 ribu, sejak 2013 (dolar) Rp13 ribu, Rp14 ribu, Rp15  ribu. Semua komponen cost yang menggunakan mata uang asing masih 50%,  paling tinggi di pesawatnya sendiri,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
