<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produksi Emas Freeport Anjlok 76% Pasca-Dicaplok Indonesia</title><description>PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat sepanjang semester I/2019 produksi maupun penjualan tembaga dan emas mengalami penurunan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/25/320/2083558/produksi-emas-freeport-anjlok-76-pasca-dicaplok-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/25/320/2083558/produksi-emas-freeport-anjlok-76-pasca-dicaplok-indonesia"/><item><title>Produksi Emas Freeport Anjlok 76% Pasca-Dicaplok Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/25/320/2083558/produksi-emas-freeport-anjlok-76-pasca-dicaplok-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/25/320/2083558/produksi-emas-freeport-anjlok-76-pasca-dicaplok-indonesia</guid><pubDate>Kamis 25 Juli 2019 17:54 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/25/320/2083558/produksi-emas-freeport-anjlok-76-pasca-dicaplok-indonesia-Nbka0RjWvR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/25/320/2083558/produksi-emas-freeport-anjlok-76-pasca-dicaplok-indonesia-Nbka0RjWvR.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description>JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat sepanjang semester I/2019 produksi maupun penjualan tembaga dan emas mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan kinerja Freeport-McMoran (FCX) pada semester I tahun 2019, tercatat produksi tembaga tercatat sebesar 270 juta pounds atau turun 58,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 658 juta pounds.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bangun Smelter, Freeport Sewa Lahan 5 Tahun
Penurunan produksi tersebut berakibat turunnya penjualan tembaga PTFI. Sementara sampai Juni 2019, penjualan tembaga PTFI juga menyusut 48,81% sebesar 325 juta pounds dibandingkan periode yang sama tahun lalu di mana mampu menjual 635 juta pounds tembaga.
Tren lebih rendah juga terjadi pada produksi emas Freeport, di mana hingga periode Juni 2019 tercatat produksi emas turun mencapai 76,32% yaitu sebesar 316.000 ounces dibandingkan pada Juni 2018 mencapai 1,33 juta ounces. Kendati demikian Chief Executive Officer (CE0) Freeport-McMoRan Inc. Richard C. Adkerson mengatakan, penjualan tahun ini PTFI masih menunjukkan kinerja positif.
&amp;nbsp;Baca Juga: Freeport Cari Utang untuk Bangun Smelter, Simak Fakta Menariknya
Pihaknya memperkirakan penjualan tembaga sepanjang tahun ini sebanyak 630 juta pounds dan emas sebanyak 800.000 ounces. Penurunan produksi tersebut disebabkan masa transisi operasional pertambangan bawah tanah. Namun begitu, FCX beranggapan masa transisi operasional pertambangan bawah tanah masih mencatatkan kinerja positif.
&amp;ldquo;Kami melaporkan bahwa ramp-up bawah tanah di Grasberg maju sesuai rencana, karena kami menargetkan peningkatan volume dan arus kas dari Grasberg distrik mineral,&amp;rdquo; kata Adkerson seperti dikutip Sindonews, Jakarta, Kamis (25/7/2019).
Selama kuartal II/2019, kegiatan ekstraksi bijih di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave rata-rata mencapai 7.400 metrik ton bijih per hari. FCX menargetkan, proses tersebut ditargetkan bisa meningkat hingga 15.000 metrik ton bijih per hari pada akhir 2019.
&amp;nbsp;Sedangkan tambang bawah tanah Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang  terletak di sebelah timur blok Grasberg telah memulai produksi.  Ekstraksi bijih dari tambang bawah tanah DMLZ rata-rata mencapai 7.700  metrik ton bjih per hari pada kuartal II/2019.
Diperkirakan, ekstraksi bijih dari tambang bawah tanah DMLZ kan  meningkat hingga 11.000 metrik ton bijih per hari pada akhir tahun  2019.&amp;ldquo;Seiring transisi dari tambang terbuka ke bawah tanah, produksi  logam diharapkan meningkat pada 2021,&amp;rdquo; imbuh Adkerson.
Dalam laporan tersebut disebutkan, rata-rata pengeluaran modal  tahunan PTFI untuk proyek pengembangan tambang bawah tanah diperkirakan  mencapai USD0,7 miliar per tahun untuk periode empat tahun dari 2019  hingga 2022. Adapun, selama paruh pertama tahun 2019, PTFI menggunakan  kuota ekspor yang disetujui sekitar 180.000 metrik ton konsentrat untuk  periode ekspor saat ini yang berakhir pada 8 Maret 2020.
Dengan volume produksi yang diperkirakan lebih tinggi, PTFI juga  sudah meminta persetujuan dari pemerintah untuk meningkatkan kuota  ekspornya pada periode saat ini. PTFI berharap sudah bisa menerima  persetujuan tambahan kuota ekspor pada kuartal III/2019.
Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba)  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono  menandaskan bahwa permintaan persetujuan tambahan ekspor dari PTFI masih  dalam proses evaluasi. &amp;ldquo;Ini sedang diproses dan di evaluasi,&amp;rdquo;  tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat sepanjang semester I/2019 produksi maupun penjualan tembaga dan emas mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan kinerja Freeport-McMoran (FCX) pada semester I tahun 2019, tercatat produksi tembaga tercatat sebesar 270 juta pounds atau turun 58,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 658 juta pounds.
&amp;nbsp;Baca Juga: Bangun Smelter, Freeport Sewa Lahan 5 Tahun
Penurunan produksi tersebut berakibat turunnya penjualan tembaga PTFI. Sementara sampai Juni 2019, penjualan tembaga PTFI juga menyusut 48,81% sebesar 325 juta pounds dibandingkan periode yang sama tahun lalu di mana mampu menjual 635 juta pounds tembaga.
Tren lebih rendah juga terjadi pada produksi emas Freeport, di mana hingga periode Juni 2019 tercatat produksi emas turun mencapai 76,32% yaitu sebesar 316.000 ounces dibandingkan pada Juni 2018 mencapai 1,33 juta ounces. Kendati demikian Chief Executive Officer (CE0) Freeport-McMoRan Inc. Richard C. Adkerson mengatakan, penjualan tahun ini PTFI masih menunjukkan kinerja positif.
&amp;nbsp;Baca Juga: Freeport Cari Utang untuk Bangun Smelter, Simak Fakta Menariknya
Pihaknya memperkirakan penjualan tembaga sepanjang tahun ini sebanyak 630 juta pounds dan emas sebanyak 800.000 ounces. Penurunan produksi tersebut disebabkan masa transisi operasional pertambangan bawah tanah. Namun begitu, FCX beranggapan masa transisi operasional pertambangan bawah tanah masih mencatatkan kinerja positif.
&amp;ldquo;Kami melaporkan bahwa ramp-up bawah tanah di Grasberg maju sesuai rencana, karena kami menargetkan peningkatan volume dan arus kas dari Grasberg distrik mineral,&amp;rdquo; kata Adkerson seperti dikutip Sindonews, Jakarta, Kamis (25/7/2019).
Selama kuartal II/2019, kegiatan ekstraksi bijih di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave rata-rata mencapai 7.400 metrik ton bijih per hari. FCX menargetkan, proses tersebut ditargetkan bisa meningkat hingga 15.000 metrik ton bijih per hari pada akhir 2019.
&amp;nbsp;Sedangkan tambang bawah tanah Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang  terletak di sebelah timur blok Grasberg telah memulai produksi.  Ekstraksi bijih dari tambang bawah tanah DMLZ rata-rata mencapai 7.700  metrik ton bjih per hari pada kuartal II/2019.
Diperkirakan, ekstraksi bijih dari tambang bawah tanah DMLZ kan  meningkat hingga 11.000 metrik ton bijih per hari pada akhir tahun  2019.&amp;ldquo;Seiring transisi dari tambang terbuka ke bawah tanah, produksi  logam diharapkan meningkat pada 2021,&amp;rdquo; imbuh Adkerson.
Dalam laporan tersebut disebutkan, rata-rata pengeluaran modal  tahunan PTFI untuk proyek pengembangan tambang bawah tanah diperkirakan  mencapai USD0,7 miliar per tahun untuk periode empat tahun dari 2019  hingga 2022. Adapun, selama paruh pertama tahun 2019, PTFI menggunakan  kuota ekspor yang disetujui sekitar 180.000 metrik ton konsentrat untuk  periode ekspor saat ini yang berakhir pada 8 Maret 2020.
Dengan volume produksi yang diperkirakan lebih tinggi, PTFI juga  sudah meminta persetujuan dari pemerintah untuk meningkatkan kuota  ekspornya pada periode saat ini. PTFI berharap sudah bisa menerima  persetujuan tambahan kuota ekspor pada kuartal III/2019.
Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba)  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono  menandaskan bahwa permintaan persetujuan tambahan ekspor dari PTFI masih  dalam proses evaluasi. &amp;ldquo;Ini sedang diproses dan di evaluasi,&amp;rdquo;  tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
