<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Global Melambat, Pasar Saham Indonesia Masih Menarik</title><description>Pasar saham dan obligasi Indonesia masih menarik meskipun ekonomi global melambat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/26/278/2083821/ekonomi-global-melambat-pasar-saham-indonesia-masih-menarik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/26/278/2083821/ekonomi-global-melambat-pasar-saham-indonesia-masih-menarik"/><item><title>Ekonomi Global Melambat, Pasar Saham Indonesia Masih Menarik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/26/278/2083821/ekonomi-global-melambat-pasar-saham-indonesia-masih-menarik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/26/278/2083821/ekonomi-global-melambat-pasar-saham-indonesia-masih-menarik</guid><pubDate>Jum'at 26 Juli 2019 13:35 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/26/278/2083821/ekonomi-global-melambat-pasar-saham-indonesia-masih-menarik-FmwKexYTY8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Pergerakan IHSG (Foto Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/26/278/2083821/ekonomi-global-melambat-pasar-saham-indonesia-masih-menarik-FmwKexYTY8.jpg</image><title>Ilustrasi: Pergerakan IHSG (Foto Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pasar saham dan obligasi Indonesia masih menarik meskipun ekonomi global melambat saat ini, kata Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dimas Ardhinugraha.
&quot;Pasar saham dan obligasi Indonesia masih menawarkan potensi investasi yang sangat menarik, walaupun kondisi global saat ini masih dipenuhi oleh berbagai dinamika yang ada,&quot; ujar Dimas seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Jumat (26/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Pemerintah Cabut PP No 46/1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Pasar Modal
Menurut Dimas, di tengah pelambatan ekonomi global yang terjadi saat ini, Indonesia lebih terlindungi karena struktur ekonomi Indonesia tidak tergantung kepada ekspor.
&quot;Berbeda dengan negara tetangga kita yang sangat mengandalkan ekspor untuk pertumbuhan ekonominya,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Waktu yang Tepat untuk Tanam Modal di Pasar Keuangan
Kemudian, faktor berikutnya adalah potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Jadi tidak hanya bank sentral global saja yang berencana menurunkan suku bunga tahun ini, ia juga melihat potensi bahwa di tahun ini Bank Indonesia akan mulai menurunkan suku bunganya.Tahun lalu Bank Indonesia sangat agresif menaikkan suku bunga hingga  enam kali untuk menjaga stabilitas rupiah dan juga untuk mengikuti  kenaikan suku bunga yang terjadi AS. Tahun ini rupiah sudah bergerak di  level yang stabil.
&quot;Bank sentral AS juga berencana menurunkan suku bunganya, oleh karena  itu kita melihat potensi bahwa Bank Indonesia juga ikut bergerak  menurunkan suku bunganya. Ini dapat menjadi hal positif bagi pasar saham  dan obligasi di Indonesia,&quot; ujar Dimas.
Selain itu, pengelolaan fiskal dan moneter di Indonesia sangat baik.  Hal ini diafirmasi oleh lembaga pemeringkat Standard &amp;amp; Poor's  (S&amp;amp;P) dimana baru-baru ini menaikkan rating Indonesia menjadi BBB.  Hal ini mengindikasikan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia  dan juga pengelolaan fiskal dan moneternya.
Ini pencapaian yang positif, karena ditengah pelambatan ekonomi  global, beberapa negara lain justru mendapatkan rating &quot;downgrade&quot;. Di  negara seperti Brasil, Turki dan Meksiko, peringkatnya cenderung turun,  sementara sebaliknya, Indonesia mendapat kenaikan.
&quot;Ini merupakan pencapaian yang sangat positif. Oleh karena itu kami  tetap positif terhadap outlook ekonomi Indonesia ke depannya,&quot; kata  Dimas.</description><content:encoded>JAKARTA - Pasar saham dan obligasi Indonesia masih menarik meskipun ekonomi global melambat saat ini, kata Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dimas Ardhinugraha.
&quot;Pasar saham dan obligasi Indonesia masih menawarkan potensi investasi yang sangat menarik, walaupun kondisi global saat ini masih dipenuhi oleh berbagai dinamika yang ada,&quot; ujar Dimas seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Jumat (26/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Pemerintah Cabut PP No 46/1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Pasar Modal
Menurut Dimas, di tengah pelambatan ekonomi global yang terjadi saat ini, Indonesia lebih terlindungi karena struktur ekonomi Indonesia tidak tergantung kepada ekspor.
&quot;Berbeda dengan negara tetangga kita yang sangat mengandalkan ekspor untuk pertumbuhan ekonominya,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Waktu yang Tepat untuk Tanam Modal di Pasar Keuangan
Kemudian, faktor berikutnya adalah potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Jadi tidak hanya bank sentral global saja yang berencana menurunkan suku bunga tahun ini, ia juga melihat potensi bahwa di tahun ini Bank Indonesia akan mulai menurunkan suku bunganya.Tahun lalu Bank Indonesia sangat agresif menaikkan suku bunga hingga  enam kali untuk menjaga stabilitas rupiah dan juga untuk mengikuti  kenaikan suku bunga yang terjadi AS. Tahun ini rupiah sudah bergerak di  level yang stabil.
&quot;Bank sentral AS juga berencana menurunkan suku bunganya, oleh karena  itu kita melihat potensi bahwa Bank Indonesia juga ikut bergerak  menurunkan suku bunganya. Ini dapat menjadi hal positif bagi pasar saham  dan obligasi di Indonesia,&quot; ujar Dimas.
Selain itu, pengelolaan fiskal dan moneter di Indonesia sangat baik.  Hal ini diafirmasi oleh lembaga pemeringkat Standard &amp;amp; Poor's  (S&amp;amp;P) dimana baru-baru ini menaikkan rating Indonesia menjadi BBB.  Hal ini mengindikasikan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia  dan juga pengelolaan fiskal dan moneternya.
Ini pencapaian yang positif, karena ditengah pelambatan ekonomi  global, beberapa negara lain justru mendapatkan rating &quot;downgrade&quot;. Di  negara seperti Brasil, Turki dan Meksiko, peringkatnya cenderung turun,  sementara sebaliknya, Indonesia mendapat kenaikan.
&quot;Ini merupakan pencapaian yang sangat positif. Oleh karena itu kami  tetap positif terhadap outlook ekonomi Indonesia ke depannya,&quot; kata  Dimas.</content:encoded></item></channel></rss>
