<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Milenial, Generasi Paling Tidak Loyal di Tempat Kerja   </title><description>Loyalitas yang rendah serta kecenderungan berpindah-pindah tempat kerja membuat generasi milenial akrab dengan sebutan sebagai job hopper</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/28/320/2084617/milenial-generasi-paling-tidak-loyal-di-tempat-kerja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/28/320/2084617/milenial-generasi-paling-tidak-loyal-di-tempat-kerja"/><item><title>Milenial, Generasi Paling Tidak Loyal di Tempat Kerja   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/28/320/2084617/milenial-generasi-paling-tidak-loyal-di-tempat-kerja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/28/320/2084617/milenial-generasi-paling-tidak-loyal-di-tempat-kerja</guid><pubDate>Minggu 28 Juli 2019 14:01 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/28/320/2084617/milenial-generasi-paling-tidak-loyal-di-tempat-kerja-9BuZKxhlej.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Generasi Milenial (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/28/320/2084617/milenial-generasi-paling-tidak-loyal-di-tempat-kerja-9BuZKxhlej.jpeg</image><title>Ilustrasi Generasi Milenial (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ketika perusahaan merekrut generasi milenial, di visi HRD harus bersiap karena 1-2 tahun ke depan bisa jadi mereka mengajukan resign . Loyalitas yang rendah serta kecenderungan berpindah-pindah tempat kerja membuat generasi milenial akrab dengan sebutan sebagai job hopper.
Studi dari Gallup menemukan sebanyak 21% milenial berpindah tempat kerja dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Jumlah ini tiga kali lipat lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Tak seperti generasi sebelumnya, milenial kurang tertarik dengan longterm employment . Millennials kill long-term employment.
Baca Juga: Awas, Karyawan Berpotensi Dimata-matai Atasan bak 'Dipenjara'!
Millennials kill employee loyalty. Sebagai generasi yang selalu mencari tantangan baru, generasi milenial selalu terbuka dengan setiap peluang karier baru. Rata-rata mereka merencanakan bertahan di tempat kerja hanya selama 12 bulan ke depan. Faktor pendorongnya ada dua, mengejar passion dan mencari pengalaman baru. Perilaku kaum milenial yang hobi berpindah-pindah kerja ini disadari mulai menjadi ancaman bagi talent management .
Karena itu, perusahaan perlu memahami perbedaan mendasar antara generasi milenial dengan generasi-generasi sebelumnya di lingkungan kerja. Jika Baby Boomers dan Gen-X bekerja untuk mendapat gaji bulanan dan mencapai kemapanan, lain halnya dengan milenial. Mereka bekerja untuk aktualisasi diri. Aktualisasi diri, menurut Abraham Maslow, merupakan puncak dari pemenuhan kebutuhan mendasar manusia.
Baca Juga: Astaga! 200 Juta Pengguna Android Dimata-Matai Aplikasi Keyboard Ini
Kecenderungan job hopper pada generasi milenial dilihat sebagai upaya meningkatkan kapasitas diri untuk mencapai aktualisasi diri. Jadi bukan hanya untuk memenuhi aspek fungsional, seperti gaji, insentif, dan tunjangan.
Kalau kondisinya seperti itu, lalu apa yang harus dilakukan perusahaan? Mau tak mau, setiap perusahaan harus menyediakan lingkungan kerja yang mendukung jika tak ingin time to say goodbye . Generasi milenial adalah challenge-seeker . Jika perusahaan tidak mampu mengakomodasi challenge yang mereka tuntut, jangan salahkan jika mereka berpikir untuk mencari tantangan baru di perusahaan lain.Generasi milenial menganggap experience is a great thing . Mereka  senang ketika dilibatkan dalam berbagai proyek dan memiliki kesempatan  untuk berinteraksi dengan banyak partner. Selain itu, mereka juga haus  untuk di-coach dan diberikan instant feedback oleh atasannya.
Milenial juga menuntut hubungan yang bersifat cair dan egaliter  dengan bosnya. Mereka membutuhkan akses yang lebih mudah (bahkan anytime  ) ketika ingin berdiskusi dengan atasan. Dengan komunikasi yang lebih  fleksibel, mereka dapat leluasa menyampaikan ide.
Dengan begitu, mereka akan merasa memberikan kontribusi yang bermakna  dan menjadi bagian penting bagi perusahaan. Pendekatan kepada karyawan  milenial tentunya harus berbeda dibandingkan generasi-generasi  sebelumnya. Relasi yang dibangun harus bersifat personal.
Perusahaan harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka  untuk berkembang dan melibatkan mereka untuk bersama-sama memajukan  perusahaan. Semua pengalaman bekerja yang positif akan menciptakan  meaning yang spesial bagi generasi milenial. Ketika mereka merasakan  menemukan meaning tersebut, maka kemungkinan besar mereka akan lebih  satisfied , loyal, dan akhirnya menjadi advocator bagi perusahaan.
 
YUSWOHADY
 
Managing Partner Inventure www.yuswohady.com @yuswohady
</description><content:encoded>JAKARTA - Ketika perusahaan merekrut generasi milenial, di visi HRD harus bersiap karena 1-2 tahun ke depan bisa jadi mereka mengajukan resign . Loyalitas yang rendah serta kecenderungan berpindah-pindah tempat kerja membuat generasi milenial akrab dengan sebutan sebagai job hopper.
Studi dari Gallup menemukan sebanyak 21% milenial berpindah tempat kerja dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Jumlah ini tiga kali lipat lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Tak seperti generasi sebelumnya, milenial kurang tertarik dengan longterm employment . Millennials kill long-term employment.
Baca Juga: Awas, Karyawan Berpotensi Dimata-matai Atasan bak 'Dipenjara'!
Millennials kill employee loyalty. Sebagai generasi yang selalu mencari tantangan baru, generasi milenial selalu terbuka dengan setiap peluang karier baru. Rata-rata mereka merencanakan bertahan di tempat kerja hanya selama 12 bulan ke depan. Faktor pendorongnya ada dua, mengejar passion dan mencari pengalaman baru. Perilaku kaum milenial yang hobi berpindah-pindah kerja ini disadari mulai menjadi ancaman bagi talent management .
Karena itu, perusahaan perlu memahami perbedaan mendasar antara generasi milenial dengan generasi-generasi sebelumnya di lingkungan kerja. Jika Baby Boomers dan Gen-X bekerja untuk mendapat gaji bulanan dan mencapai kemapanan, lain halnya dengan milenial. Mereka bekerja untuk aktualisasi diri. Aktualisasi diri, menurut Abraham Maslow, merupakan puncak dari pemenuhan kebutuhan mendasar manusia.
Baca Juga: Astaga! 200 Juta Pengguna Android Dimata-Matai Aplikasi Keyboard Ini
Kecenderungan job hopper pada generasi milenial dilihat sebagai upaya meningkatkan kapasitas diri untuk mencapai aktualisasi diri. Jadi bukan hanya untuk memenuhi aspek fungsional, seperti gaji, insentif, dan tunjangan.
Kalau kondisinya seperti itu, lalu apa yang harus dilakukan perusahaan? Mau tak mau, setiap perusahaan harus menyediakan lingkungan kerja yang mendukung jika tak ingin time to say goodbye . Generasi milenial adalah challenge-seeker . Jika perusahaan tidak mampu mengakomodasi challenge yang mereka tuntut, jangan salahkan jika mereka berpikir untuk mencari tantangan baru di perusahaan lain.Generasi milenial menganggap experience is a great thing . Mereka  senang ketika dilibatkan dalam berbagai proyek dan memiliki kesempatan  untuk berinteraksi dengan banyak partner. Selain itu, mereka juga haus  untuk di-coach dan diberikan instant feedback oleh atasannya.
Milenial juga menuntut hubungan yang bersifat cair dan egaliter  dengan bosnya. Mereka membutuhkan akses yang lebih mudah (bahkan anytime  ) ketika ingin berdiskusi dengan atasan. Dengan komunikasi yang lebih  fleksibel, mereka dapat leluasa menyampaikan ide.
Dengan begitu, mereka akan merasa memberikan kontribusi yang bermakna  dan menjadi bagian penting bagi perusahaan. Pendekatan kepada karyawan  milenial tentunya harus berbeda dibandingkan generasi-generasi  sebelumnya. Relasi yang dibangun harus bersifat personal.
Perusahaan harus memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka  untuk berkembang dan melibatkan mereka untuk bersama-sama memajukan  perusahaan. Semua pengalaman bekerja yang positif akan menciptakan  meaning yang spesial bagi generasi milenial. Ketika mereka merasakan  menemukan meaning tersebut, maka kemungkinan besar mereka akan lebih  satisfied , loyal, dan akhirnya menjadi advocator bagi perusahaan.
 
YUSWOHADY
 
Managing Partner Inventure www.yuswohady.com @yuswohady
</content:encoded></item></channel></rss>
