<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>638 Meter, Jakarta Akan Punya Gedung Tertinggi Kelima di Dunia   </title><description>Jakarta menggeber pembangunan gedung tinggi baru yang akan menapaki tertinggi kelima di dunia. Gedung bernama Menara Signature</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/29/470/2084816/638-meter-jakarta-akan-punya-gedung-tertinggi-kelima-di-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/29/470/2084816/638-meter-jakarta-akan-punya-gedung-tertinggi-kelima-di-dunia"/><item><title>638 Meter, Jakarta Akan Punya Gedung Tertinggi Kelima di Dunia   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/29/470/2084816/638-meter-jakarta-akan-punya-gedung-tertinggi-kelima-di-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/29/470/2084816/638-meter-jakarta-akan-punya-gedung-tertinggi-kelima-di-dunia</guid><pubDate>Senin 29 Juli 2019 09:45 WIB</pubDate><dc:creator>Koran SINDO</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/29/470/2084816/638-meter-jakarta-akan-punya-gedung-tertinggi-kelima-di-dunia-w3INLrLDWW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Jakarta Akan Punya Gedung Tertinggi (Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/29/470/2084816/638-meter-jakarta-akan-punya-gedung-tertinggi-kelima-di-dunia-w3INLrLDWW.jpg</image><title>Foto: Jakarta Akan Punya Gedung Tertinggi (Koran Sindo)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Jakarta masih menjadi pusat bisnis yang menjanjikan. Kebutuhan gedung-gedung vertikal untuk perkantoran maupun hunian juga terus berkembang.
Tak sekadar berwujud bangunan, gedung-gedung baru juga diciptakan sebagai pencakar langit berkelas dunia dengan arsitektur yang indah.
Tahun ini Jakarta juga menggeber pembangunan gedung tinggi baru yang akan menapaki tertinggi kelima di dunia. Gedung bernama Menara Signature ini tingginya mencapai 638 meter. Gedung prestisius ini akan berdiri menjulang di Jalan Sudirman Jakarta.
Operasional gedung ini ditargetkan bisa di lakukan mulai 2025. Kehadiran Menara Signature ini akan menambah jumlah gedung vertikal di Ibu Kota yang tahun ini telah mencapai 867 unit.
Baca Juga: The Crystal Jadi Ikon Baru China
Berdasarkan catatan Real Estate Indonesia (REI), daya huni maupun kebutuhan kantor di Jakarta dari tahun ke tahun masih sangat besar dan terus bertumbuh. Meski kondisi lahan di Jakarta kian sempit, namun lahan-lahan yang masih tersedia akan terus berpotensi untuk dikembangkan sebagai bangunan atau gedung vertikal.
Pada beberapa tahun terakhir, para pengembang lebih mengarah pada pembangunan hunian maupun kebutuhan kantor yang dekat dengan lokasi transit oriented development(TOD). Dengan dekat TOD, para penghuni tak lagi takut dengan ancaman kemacetan lalu lintas.

Sekretaris Jenderal Sekjen (REI) Paulus Totok Lusida mengakui DKI Jakarta masih terus dilihat sebagai ekonomi value yang keberadaannya tidak diragukan lagi. &amp;ldquo;Jadi Jakarta itu sudah tidak perlu diciptakan sebagai kantong ekonomi lagi karena memang sudah menjadi pusat ekonomi,&amp;rdquo; ujarnya.
REI juga mencatat kebutuhan hunian di Jakarta kian di butuhkan, apalagi sejak perhelatan pemilu presiden selesai. Berdasarkan kebutuhan konsumsi kredit, pertumbuhan sektor properti sudah berada di atas 10%, yakni dari 22% sebelum pilpres menjadi 24,5%.
Baca Juga: China Bangun Gedung Pencakar Langit Paling Banyak
Kendati secara kebutuhan maupun penyerapan masih tinggi, namun jumlah pembangunan gedung vertikal di Jakarta tergolong melambat. Kebutuhan hunian maupun perkantoran masih bisa dipenuhi dengan keberadaan gedung yang ada sekarang.
Merujuk data Council of Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH), Indonesia berhasil menyelesaikan pembangunan gedung pencakar langit sebanyak lima gedung pada 2018. Indonesia menduduki peringkat kelima dalam kategori negara yang menyelesaikan pembangunan gedung pencakar langit. Ada lima gedung yang berhasil diselesaikan pada 2018, yakni Treasury Tower (279,5 meter), Casa Domaine Tower 1 (230 m), Casa Do maine Tower 2 (209,9 m), World Trade Center 3 (209,1 m), dan Sequish Tower (206,3 m).
Kemudian China tetap mempertahankan sebagai negara yang paling banyak menyelesaikan proses konstruksi gedung pencakar langit selama 2018. China menyelesaikan 88 gedung pencakar langit atau 61,5% dari total pembangunan gedung pencakar langit di dunia.
&amp;ldquo;Itu menjadi rekor bagi Chi na yang lebih banyak di bandingkan tahun lalu yakni selisih delapan gedung,&amp;rdquo; demikian keterangan CTBUH.Pada 2016 China mampu menyelesaikan pembangunan 86 gedung dengan  ketinggian di atas 200 meter. Kenapa China mendo minasi dalam  pembangunan gedung bertingkat? &amp;ldquo;China selalu melakukan disrupsi dalam  industri konstruksi global, khususnya baja,&amp;rdquo; demikian keterangan CTBUH  dilansir CNN.
Selain itu, China juga memberikan kelonggaran dalam pembiayaan utang  dan per tumbuhan ekonomi domestik yang sangat tinggi. Untuk peringkat  kedua adalah Amerika Serikat dengan 13 gedung pencakar langit yang  selesai. Itu meningkat dibandingkan 2017 di mana hanya 10 gedung.
Posisi selanjutnya adalah Uni Emirat Arab dengan 10 gedung pencakar  langit. Posisi keempat adalah Malaysia dengan penyelesaian tujuh gedung  pencakar langit. Lantas, kawasan mana yang paling berkembang dalam  pembangunan gedung pencakar langit?

CTBUH menyebutkan Asia tetap mendomi nasi dalam pembangunan gedung  bertingkat pada 2018 dengan jumlah 109 gedung pencakar langit atau 76%  dari total di seluruh dunia. Jumlah itu sebenarnya mengalami penurunan  dibandingkan 2017 di mana terdapat penyelesaian pembangunan 113 gedung  pencakar langit di atas 200 meter.
Kalau di Timur Tengah hanya 13 gedung pencakar langit. Sedangkan  Amerika Utara hanya 16 gedung pencakar langit. Bagaimana di Eropa?  Ternyata hanya satu gedung yakni Nurol Life di Istanbul Turki dengan  ketinggian 220 meter.
Serapan Tinggi
Head of Markets lembaga riset Jones Lang LaSalle (JLL) Angela Wibawa   mengatakan, total penyerapan ruang perkantoran di triwulan kedua di   Jakarta mencapai 24.000 meter persegi di kawasan pusat bisnis atau   Central Business District (CBD) dengan perusahaan berbasis teknologi   mengambil porsi sebesar 43%.
&amp;ldquo;Untuk di kawasan non-CBD terjadi penyerapan yang lebih tinggi. Ini   disebabkan oleh tiga gedung perkantoran yang selesai dibangun dan salah   satunya digunakan oleh pemilik gedung,&amp;rdquo; ungkapnya.
Hasil riset yang dilakukan oleh JLL juga menunjukkan, total   penyerapan ruang sewa perkantoran CBD selama semester pertama 2019 juga   tergolong baik karena telah melebihi 50% dari total rata-rata  penyerapan  selama 10 tahun terakhir. Tingkat hunian juga tetap stabil  dari  triwulan sebelumnya.
Namun, harga sewa perkantoran turun sebesar 1,3% untuk bangunan kelas   A. Di sektor ritel, tingkat permintaan masih cukup stabil dengan  sektor  fast fashion dan makanan minuman (F&amp;amp;B) sebagai peritel yang  paling  aktif. Tingkat penjualan kondominium masih berada pada posisi  yang  lemah. Namun, revisi peraturan pajak diharapkan dapat memberikan   sentimen positif bagi pasar kondominium.Pasar ritel pada triwulan kedua ini terlihat masih tetap stabil yang  ditunjukkan oleh aktifnya peritel dari sektor fashion dan F&amp;amp;B dengan  tingkat hunian tetap stabil di angka 88%. Beroperasinya mass rapid  transit(MRT) kian melengkapi kebutuhan pengguna dengan konsep grab and  go.
Konsep semacam ini diharapkan dapat berkembang seiring bertambahnya  rute baru MRT atau light rail transit (LRT). Pertumbuhan pembangunan  gedung vertikal baru di Jakarta mengalami pelambatan sejak 2017.  Menurunnya, pembangunan gedung-gedung berlantai sembilan ke atas ini  lebih banyak di pengaruhi faktor ekonomi.
Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta Heru  Hermawanto mengungkapkan, penurunan pembangunan gedung masih terjadi  pada periode 2019- 2020 .
&amp;ldquo;Sektor perekonomian untuk properti menurun dan memengaruhi  pembangunan. Dari yang biasanya 15 unit per tahun, paling saat ini hanya  lima unit gedung,&amp;rdquo; kata Heru.
Dia menjelaskan, selama ini pengendalian gedung tinggi tidak  dilakukan di wilayah tertentu. Artinya, pembangunan gedung bebas  dilakukan di mana saja sesuai Rencana Dasar Tata Ruang Wilayah (RDTR).
&amp;ldquo;Pemerintah pusat kan juga punya andil untuk kebijakan gedung karena  banyak aspek. Aspek ekonomi misalnya, dari pajak, moneter, dan  sebagainya. Kalau pemerintah daerah dari izin dan regulasi,&amp;rdquo; pungkasnya.
Namun, kalangan DPRD mengkritisi eksekutif yang lemah dalam melakukan  penataan masalah gedung vertikal. Ini seperti disampaikan anggota  Komisi D DKI Jakarta Ricardo. Indikasi lemahnya penataan itu antara lain  masih banyaknya peristiwa kecelakaan di dalam gedung, baik ke bakaran  ataupun roboh, seperti yang di lantai gedung Bursa Efek Indonesia (BEI)  pada 2018.
Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia Agus Pambagio juga  meminta Pemprov DKI Jakarta menindak tegas pemilik gedung atau bangunan  yang menyalahi aturan.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2017/12/31/45970/236900_medium.jpg&quot; alt=&quot;Indahnya Sunset Akhir Tahun 2017 Hiasi Langit Ibu Kota Jakarta&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&amp;ldquo;Harus dihukum. Mereka yang memiliki gedung tinggi, namun salahi  aturan, satu-satu caranya yah dihukum dan ditindak tegas,&amp;rdquo; kata Agus.
Agus menilai, tindak tegas itu menunjukkan bahwa perda, pergub,  maupun aturan hukum lainnya masih berdiri tegak. Dengan demikian,  penyelewengan tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. Sekalipun pada  akhirnya nanti terjadi koefisien lantai bangunan (KLB) dan pemilik  membayar beberapa uang, kata Agus, namun tindakan tegas harus dilakukan.
Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga juga melihat KLB  tak menguntungkan DKI lantaran pembayarannya hanya sekali. Padahal,  pembangunan gedung harus diukur secara jangka panjang.
Ketika gedung telah dibangun, harus diperhatikan soal ketersediaan  listrik, air, hingga dampak kemacetan. Di sisi lain, pembangunan gedung  harus memperhatikan keselamatan salah satunya keadaan darurat seperti  kebakaran, gempa bumi, hingga evakuasinya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Jakarta masih menjadi pusat bisnis yang menjanjikan. Kebutuhan gedung-gedung vertikal untuk perkantoran maupun hunian juga terus berkembang.
Tak sekadar berwujud bangunan, gedung-gedung baru juga diciptakan sebagai pencakar langit berkelas dunia dengan arsitektur yang indah.
Tahun ini Jakarta juga menggeber pembangunan gedung tinggi baru yang akan menapaki tertinggi kelima di dunia. Gedung bernama Menara Signature ini tingginya mencapai 638 meter. Gedung prestisius ini akan berdiri menjulang di Jalan Sudirman Jakarta.
Operasional gedung ini ditargetkan bisa di lakukan mulai 2025. Kehadiran Menara Signature ini akan menambah jumlah gedung vertikal di Ibu Kota yang tahun ini telah mencapai 867 unit.
Baca Juga: The Crystal Jadi Ikon Baru China
Berdasarkan catatan Real Estate Indonesia (REI), daya huni maupun kebutuhan kantor di Jakarta dari tahun ke tahun masih sangat besar dan terus bertumbuh. Meski kondisi lahan di Jakarta kian sempit, namun lahan-lahan yang masih tersedia akan terus berpotensi untuk dikembangkan sebagai bangunan atau gedung vertikal.
Pada beberapa tahun terakhir, para pengembang lebih mengarah pada pembangunan hunian maupun kebutuhan kantor yang dekat dengan lokasi transit oriented development(TOD). Dengan dekat TOD, para penghuni tak lagi takut dengan ancaman kemacetan lalu lintas.

Sekretaris Jenderal Sekjen (REI) Paulus Totok Lusida mengakui DKI Jakarta masih terus dilihat sebagai ekonomi value yang keberadaannya tidak diragukan lagi. &amp;ldquo;Jadi Jakarta itu sudah tidak perlu diciptakan sebagai kantong ekonomi lagi karena memang sudah menjadi pusat ekonomi,&amp;rdquo; ujarnya.
REI juga mencatat kebutuhan hunian di Jakarta kian di butuhkan, apalagi sejak perhelatan pemilu presiden selesai. Berdasarkan kebutuhan konsumsi kredit, pertumbuhan sektor properti sudah berada di atas 10%, yakni dari 22% sebelum pilpres menjadi 24,5%.
Baca Juga: China Bangun Gedung Pencakar Langit Paling Banyak
Kendati secara kebutuhan maupun penyerapan masih tinggi, namun jumlah pembangunan gedung vertikal di Jakarta tergolong melambat. Kebutuhan hunian maupun perkantoran masih bisa dipenuhi dengan keberadaan gedung yang ada sekarang.
Merujuk data Council of Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH), Indonesia berhasil menyelesaikan pembangunan gedung pencakar langit sebanyak lima gedung pada 2018. Indonesia menduduki peringkat kelima dalam kategori negara yang menyelesaikan pembangunan gedung pencakar langit. Ada lima gedung yang berhasil diselesaikan pada 2018, yakni Treasury Tower (279,5 meter), Casa Domaine Tower 1 (230 m), Casa Do maine Tower 2 (209,9 m), World Trade Center 3 (209,1 m), dan Sequish Tower (206,3 m).
Kemudian China tetap mempertahankan sebagai negara yang paling banyak menyelesaikan proses konstruksi gedung pencakar langit selama 2018. China menyelesaikan 88 gedung pencakar langit atau 61,5% dari total pembangunan gedung pencakar langit di dunia.
&amp;ldquo;Itu menjadi rekor bagi Chi na yang lebih banyak di bandingkan tahun lalu yakni selisih delapan gedung,&amp;rdquo; demikian keterangan CTBUH.Pada 2016 China mampu menyelesaikan pembangunan 86 gedung dengan  ketinggian di atas 200 meter. Kenapa China mendo minasi dalam  pembangunan gedung bertingkat? &amp;ldquo;China selalu melakukan disrupsi dalam  industri konstruksi global, khususnya baja,&amp;rdquo; demikian keterangan CTBUH  dilansir CNN.
Selain itu, China juga memberikan kelonggaran dalam pembiayaan utang  dan per tumbuhan ekonomi domestik yang sangat tinggi. Untuk peringkat  kedua adalah Amerika Serikat dengan 13 gedung pencakar langit yang  selesai. Itu meningkat dibandingkan 2017 di mana hanya 10 gedung.
Posisi selanjutnya adalah Uni Emirat Arab dengan 10 gedung pencakar  langit. Posisi keempat adalah Malaysia dengan penyelesaian tujuh gedung  pencakar langit. Lantas, kawasan mana yang paling berkembang dalam  pembangunan gedung pencakar langit?

CTBUH menyebutkan Asia tetap mendomi nasi dalam pembangunan gedung  bertingkat pada 2018 dengan jumlah 109 gedung pencakar langit atau 76%  dari total di seluruh dunia. Jumlah itu sebenarnya mengalami penurunan  dibandingkan 2017 di mana terdapat penyelesaian pembangunan 113 gedung  pencakar langit di atas 200 meter.
Kalau di Timur Tengah hanya 13 gedung pencakar langit. Sedangkan  Amerika Utara hanya 16 gedung pencakar langit. Bagaimana di Eropa?  Ternyata hanya satu gedung yakni Nurol Life di Istanbul Turki dengan  ketinggian 220 meter.
Serapan Tinggi
Head of Markets lembaga riset Jones Lang LaSalle (JLL) Angela Wibawa   mengatakan, total penyerapan ruang perkantoran di triwulan kedua di   Jakarta mencapai 24.000 meter persegi di kawasan pusat bisnis atau   Central Business District (CBD) dengan perusahaan berbasis teknologi   mengambil porsi sebesar 43%.
&amp;ldquo;Untuk di kawasan non-CBD terjadi penyerapan yang lebih tinggi. Ini   disebabkan oleh tiga gedung perkantoran yang selesai dibangun dan salah   satunya digunakan oleh pemilik gedung,&amp;rdquo; ungkapnya.
Hasil riset yang dilakukan oleh JLL juga menunjukkan, total   penyerapan ruang sewa perkantoran CBD selama semester pertama 2019 juga   tergolong baik karena telah melebihi 50% dari total rata-rata  penyerapan  selama 10 tahun terakhir. Tingkat hunian juga tetap stabil  dari  triwulan sebelumnya.
Namun, harga sewa perkantoran turun sebesar 1,3% untuk bangunan kelas   A. Di sektor ritel, tingkat permintaan masih cukup stabil dengan  sektor  fast fashion dan makanan minuman (F&amp;amp;B) sebagai peritel yang  paling  aktif. Tingkat penjualan kondominium masih berada pada posisi  yang  lemah. Namun, revisi peraturan pajak diharapkan dapat memberikan   sentimen positif bagi pasar kondominium.Pasar ritel pada triwulan kedua ini terlihat masih tetap stabil yang  ditunjukkan oleh aktifnya peritel dari sektor fashion dan F&amp;amp;B dengan  tingkat hunian tetap stabil di angka 88%. Beroperasinya mass rapid  transit(MRT) kian melengkapi kebutuhan pengguna dengan konsep grab and  go.
Konsep semacam ini diharapkan dapat berkembang seiring bertambahnya  rute baru MRT atau light rail transit (LRT). Pertumbuhan pembangunan  gedung vertikal baru di Jakarta mengalami pelambatan sejak 2017.  Menurunnya, pembangunan gedung-gedung berlantai sembilan ke atas ini  lebih banyak di pengaruhi faktor ekonomi.
Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta Heru  Hermawanto mengungkapkan, penurunan pembangunan gedung masih terjadi  pada periode 2019- 2020 .
&amp;ldquo;Sektor perekonomian untuk properti menurun dan memengaruhi  pembangunan. Dari yang biasanya 15 unit per tahun, paling saat ini hanya  lima unit gedung,&amp;rdquo; kata Heru.
Dia menjelaskan, selama ini pengendalian gedung tinggi tidak  dilakukan di wilayah tertentu. Artinya, pembangunan gedung bebas  dilakukan di mana saja sesuai Rencana Dasar Tata Ruang Wilayah (RDTR).
&amp;ldquo;Pemerintah pusat kan juga punya andil untuk kebijakan gedung karena  banyak aspek. Aspek ekonomi misalnya, dari pajak, moneter, dan  sebagainya. Kalau pemerintah daerah dari izin dan regulasi,&amp;rdquo; pungkasnya.
Namun, kalangan DPRD mengkritisi eksekutif yang lemah dalam melakukan  penataan masalah gedung vertikal. Ini seperti disampaikan anggota  Komisi D DKI Jakarta Ricardo. Indikasi lemahnya penataan itu antara lain  masih banyaknya peristiwa kecelakaan di dalam gedung, baik ke bakaran  ataupun roboh, seperti yang di lantai gedung Bursa Efek Indonesia (BEI)  pada 2018.
Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia Agus Pambagio juga  meminta Pemprov DKI Jakarta menindak tegas pemilik gedung atau bangunan  yang menyalahi aturan.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2017/12/31/45970/236900_medium.jpg&quot; alt=&quot;Indahnya Sunset Akhir Tahun 2017 Hiasi Langit Ibu Kota Jakarta&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
&amp;ldquo;Harus dihukum. Mereka yang memiliki gedung tinggi, namun salahi  aturan, satu-satu caranya yah dihukum dan ditindak tegas,&amp;rdquo; kata Agus.
Agus menilai, tindak tegas itu menunjukkan bahwa perda, pergub,  maupun aturan hukum lainnya masih berdiri tegak. Dengan demikian,  penyelewengan tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. Sekalipun pada  akhirnya nanti terjadi koefisien lantai bangunan (KLB) dan pemilik  membayar beberapa uang, kata Agus, namun tindakan tegas harus dilakukan.
Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga juga melihat KLB  tak menguntungkan DKI lantaran pembayarannya hanya sekali. Padahal,  pembangunan gedung harus diukur secara jangka panjang.
Ketika gedung telah dibangun, harus diperhatikan soal ketersediaan  listrik, air, hingga dampak kemacetan. Di sisi lain, pembangunan gedung  harus memperhatikan keselamatan salah satunya keadaan darurat seperti  kebakaran, gempa bumi, hingga evakuasinya.</content:encoded></item></channel></rss>
