<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Perang Dagang AS-China hingga Defisit Bayangi Ekonomi RI</title><description>KSSK mewaspadai berbagai faktor eksternal dan domestik yang akan memengaruhi sistem keuangan Indonesia ke depannya</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/30/20/2085510/perang-dagang-as-china-hingga-defisit-bayangi-ekonomi-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/30/20/2085510/perang-dagang-as-china-hingga-defisit-bayangi-ekonomi-ri"/><item><title>   Perang Dagang AS-China hingga Defisit Bayangi Ekonomi RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/30/20/2085510/perang-dagang-as-china-hingga-defisit-bayangi-ekonomi-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/30/20/2085510/perang-dagang-as-china-hingga-defisit-bayangi-ekonomi-ri</guid><pubDate>Selasa 30 Juli 2019 16:19 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/30/20/2085510/perang-dagang-as-china-hingga-defisit-bayangi-ekonomi-ri-lPd1DZb33X.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Dok Bank Indonesia</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/30/20/2085510/perang-dagang-as-china-hingga-defisit-bayangi-ekonomi-ri-lPd1DZb33X.jpeg</image><title>Dok Bank Indonesia</title></images><description>JAKARTA - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mewaspadai berbagai faktor eksternal dan domestik yang akan memengaruhi sistem keuangan Indonesia ke depannya. Salah satu faktor eksternal yang perlu diwaspadai adalah masih berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perekonomian Indonesia Pasca-Pemilu dan Jelang Lebaran dalam Kondisi Baik
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, memanasnya hubungan dagang kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu, berpotensi meluas ke berbagai negara lainnya.

&quot;Ketegangan hubungan dagang itu berpotensi ke negara-negara lain yang jadi hub ekspor China ke AS,&quot; ungkap Sri Mulyani yang juga menjabat sebagai Ketua KSSK dalam konferensi pers di Kompleks BI, Jakarta, Selasa (30/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: KSSK Pastikan Stabilitas Keuangan Indonesia Terjaga dengan Baik
Hubungan dagang antara AS dan China yang terus berlangsung itu bahkan membuat pelemahan perdagangan internasional, yang pada akhirnya membuat pertumbuhan ekonomi global pun turut melemah.

Tak hanya itu, hal yang juga perlu diwaspadai yakni masih terjadinya tensi hubungan geopolitik di berbagai negara, khususnya Jepang dan Korea Selatan.

&quot;Ekonomi yang melemah dan ketegangan yang terjadi, pada girlirannya telah  menekan harga-harga komoditas, termasuk dalam hal ini minyak dan gas,&quot; kata dia.
&amp;nbsp;Di samping itu, dari faktor domestik yang perlu diwaspadai adalah  kondisi defisit transaksi berjalan (currenct account deficit/CAD).  Terlebih di tengah kondisi ketegangan ekonomi global. &quot;Momentum  pertumbuhan ekonomi diharapkan tetap terjaga, namun CAD harus  diperhatikan apalagi di tengah konteks ketegangan global,&quot; katanya.

Selain itu, kinerja di sektor riil juga perlu diperhatikan ke  depannya. Terutama pasca tahun 2018 yang sempat mengalami  penurunan.  &quot;Kita harapkan tentu harus mendapatkan suatu momentum (pertumbuhan) pada  semester II 2019 ini,&quot; katanya.

Menurutnya, anggota KSSK yang juga terdiri dari Bank Indonesia (BI),  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), akan  terus meningkatkan sinergi kedepannya. Hal ini untuk dapat memberikan  kebijakan yang tepat ditengah perekonomian yang dinamis.

&quot;Sehingga dapat menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,&quot; katanya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mewaspadai berbagai faktor eksternal dan domestik yang akan memengaruhi sistem keuangan Indonesia ke depannya. Salah satu faktor eksternal yang perlu diwaspadai adalah masih berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perekonomian Indonesia Pasca-Pemilu dan Jelang Lebaran dalam Kondisi Baik
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, memanasnya hubungan dagang kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu, berpotensi meluas ke berbagai negara lainnya.

&quot;Ketegangan hubungan dagang itu berpotensi ke negara-negara lain yang jadi hub ekspor China ke AS,&quot; ungkap Sri Mulyani yang juga menjabat sebagai Ketua KSSK dalam konferensi pers di Kompleks BI, Jakarta, Selasa (30/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: KSSK Pastikan Stabilitas Keuangan Indonesia Terjaga dengan Baik
Hubungan dagang antara AS dan China yang terus berlangsung itu bahkan membuat pelemahan perdagangan internasional, yang pada akhirnya membuat pertumbuhan ekonomi global pun turut melemah.

Tak hanya itu, hal yang juga perlu diwaspadai yakni masih terjadinya tensi hubungan geopolitik di berbagai negara, khususnya Jepang dan Korea Selatan.

&quot;Ekonomi yang melemah dan ketegangan yang terjadi, pada girlirannya telah  menekan harga-harga komoditas, termasuk dalam hal ini minyak dan gas,&quot; kata dia.
&amp;nbsp;Di samping itu, dari faktor domestik yang perlu diwaspadai adalah  kondisi defisit transaksi berjalan (currenct account deficit/CAD).  Terlebih di tengah kondisi ketegangan ekonomi global. &quot;Momentum  pertumbuhan ekonomi diharapkan tetap terjaga, namun CAD harus  diperhatikan apalagi di tengah konteks ketegangan global,&quot; katanya.

Selain itu, kinerja di sektor riil juga perlu diperhatikan ke  depannya. Terutama pasca tahun 2018 yang sempat mengalami  penurunan.  &quot;Kita harapkan tentu harus mendapatkan suatu momentum (pertumbuhan) pada  semester II 2019 ini,&quot; katanya.

Menurutnya, anggota KSSK yang juga terdiri dari Bank Indonesia (BI),  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), akan  terus meningkatkan sinergi kedepannya. Hal ini untuk dapat memberikan  kebijakan yang tepat ditengah perekonomian yang dinamis.

&quot;Sehingga dapat menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,&quot; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
