<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Dihalangi Uni Eropa, Sawit RI Bebaskan 10 Juta Rakyat dari Kemiskinan</title><description>Meskipun banyak tantangan terutama dari sisi eksternal, Pemerintah memastikan keberlanjutan industri sawit di Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/31/320/2085998/dihalangi-uni-eropa-sawit-ri-bebaskan-10-juta-rakyat-dari-kemiskinan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/07/31/320/2085998/dihalangi-uni-eropa-sawit-ri-bebaskan-10-juta-rakyat-dari-kemiskinan"/><item><title>   Dihalangi Uni Eropa, Sawit RI Bebaskan 10 Juta Rakyat dari Kemiskinan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/07/31/320/2085998/dihalangi-uni-eropa-sawit-ri-bebaskan-10-juta-rakyat-dari-kemiskinan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/07/31/320/2085998/dihalangi-uni-eropa-sawit-ri-bebaskan-10-juta-rakyat-dari-kemiskinan</guid><pubDate>Rabu 31 Juli 2019 19:13 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/07/31/320/2085998/dihalangi-uni-eropa-sawit-ri-bebaskan-10-juta-rakyat-dari-kemiskinan-fuRDAdBu6h.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Darmin soal Sawit (Dok Kemenko)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/07/31/320/2085998/dihalangi-uni-eropa-sawit-ri-bebaskan-10-juta-rakyat-dari-kemiskinan-fuRDAdBu6h.jpg</image><title>Foto: Darmin soal Sawit (Dok Kemenko)</title></images><description>JAKARTA - Meskipun banyak tantangan terutama dari sisi eksternal, Pemerintah memastikan keberlanjutan industri sawit di Indonesia. Sejumlah langkah telah dan akan terus dilakukan untuk mempertahankan komoditas yang memiliki peran penting bagi perekonomian tanah air ini.

&amp;ldquo;Sektor kelapa sawit telah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan,&amp;rdquo; kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution seperti dikutip laman setkab, Jakarta, Rabu (31/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Di Roma, Menko Luhut Beberkan Kelapa Sawit Efektif Kurangi Kemiskinan
Berdasarkan data yang diperolehnya, Menko Perekonomian mencatat total nilai ekspor produk sawit pada 2018 sebesar USD17,89 miliar, dan berkontribusi hingga 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto.

Dalam sektor ketahanan energi, penerapan kebijakan mandatori biodiesel dalam kurun waktu Agustus 2015 hingga 30 Juni 2018 mencatatkan penghematan devisa sebesar USD2,52 miliar atau setara Rp30 triliun.

Sementara sebagai industri padat karya, jutaan masyarakat pun bergantung pada sektor kelapa sawit. Industri perkebunan sawit mampu menyerap hingga 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 14,3 juta tenaga kerja tidak langsung, Sementara kebun sawit yang dikelola petani swadaya mampu menyerap 4,6 juta orang.
&amp;nbsp;Baca Juga: Lewat Sawit, Indonesia Diyakini Mampu Kuasai Ekonomi Global
Selain itu, sejak tahun 2000 sektor kelapa sawit Indonesia membantu 10 juta orang keluar dari garis kemiskinan karena faktor-faktor yang terkait dengan ekspansi kelapa sawit. Setidaknya 1,3 juta orang yang hidup di pedesaan keluar dari garis kemiskinan secara langsung berkat kelapa sawit.

&amp;ldquo;Daerah-daerah yang dominan kelapa sawitnya memiliki tingkat kemiskinan yang lebih rendah dibanding daerah lain. Konteks ini menunjukkan bahwa industri kelapa sawit berkontribusi terhadap pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) 2030. Artinya, kita sejalan dengan dengan program PBB untuk menyejahterakan masyarakat,&amp;rdquo; terang Darmin.

Sedangkan dari sisi produktivitas, kelapa sawit mampu memproduksi  6-10 kali dibandingkan minyak nabati lainnya. Sebagai perbandingan,  Soybean memiliki produktivitas 0,4 ton/ha, Sunflower 0,6 ton/ha, Rapseed  Oil 0,7 ton/ha, sementara Kelapa Sawit 4 ton/ha.

Selain itu dibandingkan komoditas perkebunan lainnya, Menko  Perekonomian menganggap kelapa sawit memiliki keunggulan, mengingat  sebagian besar dikelola perusahaan besar, maka perkebunan sawit didukung  sektor Research and Development (R&amp;amp;D) yang memadai.

&amp;ldquo;Ini bukan mengenai baik dan benar. Ini masalah keunikan bahwa  R&amp;amp;D itu tidak berjalan di komoditas lain seperti karet dan kelapa  yang didominasi oleh perkebunan rakyat,&amp;rdquo; papar Darmin.

Devisa yang kita peroleh dari ekspor kelapa sawit dan turunannya pun  sudah ada pada angka USD20 miliar. &amp;ldquo;Jadi itulah situasinya. Kelapa sawit  ini bukan main-main,&amp;rdquo; sambung Darmin.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menerangkan, Indonesia telah  menerapkan Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) sejak tahun  2011. ISPO dirancang untuk memastikan bahwa kelapa sawit Indonesia  dikelola dengan Good Agricultural Practices/GAP sesuai dengan prinsip  sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

&amp;ldquo;Saat ini kita sedang melakukan proses penguatan ISPO dengan  menyiapkan Perpres baru. ISPO yang lama kurang tegas memberikan dukungan  ke perkebunan kecil,&amp;rdquo; ungkap Darmin.

Rancangan Perpres Penguatan ISPO tersebut saat ini sedang dalam tahap  harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM untuk kemudian diusulkan  pengesahannya ke Presiden.

&amp;ldquo;Dengan adanya aturan baru ini, perkebunan kecil bisa benar-benar memenuhi standar keberlanjutan,&amp;rdquo; jelas Darmin.
Pemerintah juga sedang memperbaiki tata kelola perkebunan kelapa   sawit melalui Instruksi Presiden (Inpres) 8 Tahun 2018 terkait   moratorium, evaluasi perizinan kebun sawitdan penundaan pemberian izin   baru.

Pemerintah pun telah menggulirkan program Peremajaan Sawit Rakyat   (PSR) untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit khususnya bagi   pekebun swadaya.

&amp;ldquo;Satu hal yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan limbah batang   sawit hasil peremajaan. Ini bisa menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan   produk kayu nasional dan internasional. Ini juga merupakan upaya   strategis untuk mengurangi emisi dan meningkatkan serapan karbon,&amp;rdquo; tegas   Darmin seraya menambahkan, kita ini bukan menebang kayu untuk menanam   sawit. Tapi yang benar adalah kita menanam sawit untuk menghidupkan   kembali hutan gundul.

Sinkronisasi data perkebunan sawit juga terus dilakukan. Ia menyadari   bahwa akurasi data berguna untuk mengoptimalkan potensi sawit dan   melawan seluruh upaya diskriminasi pihak luar.

Mengenai tantangan yang dihadapi Indonesia, salah satunya keputusan   Komisi Eropa mengeluarkan regulasi turunan (Delegated Act) dari   kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II), yang    mengklasifikasikan kelapa sawit sebagai komoditas bahan bakar nabati   yang tidak berkelanjutan dan berisiko tinggi ILUC (Indirect Land Use   Change), di samping tantangan lpengenaan bea masuk anti subsidi terhadap   biodiesel berbasis kelapa sawit ke Eropa, Menko Perekonomian Darmin   Nasution mengajak semua pihak bersinergi.

&amp;ldquo;Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan tengah mematangkan   strategi dan langkah diplomasi yang terintegrasi,&amp;rdquo; pungkas Darmin.</description><content:encoded>JAKARTA - Meskipun banyak tantangan terutama dari sisi eksternal, Pemerintah memastikan keberlanjutan industri sawit di Indonesia. Sejumlah langkah telah dan akan terus dilakukan untuk mempertahankan komoditas yang memiliki peran penting bagi perekonomian tanah air ini.

&amp;ldquo;Sektor kelapa sawit telah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan,&amp;rdquo; kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution seperti dikutip laman setkab, Jakarta, Rabu (31/7/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Di Roma, Menko Luhut Beberkan Kelapa Sawit Efektif Kurangi Kemiskinan
Berdasarkan data yang diperolehnya, Menko Perekonomian mencatat total nilai ekspor produk sawit pada 2018 sebesar USD17,89 miliar, dan berkontribusi hingga 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto.

Dalam sektor ketahanan energi, penerapan kebijakan mandatori biodiesel dalam kurun waktu Agustus 2015 hingga 30 Juni 2018 mencatatkan penghematan devisa sebesar USD2,52 miliar atau setara Rp30 triliun.

Sementara sebagai industri padat karya, jutaan masyarakat pun bergantung pada sektor kelapa sawit. Industri perkebunan sawit mampu menyerap hingga 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 14,3 juta tenaga kerja tidak langsung, Sementara kebun sawit yang dikelola petani swadaya mampu menyerap 4,6 juta orang.
&amp;nbsp;Baca Juga: Lewat Sawit, Indonesia Diyakini Mampu Kuasai Ekonomi Global
Selain itu, sejak tahun 2000 sektor kelapa sawit Indonesia membantu 10 juta orang keluar dari garis kemiskinan karena faktor-faktor yang terkait dengan ekspansi kelapa sawit. Setidaknya 1,3 juta orang yang hidup di pedesaan keluar dari garis kemiskinan secara langsung berkat kelapa sawit.

&amp;ldquo;Daerah-daerah yang dominan kelapa sawitnya memiliki tingkat kemiskinan yang lebih rendah dibanding daerah lain. Konteks ini menunjukkan bahwa industri kelapa sawit berkontribusi terhadap pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) 2030. Artinya, kita sejalan dengan dengan program PBB untuk menyejahterakan masyarakat,&amp;rdquo; terang Darmin.

Sedangkan dari sisi produktivitas, kelapa sawit mampu memproduksi  6-10 kali dibandingkan minyak nabati lainnya. Sebagai perbandingan,  Soybean memiliki produktivitas 0,4 ton/ha, Sunflower 0,6 ton/ha, Rapseed  Oil 0,7 ton/ha, sementara Kelapa Sawit 4 ton/ha.

Selain itu dibandingkan komoditas perkebunan lainnya, Menko  Perekonomian menganggap kelapa sawit memiliki keunggulan, mengingat  sebagian besar dikelola perusahaan besar, maka perkebunan sawit didukung  sektor Research and Development (R&amp;amp;D) yang memadai.

&amp;ldquo;Ini bukan mengenai baik dan benar. Ini masalah keunikan bahwa  R&amp;amp;D itu tidak berjalan di komoditas lain seperti karet dan kelapa  yang didominasi oleh perkebunan rakyat,&amp;rdquo; papar Darmin.

Devisa yang kita peroleh dari ekspor kelapa sawit dan turunannya pun  sudah ada pada angka USD20 miliar. &amp;ldquo;Jadi itulah situasinya. Kelapa sawit  ini bukan main-main,&amp;rdquo; sambung Darmin.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menerangkan, Indonesia telah  menerapkan Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) sejak tahun  2011. ISPO dirancang untuk memastikan bahwa kelapa sawit Indonesia  dikelola dengan Good Agricultural Practices/GAP sesuai dengan prinsip  sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

&amp;ldquo;Saat ini kita sedang melakukan proses penguatan ISPO dengan  menyiapkan Perpres baru. ISPO yang lama kurang tegas memberikan dukungan  ke perkebunan kecil,&amp;rdquo; ungkap Darmin.

Rancangan Perpres Penguatan ISPO tersebut saat ini sedang dalam tahap  harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM untuk kemudian diusulkan  pengesahannya ke Presiden.

&amp;ldquo;Dengan adanya aturan baru ini, perkebunan kecil bisa benar-benar memenuhi standar keberlanjutan,&amp;rdquo; jelas Darmin.
Pemerintah juga sedang memperbaiki tata kelola perkebunan kelapa   sawit melalui Instruksi Presiden (Inpres) 8 Tahun 2018 terkait   moratorium, evaluasi perizinan kebun sawitdan penundaan pemberian izin   baru.

Pemerintah pun telah menggulirkan program Peremajaan Sawit Rakyat   (PSR) untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit khususnya bagi   pekebun swadaya.

&amp;ldquo;Satu hal yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan limbah batang   sawit hasil peremajaan. Ini bisa menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan   produk kayu nasional dan internasional. Ini juga merupakan upaya   strategis untuk mengurangi emisi dan meningkatkan serapan karbon,&amp;rdquo; tegas   Darmin seraya menambahkan, kita ini bukan menebang kayu untuk menanam   sawit. Tapi yang benar adalah kita menanam sawit untuk menghidupkan   kembali hutan gundul.

Sinkronisasi data perkebunan sawit juga terus dilakukan. Ia menyadari   bahwa akurasi data berguna untuk mengoptimalkan potensi sawit dan   melawan seluruh upaya diskriminasi pihak luar.

Mengenai tantangan yang dihadapi Indonesia, salah satunya keputusan   Komisi Eropa mengeluarkan regulasi turunan (Delegated Act) dari   kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II), yang    mengklasifikasikan kelapa sawit sebagai komoditas bahan bakar nabati   yang tidak berkelanjutan dan berisiko tinggi ILUC (Indirect Land Use   Change), di samping tantangan lpengenaan bea masuk anti subsidi terhadap   biodiesel berbasis kelapa sawit ke Eropa, Menko Perekonomian Darmin   Nasution mengajak semua pihak bersinergi.

&amp;ldquo;Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan tengah mematangkan   strategi dan langkah diplomasi yang terintegrasi,&amp;rdquo; pungkas Darmin.</content:encoded></item></channel></rss>
