<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kemarau Panjang, Menko Darmin Khawatir Cabai dan Bawang Sumbang Inflasi</title><description>Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, ada sejumlah bahan pangan yang perlu diperhatikan pasokannya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/01/20/2086585/kemarau-panjang-menko-darmin-khawatir-cabai-dan-bawang-sumbang-inflasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/01/20/2086585/kemarau-panjang-menko-darmin-khawatir-cabai-dan-bawang-sumbang-inflasi"/><item><title>Kemarau Panjang, Menko Darmin Khawatir Cabai dan Bawang Sumbang Inflasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/01/20/2086585/kemarau-panjang-menko-darmin-khawatir-cabai-dan-bawang-sumbang-inflasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/01/20/2086585/kemarau-panjang-menko-darmin-khawatir-cabai-dan-bawang-sumbang-inflasi</guid><pubDate>Kamis 01 Agustus 2019 20:16 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/01/20/2086585/kemarau-panjang-menko-darmin-khawatir-cabai-dan-bawang-sumbang-inflasi-cS9XtND7Dm.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menko bidang Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/01/20/2086585/kemarau-panjang-menko-darmin-khawatir-cabai-dan-bawang-sumbang-inflasi-cS9XtND7Dm.jpeg</image><title>Menko bidang Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, ada sejumlah bahan pangan yang perlu diperhatikan pasokannya dalam mengantisipasi kemarau panjang. Pasalnya, kemarau yang berkepanjangan dapat memengaruhi tingkat inflasi secara signifikan.

Kemarau akan menyebabkan kekeringan sehingga berimbas pada tanaman pangan yang tidak berproduksi dengan baik. Pada akhirnya akan mempengaruhi besaran pasokan yang kemungkinan belum bisa memenuhi permintaan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Cabai hingga Biaya Sekolah Kerek Inflasi Juli Sebesar 0,31%
Darmin menyatakan, komoditas pangan yang perlu diperhatikan adalah jenis cabai dan bawang. Menurutnya, Indonesia belum memiliki langkah memenuhi pasokan kedua bahan pangan ini secara berkepanjangan. Seperti diketahui, untuk memenuhi kebutuhun bawang putih di Tanah Air memang masih perlu impor.

&quot;Sebenarnya yang mungkin harus diperhatikan lebih adalah bumbu-bumbuan seperti cabai dan bawang. Karena kita belum menemukan solusi yang sifatnya agak permanen,&quot; ujarnya di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (1/8/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: BPS: Inflasi Juli 2019 Sebesar 0,31%
Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatatkan, bahan makanan menjadi penyumbang inflasi pada Juli 2019 sebesar 0,80% dengan andil 0,43%. Komoditas utama pendorong inflasi adalah cabai merah sebesar 0,20%, cabai rawit 0,06%, serta cabai hijau 0,01%.
Sebaliknya, komoditas bawang putih dan bawang merah tercatat masih  menyumbang deflasi masing-masing sebesar 0,04% dan 0,02% di Juli 2019.

Umumnya harga cabai melonjak di musim hujan karena pasokan bekurang  akibat cabai mudah membusuk. Meski demikian, Darmin menilai naiknya  harga cabai saat ini di tengah musim kemarau merupakan hal yang mungkin  terjadi.

Pasalnya, bila penanaman mulai dilakukan jelang musim kemarau tentu  hasil panen juga tak maksimal. Sedangkan saat ini kemarau berlangsung  lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

&quot;Kalau sudah tumbuh di bulan April atau Mei itu enggak apa-apa  menemukan kemarau. Tapi kalau baru tanam pas baru kemarau nah itu  (hasilnya tidak maksimal), kecuali kalau ada irigasinya,&quot; katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Darmin, pihaknya akan berkoordinasi dengan  Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengetahui pasokan pangan,  khususnya cabai dan bawang guna mengantisipasi kemaran panjang.

&quot;Ini perlu di cek dulu pasokannya seperti apa ke Kementan, itu dalam  seminggu ini akan dilakukan sehingga baru mulai dihitung seperti apa  (kecukupan pasokannya),&quot; kata dia.
Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto juga menyebutkan, kemarau panjang   perlu menjadi perhatian pemerintah agar tidak mendorong laju inflasi   dengan tinggi.

&quot;Tahun ini memang agak beda karena ada perkiraan kemarau   berkepanjangan sampai Oktober 2019, ini perlu diperhatikan. Dampaknya ke   bahan makanan akan lebih baik kalau ini bisa diantisipasi,&quot; katanya di   Gedung BPS.

Suhariyanto sendiri meyakini untuk pasokan beras memadai dalam   menghadapi kemarau panjang. Hal itu berdasarkan rapat koordinasi yang   diikutinya bersama Darmin Nasution, Kementan dan Perum Bulog.

&quot;Kalau cadangan beras di Bulog yakin pasokannya memadai, karena kita   sudah beberapa kali rapat di Kemenko Perekonomian,&quot; kata dia.

</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, ada sejumlah bahan pangan yang perlu diperhatikan pasokannya dalam mengantisipasi kemarau panjang. Pasalnya, kemarau yang berkepanjangan dapat memengaruhi tingkat inflasi secara signifikan.

Kemarau akan menyebabkan kekeringan sehingga berimbas pada tanaman pangan yang tidak berproduksi dengan baik. Pada akhirnya akan mempengaruhi besaran pasokan yang kemungkinan belum bisa memenuhi permintaan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Cabai hingga Biaya Sekolah Kerek Inflasi Juli Sebesar 0,31%
Darmin menyatakan, komoditas pangan yang perlu diperhatikan adalah jenis cabai dan bawang. Menurutnya, Indonesia belum memiliki langkah memenuhi pasokan kedua bahan pangan ini secara berkepanjangan. Seperti diketahui, untuk memenuhi kebutuhun bawang putih di Tanah Air memang masih perlu impor.

&quot;Sebenarnya yang mungkin harus diperhatikan lebih adalah bumbu-bumbuan seperti cabai dan bawang. Karena kita belum menemukan solusi yang sifatnya agak permanen,&quot; ujarnya di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (1/8/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: BPS: Inflasi Juli 2019 Sebesar 0,31%
Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatatkan, bahan makanan menjadi penyumbang inflasi pada Juli 2019 sebesar 0,80% dengan andil 0,43%. Komoditas utama pendorong inflasi adalah cabai merah sebesar 0,20%, cabai rawit 0,06%, serta cabai hijau 0,01%.
Sebaliknya, komoditas bawang putih dan bawang merah tercatat masih  menyumbang deflasi masing-masing sebesar 0,04% dan 0,02% di Juli 2019.

Umumnya harga cabai melonjak di musim hujan karena pasokan bekurang  akibat cabai mudah membusuk. Meski demikian, Darmin menilai naiknya  harga cabai saat ini di tengah musim kemarau merupakan hal yang mungkin  terjadi.

Pasalnya, bila penanaman mulai dilakukan jelang musim kemarau tentu  hasil panen juga tak maksimal. Sedangkan saat ini kemarau berlangsung  lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.

&quot;Kalau sudah tumbuh di bulan April atau Mei itu enggak apa-apa  menemukan kemarau. Tapi kalau baru tanam pas baru kemarau nah itu  (hasilnya tidak maksimal), kecuali kalau ada irigasinya,&quot; katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Darmin, pihaknya akan berkoordinasi dengan  Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengetahui pasokan pangan,  khususnya cabai dan bawang guna mengantisipasi kemaran panjang.

&quot;Ini perlu di cek dulu pasokannya seperti apa ke Kementan, itu dalam  seminggu ini akan dilakukan sehingga baru mulai dihitung seperti apa  (kecukupan pasokannya),&quot; kata dia.
Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto juga menyebutkan, kemarau panjang   perlu menjadi perhatian pemerintah agar tidak mendorong laju inflasi   dengan tinggi.

&quot;Tahun ini memang agak beda karena ada perkiraan kemarau   berkepanjangan sampai Oktober 2019, ini perlu diperhatikan. Dampaknya ke   bahan makanan akan lebih baik kalau ini bisa diantisipasi,&quot; katanya di   Gedung BPS.

Suhariyanto sendiri meyakini untuk pasokan beras memadai dalam   menghadapi kemarau panjang. Hal itu berdasarkan rapat koordinasi yang   diikutinya bersama Darmin Nasution, Kementan dan Perum Bulog.

&quot;Kalau cadangan beras di Bulog yakin pasokannya memadai, karena kita   sudah beberapa kali rapat di Kemenko Perekonomian,&quot; kata dia.

</content:encoded></item></channel></rss>
