<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Tarif Trump Bikin Harga Minyak Melonjak 3%</title><description>Harga minyak naik sekitar 3% pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/03/320/2087209/tarif-trump-bikin-harga-minyak-melonjak-3</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/03/320/2087209/tarif-trump-bikin-harga-minyak-melonjak-3"/><item><title>   Tarif Trump Bikin Harga Minyak Melonjak 3%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/03/320/2087209/tarif-trump-bikin-harga-minyak-melonjak-3</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/03/320/2087209/tarif-trump-bikin-harga-minyak-melonjak-3</guid><pubDate>Sabtu 03 Agustus 2019 10:10 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/03/320/2087209/tarif-trump-bikin-harga-minyak-melonjak-3-FKfqc8BLj2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Shutterstock</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/03/320/2087209/tarif-trump-bikin-harga-minyak-melonjak-3-FKfqc8BLj2.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Shutterstock</title></images><description> 
NEW YORK - Harga minyak naik sekitar 3% pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), sehari setelah mencatat penurunan harian terbesar mereka dalam beberapa tahun karena ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif lebih banyak pada impor dari China.

Untuk minggu ini, harga acuan minyak mentah mencatat kerugian.

Tarif baru Washington terhadap China, yang mulai berlaku pada 1 September, mengintensifkan perang dagang antara dua ekonomi utama dunia. Setiap perlambatan ekonomi yang dihasilkan dapat mengganggu permintaan minyak mentah.
&amp;nbsp;Baca Juga: Trump Kenakan Tarif Tambahan 10% untuk Barang China Senilai USD300 Miliar
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober ditutup pada USD61,89 per barel, naik USD1,39 atau atau 2,30%. Acuan global turun lebih dari 7% pada Kamis 1 Agustus, penurunan harian tertajam dalam lebih dari tiga tahun.

Minyak mentah berjangka WTI untuk pengiriman September berakhir pada 55,66 dolar AS per barel, naik USD1,71 atau 3,17% setelah terjun hampir 8% pada Kamis, kerugian terbesar dalam lebih dari empat tahun.
&amp;nbsp;Baca Juga: Harga Jatuh, Minyak Mentah WTI Sentuh Level USD53,95 per Barel
Untuk minggu ini, Brent kehilangan sekitar 2,7%, sementara WTI turun sekitar 1,2%.
Sebelum penurunan Kamis, minyak mentah berjangka telah melihat reli  yang rapuh didukung oleh penarikan stabil dalam persediaan AS tetapi  ditekan oleh prospek permintaan global yang goyah.

&amp;ldquo;Pasar masih mencerna dampak tarif pada pasar minyak, tetapi  mengingat China telah mengambil sangat sedikit minyak mentah AS tahun  ini, kami melihat sedikit ruang untuk tarif yang secara langsung  berdampak pada fundamental pasar,&amp;rdquo; Ryan Fitzmaurice, analis RoboResearch  Commodities mengatakan dalam sebuah catatan. Demikian dikutip  Antaranews.

Trump mengatakan bahwa dia akan mengenakan tarif 10% pada impor China  senilai USD300 miliar dan mengatakan dia bisa menaikkan tarif lebih  lanjut jika presiden China, Xi Jinping, gagal bergerak lebih cepat  menuju kesepakatan perdagangan.

Pengumuman ini memperluas tarif AS ke hampir semua produk China yang  diimpor. China mengatakan tidak akan menerima &quot;intimidasi atau  pemerasan&quot; dan berjanji akan melakukan tindakan balasan.

China, yang pernah menjadi pembeli utama minyak mentah AS, memangkas  pembeliannya tahun lalu karena perang perdagangan berlarut-larut.
Namun, meningkatnya perang dagang dapat mendorong Federal Reserve AS   ke arah penurunan suku bunga lebih lanjut, yang kemungkinan akan   mendorong harga minyak.

&quot;Perang perdagangan akan meningkatkan peluang secara dramatis bahwa   The Fed harus menurunkan suku bunga lagi, mungkin dua kali tahun ini,&quot;   kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago.

Ekspor minyak mentah AS melonjak 260.000 barel per hari (bph) pada   Juni ke rekor bulanan 3,16 juta barel per hari karena Korea Selatan   membeli rekor volume dan China melanjutkan pembelian, data dari Biro   Sensus AS menunjukkan.

Pasar juga memantau penghitungan rig minyak mingguan AS, indikator   produksi di masa depan, yang turun selama lima minggu berturut-turut   karena sebagian besar produsen independen memangkas pengeluaran meskipun   perusahaan-perusahaan besar masih terus maju dengan investasi dalam   pengeboran baru.</description><content:encoded> 
NEW YORK - Harga minyak naik sekitar 3% pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), sehari setelah mencatat penurunan harian terbesar mereka dalam beberapa tahun karena ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif lebih banyak pada impor dari China.

Untuk minggu ini, harga acuan minyak mentah mencatat kerugian.

Tarif baru Washington terhadap China, yang mulai berlaku pada 1 September, mengintensifkan perang dagang antara dua ekonomi utama dunia. Setiap perlambatan ekonomi yang dihasilkan dapat mengganggu permintaan minyak mentah.
&amp;nbsp;Baca Juga: Trump Kenakan Tarif Tambahan 10% untuk Barang China Senilai USD300 Miliar
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober ditutup pada USD61,89 per barel, naik USD1,39 atau atau 2,30%. Acuan global turun lebih dari 7% pada Kamis 1 Agustus, penurunan harian tertajam dalam lebih dari tiga tahun.

Minyak mentah berjangka WTI untuk pengiriman September berakhir pada 55,66 dolar AS per barel, naik USD1,71 atau 3,17% setelah terjun hampir 8% pada Kamis, kerugian terbesar dalam lebih dari empat tahun.
&amp;nbsp;Baca Juga: Harga Jatuh, Minyak Mentah WTI Sentuh Level USD53,95 per Barel
Untuk minggu ini, Brent kehilangan sekitar 2,7%, sementara WTI turun sekitar 1,2%.
Sebelum penurunan Kamis, minyak mentah berjangka telah melihat reli  yang rapuh didukung oleh penarikan stabil dalam persediaan AS tetapi  ditekan oleh prospek permintaan global yang goyah.

&amp;ldquo;Pasar masih mencerna dampak tarif pada pasar minyak, tetapi  mengingat China telah mengambil sangat sedikit minyak mentah AS tahun  ini, kami melihat sedikit ruang untuk tarif yang secara langsung  berdampak pada fundamental pasar,&amp;rdquo; Ryan Fitzmaurice, analis RoboResearch  Commodities mengatakan dalam sebuah catatan. Demikian dikutip  Antaranews.

Trump mengatakan bahwa dia akan mengenakan tarif 10% pada impor China  senilai USD300 miliar dan mengatakan dia bisa menaikkan tarif lebih  lanjut jika presiden China, Xi Jinping, gagal bergerak lebih cepat  menuju kesepakatan perdagangan.

Pengumuman ini memperluas tarif AS ke hampir semua produk China yang  diimpor. China mengatakan tidak akan menerima &quot;intimidasi atau  pemerasan&quot; dan berjanji akan melakukan tindakan balasan.

China, yang pernah menjadi pembeli utama minyak mentah AS, memangkas  pembeliannya tahun lalu karena perang perdagangan berlarut-larut.
Namun, meningkatnya perang dagang dapat mendorong Federal Reserve AS   ke arah penurunan suku bunga lebih lanjut, yang kemungkinan akan   mendorong harga minyak.

&quot;Perang perdagangan akan meningkatkan peluang secara dramatis bahwa   The Fed harus menurunkan suku bunga lagi, mungkin dua kali tahun ini,&quot;   kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago.

Ekspor minyak mentah AS melonjak 260.000 barel per hari (bph) pada   Juni ke rekor bulanan 3,16 juta barel per hari karena Korea Selatan   membeli rekor volume dan China melanjutkan pembelian, data dari Biro   Sensus AS menunjukkan.

Pasar juga memantau penghitungan rig minyak mingguan AS, indikator   produksi di masa depan, yang turun selama lima minggu berturut-turut   karena sebagian besar produsen independen memangkas pengeluaran meskipun   perusahaan-perusahaan besar masih terus maju dengan investasi dalam   pengeboran baru.</content:encoded></item></channel></rss>
