<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekspor dan Investasi Loyo Jadi Penyebab Ekonomi RI Lesu di Kuartal II-2019</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05% pada kuartal II-2019.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/05/20/2087847/ekspor-dan-investasi-loyo-jadi-penyebab-ekonomi-ri-lesu-di-kuartal-ii-2019</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/05/20/2087847/ekspor-dan-investasi-loyo-jadi-penyebab-ekonomi-ri-lesu-di-kuartal-ii-2019"/><item><title>Ekspor dan Investasi Loyo Jadi Penyebab Ekonomi RI Lesu di Kuartal II-2019</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/05/20/2087847/ekspor-dan-investasi-loyo-jadi-penyebab-ekonomi-ri-lesu-di-kuartal-ii-2019</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/05/20/2087847/ekspor-dan-investasi-loyo-jadi-penyebab-ekonomi-ri-lesu-di-kuartal-ii-2019</guid><pubDate>Senin 05 Agustus 2019 13:37 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/05/20/2087847/ekspor-dan-investasi-loyo-jadi-penyebab-ekonomi-ri-lesu-di-kuartal-ii-2019-ZDsH6HH4Je.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2019 (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/05/20/2087847/ekspor-dan-investasi-loyo-jadi-penyebab-ekonomi-ri-lesu-di-kuartal-ii-2019-ZDsH6HH4Je.jpg</image><title>Foto: BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2019 (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05% pada kuartal II-2019. Realisasi ini melambat bila dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,07%, juga dari kuartal II-2018 yang sebesar 5,27% yoy.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekonomi RI Melambat, IHSG Anjlok 1,7% ke 6.229 di Jeda Sesi I
Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, dari seluruh komponen penopang pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran, ekspor dan impor yang pertumbuhannya mengalami kontraksi. Ekspor tercatat tumbuh negatif 1,81% (year on year/yoy) dengan kontribusinya 17,61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang secara nominal berjumlah Rp3.963,5 triliun.

&quot;Pertumbuhan ekspor yang mengalami kontraksi pada kuartal II-2019, jauh lebih dalam dibanding dengan kuartal II-2018 yang tahun lalu tumbuh 7,65%,&quot; ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (5/8/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2019 Hanya 5,05%
Dia menjelaskan, pertumbuhan ekspor barang mengalami kontraksi 2,06% di kuartal II-2019. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekspor barang migas yang turun 30,85%, sedangkan barang non migas masih tumbuh 2,17%.
Kendati demikian, ekspor jasa masih tercatat mengalami pertumbuhan 0,27%. Namun melambat jauh dibandingkan periode sama tahun lalu yang tumbuh 4,62%.

&quot;Penurunan nilai dan volume ekspor migas memang disertai dengan penurunan harga komoditas migas,&quot; kata pria yang akrab disapa Kecuk itu.
Sementara impor pertumbuhannya  mengalami kontraksi 6,73% dengan  kontribusinya terhadap PDB juga terkontraksi 18,53%. Utamanya pada  komoditas mesin/peralatan listrik, besi dan baja, kendaraan dan  bagiannya, gandum-ganduman, serta benda-benda dari besi dan baja.

Sedangkan untuk konsumsi rumah tangga tercatat masih menjadi penopang  utama pertumbuhan ekonomi. Kontribusinya pada PDB sebesar 55,79% dan  mengalami pertumbuhan 5,17% di kuartal II-2019.

Menurutnya, adanya momen musiman bulan Ramadan dan Lebaran mendorong  pertumbuhan konsumsi rumah tangga. &quot;Di sana ada pencairan THR dan gaji  ke-13 PNS,&quot; katanya.

Sementara, kontribusi terbesar kedua dari investasi atau Pembentukan  Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 31,25% terhadap PDB atau tumbuh 5,01%.  &quot;Investasi memang agak melambat tumbuhnya dari posisi kuartal I-2019  yang 5,03% dan kuartal II-2018 yang 5,85%,&quot; katanya.

Adapun pertumbuhan tertinggi terjadi pada konsumsi lembaga nonprofit  yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 15,27%, meski kontribusinya  kecil hanya 1,34% pada PDB. Hal ini karena didorongnya penyelenggaraan  Pemilu 2019. &quot;Memang pertumbuhannya tinggi tapi share-nya kecil, jadi  tidak terlalu berdampak,&quot; katanya.

Kemudian, konsumsi pemerintah juga mengalami pertumbuhan tinggi yakni  8,23%, kontribusinya terhadap PDB sebesar 8,71%. Hal ini didorong  kenaikan realisasi belanja barang dan jasa, juga naiknya belanja  pegawai.

&quot;Karena adanya penambahan PNS juga tunjangan tambahan,&quot; katanya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05% pada kuartal II-2019. Realisasi ini melambat bila dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,07%, juga dari kuartal II-2018 yang sebesar 5,27% yoy.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ekonomi RI Melambat, IHSG Anjlok 1,7% ke 6.229 di Jeda Sesi I
Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, dari seluruh komponen penopang pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran, ekspor dan impor yang pertumbuhannya mengalami kontraksi. Ekspor tercatat tumbuh negatif 1,81% (year on year/yoy) dengan kontribusinya 17,61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang secara nominal berjumlah Rp3.963,5 triliun.

&quot;Pertumbuhan ekspor yang mengalami kontraksi pada kuartal II-2019, jauh lebih dalam dibanding dengan kuartal II-2018 yang tahun lalu tumbuh 7,65%,&quot; ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (5/8/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2019 Hanya 5,05%
Dia menjelaskan, pertumbuhan ekspor barang mengalami kontraksi 2,06% di kuartal II-2019. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekspor barang migas yang turun 30,85%, sedangkan barang non migas masih tumbuh 2,17%.
Kendati demikian, ekspor jasa masih tercatat mengalami pertumbuhan 0,27%. Namun melambat jauh dibandingkan periode sama tahun lalu yang tumbuh 4,62%.

&quot;Penurunan nilai dan volume ekspor migas memang disertai dengan penurunan harga komoditas migas,&quot; kata pria yang akrab disapa Kecuk itu.
Sementara impor pertumbuhannya  mengalami kontraksi 6,73% dengan  kontribusinya terhadap PDB juga terkontraksi 18,53%. Utamanya pada  komoditas mesin/peralatan listrik, besi dan baja, kendaraan dan  bagiannya, gandum-ganduman, serta benda-benda dari besi dan baja.

Sedangkan untuk konsumsi rumah tangga tercatat masih menjadi penopang  utama pertumbuhan ekonomi. Kontribusinya pada PDB sebesar 55,79% dan  mengalami pertumbuhan 5,17% di kuartal II-2019.

Menurutnya, adanya momen musiman bulan Ramadan dan Lebaran mendorong  pertumbuhan konsumsi rumah tangga. &quot;Di sana ada pencairan THR dan gaji  ke-13 PNS,&quot; katanya.

Sementara, kontribusi terbesar kedua dari investasi atau Pembentukan  Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 31,25% terhadap PDB atau tumbuh 5,01%.  &quot;Investasi memang agak melambat tumbuhnya dari posisi kuartal I-2019  yang 5,03% dan kuartal II-2018 yang 5,85%,&quot; katanya.

Adapun pertumbuhan tertinggi terjadi pada konsumsi lembaga nonprofit  yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 15,27%, meski kontribusinya  kecil hanya 1,34% pada PDB. Hal ini karena didorongnya penyelenggaraan  Pemilu 2019. &quot;Memang pertumbuhannya tinggi tapi share-nya kecil, jadi  tidak terlalu berdampak,&quot; katanya.

Kemudian, konsumsi pemerintah juga mengalami pertumbuhan tinggi yakni  8,23%, kontribusinya terhadap PDB sebesar 8,71%. Hal ini didorong  kenaikan realisasi belanja barang dan jasa, juga naiknya belanja  pegawai.

&quot;Karena adanya penambahan PNS juga tunjangan tambahan,&quot; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
