<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mati Listrik Serentak, Perlukah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir?</title><description>Pemadaman listrik yang berlangsung hingga dua hari lamanya membuat  penggunaan PLTN sudah saatnya untuk dilakukan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/06/320/2088613/mati-listrik-serentak-perlukah-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/06/320/2088613/mati-listrik-serentak-perlukah-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir"/><item><title>Mati Listrik Serentak, Perlukah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/06/320/2088613/mati-listrik-serentak-perlukah-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/06/320/2088613/mati-listrik-serentak-perlukah-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir</guid><pubDate>Selasa 06 Agustus 2019 20:07 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/06/320/2088613/mati-listrik-serentak-perlukah-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir-PtJqAycRIF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Nuklir (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/06/320/2088613/mati-listrik-serentak-perlukah-pembangkit-listrik-tenaga-nuklir-PtJqAycRIF.jpg</image><title>Nuklir (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Pemadaman listrik yang berlangsung hingga dua hari lamanya membuat penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sudah saatnya untuk dilakukan. Pasalnya penggunaan PLTN dinilai lebih stabil dibandingkan pembangkit listrik lainnya.

Anggota komisi VII DPR-RI, Kurtubi mengatakan, pembangkit listrik tenaga nuklir harus masuk dalam sistem kelistrikan nasional. Sebab, melalui PLTN ini salah satu langkah untuk menjadi negara maju yang mengandalkan industri.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bahan Bakar Nuklir Dipindah dari PLTN
&amp;ldquo;Tanpa nuklir sulit untuk memperoleh listrik yang  cukup handal 24 jam bersih dan cost yang kompetitif ya aman,&amp;rdquo; ujarnya saat ditemui di Komplek DPR-RI, Jakarta, Selasa (6/8/2019)

Menurut Kurtubi, listrik merupakan kebutuhan penting bagi industri di dalam negeri. Karena begitu listrik mati seluruh industri mengalami kelumpuhan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Berisiko dan Biaya Tinggi, Rencana PLTN Perlu Dikaji Ulang
&amp;ldquo;Listrik di negara kita amat sangat penting baru mati 30 jam MR contohnya, menderita bagaimana ke depan kalau MRT ini kita ada ke segala arah di Jakarta, gimana kalau LRT sudah ada bagaimana kalau sebagian besar kendaraan kita sudah listrik semua,&amp;rdquo; jelasnya.

Kurtubi menambahkan jika adanya PLTN bisa meningkatkan kapasitas listrik di Jawa dan Bali. Bahkan peningkatannya hampir berkali-lali lipat.
&amp;ldquo;Bagaimana kalau jumlah pebangkit yang ada  di Jawa, Bali. Pulau Jawa  ini yang sekarang 30 gigawatt menjadi lima kali lipat 150 gigawatt  untuk industri maju,&amp;rdquo; jelas Kurtubi.

&amp;ldquo;Di pulau Jawa pembangkit listrik minimal  150 giga watt untuk jadi  industri negara maju sekarang kita punya 30 di jawa. Bagaimana kita mau  handle sebanyak itu,&amp;rdquo; imbuhnya.

Selain itu, penggunaan PLTN juga dinilai lebih ramah lingkungan.  Khusus Jakarta dirinya yakin polusi di Jakarta bisa membaik dengan  penggunaan PLTN ini.

&amp;ldquo;Pengalaman minggu lalu Jakarta semua pihak  protes kenapa udara kita  penuh,  itu menggaggu kesehatan, ini kami haus tangkap  keinginan  rakyat yang inginkan udara bersih itu,&amp;rdquo; jelas Kurtubi.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemadaman listrik yang berlangsung hingga dua hari lamanya membuat penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sudah saatnya untuk dilakukan. Pasalnya penggunaan PLTN dinilai lebih stabil dibandingkan pembangkit listrik lainnya.

Anggota komisi VII DPR-RI, Kurtubi mengatakan, pembangkit listrik tenaga nuklir harus masuk dalam sistem kelistrikan nasional. Sebab, melalui PLTN ini salah satu langkah untuk menjadi negara maju yang mengandalkan industri.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bahan Bakar Nuklir Dipindah dari PLTN
&amp;ldquo;Tanpa nuklir sulit untuk memperoleh listrik yang  cukup handal 24 jam bersih dan cost yang kompetitif ya aman,&amp;rdquo; ujarnya saat ditemui di Komplek DPR-RI, Jakarta, Selasa (6/8/2019)

Menurut Kurtubi, listrik merupakan kebutuhan penting bagi industri di dalam negeri. Karena begitu listrik mati seluruh industri mengalami kelumpuhan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Berisiko dan Biaya Tinggi, Rencana PLTN Perlu Dikaji Ulang
&amp;ldquo;Listrik di negara kita amat sangat penting baru mati 30 jam MR contohnya, menderita bagaimana ke depan kalau MRT ini kita ada ke segala arah di Jakarta, gimana kalau LRT sudah ada bagaimana kalau sebagian besar kendaraan kita sudah listrik semua,&amp;rdquo; jelasnya.

Kurtubi menambahkan jika adanya PLTN bisa meningkatkan kapasitas listrik di Jawa dan Bali. Bahkan peningkatannya hampir berkali-lali lipat.
&amp;ldquo;Bagaimana kalau jumlah pebangkit yang ada  di Jawa, Bali. Pulau Jawa  ini yang sekarang 30 gigawatt menjadi lima kali lipat 150 gigawatt  untuk industri maju,&amp;rdquo; jelas Kurtubi.

&amp;ldquo;Di pulau Jawa pembangkit listrik minimal  150 giga watt untuk jadi  industri negara maju sekarang kita punya 30 di jawa. Bagaimana kita mau  handle sebanyak itu,&amp;rdquo; imbuhnya.

Selain itu, penggunaan PLTN juga dinilai lebih ramah lingkungan.  Khusus Jakarta dirinya yakin polusi di Jakarta bisa membaik dengan  penggunaan PLTN ini.

&amp;ldquo;Pengalaman minggu lalu Jakarta semua pihak  protes kenapa udara kita  penuh,  itu menggaggu kesehatan, ini kami haus tangkap  keinginan  rakyat yang inginkan udara bersih itu,&amp;rdquo; jelas Kurtubi.</content:encoded></item></channel></rss>
