<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perang Dagang 4 Negara hingga Kasus Yuan, Destry: Ekonomi RI Tidak Mudah</title><description>Ke depan ekonomi Indonesia tidak akan mudah, lantaran harus menghadapi tantangan ekonomi global yang kian pelik</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/20/2088862/perang-dagang-4-negara-hingga-kasus-yuan-destry-ekonomi-ri-tidak-mudah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/20/2088862/perang-dagang-4-negara-hingga-kasus-yuan-destry-ekonomi-ri-tidak-mudah"/><item><title>Perang Dagang 4 Negara hingga Kasus Yuan, Destry: Ekonomi RI Tidak Mudah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/20/2088862/perang-dagang-4-negara-hingga-kasus-yuan-destry-ekonomi-ri-tidak-mudah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/20/2088862/perang-dagang-4-negara-hingga-kasus-yuan-destry-ekonomi-ri-tidak-mudah</guid><pubDate>Rabu 07 Agustus 2019 13:47 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/07/20/2088862/perang-dagang-4-negara-hingga-kasus-yuan-destry-ekonomi-ri-tidak-mudah-1QF1SeJvKh.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/07/20/2088862/perang-dagang-4-negara-hingga-kasus-yuan-destry-ekonomi-ri-tidak-mudah-1QF1SeJvKh.jpeg</image><title>Foto: Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti</title></images><description> 
JAKARTA - Destry Damayanti resmi menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), usai mengambil sumpah jabatan di Mahkamah Agung (MA) pada hari ini.
Usai dilantik, Destry menjelaskan, ke depan ekonomi Indonesia tidak akan mudah, lantaran harus menghadapi tantangan ekonomi global yang kian pelik. Hal itu ditandai dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang semakin memanas.
Baca Juga: Rupiah Kian Menguat, Bagaimana Prospek Ekonomi RI di Semester II-2019?
Belum lagi perang dagang yang terjadi antara Jepang dan Korea Selatan. Kondisi tersebut menunjukkan ketidakpastian yang masih menyelimuti ekonomi global.
&quot;Dari China juga ada aksi melakukan melakukan depresiasi pada mata uang Yuan terhadap Dolar AS yang cukup signifikan dan patut diwaspadai,&quot; ujarnya usai pelantikan di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Tabu (7/8/2019).
Baca Juga: Menko Darmin: Ekonomi Indonesia 2019 Bisa Dipertahankan
Di sisi lain, imbas perang dagang itu juga membuat perlambatan ekonomi global. Terlihat dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang menurunkan proyeksinya dari 3,3% menjadi 3,2% dalam laporannya di Juli 2019, begitu pula dengan Bank Dunia dari 2,9% menjadi 2,6% dalam laporannya di Juni 2019&quot;Pengaruh global itu cukup berikan dampak pada negara emerging market  keseluruhan, termasuk ekonomi domestik, jadi kita perlu mewaspadai dan  terus memonitor bagaimana perkembangan yang terjadi di global,&quot;  ungkapnya.
Sedangkan dari sisi domestik, yang menjadi tantangan adalah  pertumbuhan ekonomi masih mengandalkan konsumsi rumah tangga. Oleh sebab  itu, perlu semakin mendorong masuknya investasi ke dalam negeri.
&quot;Sebab dari konsumsi masyarakat dan investasi, kalau bisa fokus pada  dua hal ini maka pertumbuhan akan signifikan, karena keduanya sumbang  80% dari PDB (Produk Domestik Bruto),&quot; ujar dia.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Destry Damayanti resmi menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), usai mengambil sumpah jabatan di Mahkamah Agung (MA) pada hari ini.
Usai dilantik, Destry menjelaskan, ke depan ekonomi Indonesia tidak akan mudah, lantaran harus menghadapi tantangan ekonomi global yang kian pelik. Hal itu ditandai dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang semakin memanas.
Baca Juga: Rupiah Kian Menguat, Bagaimana Prospek Ekonomi RI di Semester II-2019?
Belum lagi perang dagang yang terjadi antara Jepang dan Korea Selatan. Kondisi tersebut menunjukkan ketidakpastian yang masih menyelimuti ekonomi global.
&quot;Dari China juga ada aksi melakukan melakukan depresiasi pada mata uang Yuan terhadap Dolar AS yang cukup signifikan dan patut diwaspadai,&quot; ujarnya usai pelantikan di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Tabu (7/8/2019).
Baca Juga: Menko Darmin: Ekonomi Indonesia 2019 Bisa Dipertahankan
Di sisi lain, imbas perang dagang itu juga membuat perlambatan ekonomi global. Terlihat dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang menurunkan proyeksinya dari 3,3% menjadi 3,2% dalam laporannya di Juli 2019, begitu pula dengan Bank Dunia dari 2,9% menjadi 2,6% dalam laporannya di Juni 2019&quot;Pengaruh global itu cukup berikan dampak pada negara emerging market  keseluruhan, termasuk ekonomi domestik, jadi kita perlu mewaspadai dan  terus memonitor bagaimana perkembangan yang terjadi di global,&quot;  ungkapnya.
Sedangkan dari sisi domestik, yang menjadi tantangan adalah  pertumbuhan ekonomi masih mengandalkan konsumsi rumah tangga. Oleh sebab  itu, perlu semakin mendorong masuknya investasi ke dalam negeri.
&quot;Sebab dari konsumsi masyarakat dan investasi, kalau bisa fokus pada  dua hal ini maka pertumbuhan akan signifikan, karena keduanya sumbang  80% dari PDB (Produk Domestik Bruto),&quot; ujar dia.</content:encoded></item></channel></rss>
