<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Destry Beri Sinyal Penurunan Suku Bunga BI   </title><description>Destry Damayanti memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter. Hal ini sejalan dengan sikap bank sentral negara lainnya</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/20/2088982/destry-beri-sinyal-penurunan-suku-bunga-bi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/20/2088982/destry-beri-sinyal-penurunan-suku-bunga-bi"/><item><title>Destry Beri Sinyal Penurunan Suku Bunga BI   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/20/2088982/destry-beri-sinyal-penurunan-suku-bunga-bi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/20/2088982/destry-beri-sinyal-penurunan-suku-bunga-bi</guid><pubDate>Rabu 07 Agustus 2019 17:22 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/07/20/2088982/destry-beri-sinyal-penurunan-suku-bunga-bi-oV3SlXHswl.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/07/20/2088982/destry-beri-sinyal-penurunan-suku-bunga-bi-oV3SlXHswl.jpeg</image><title>Foto: Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti</title></images><description>JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter. Hal ini sejalan dengan sikap bank sentral negara lainnya dalam merespons perlambatan ekonomi global.
Dia menyatakan, dalam memutuskan kebijakan moneter tentu mempertimbangkan ekonomi global dan domestik. Saat ini yang menjadi perhatian dari eksternal yakni eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang menyebabkan perlambatan ekonomi global.
Baca Juga: Wapres JK: BI Penting Jaga Keseimbangan Moneternya
Kondisi tersebut, lanjut Destry, direspons The Fed dengan mengubah arah kebijakannya yang lebih melunak yakni melonggarkan kebijakan moneter. Bank Sentral AS itu telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps pada akhir Juli 2019 ke kisaran 2% hingga 2,25%.
&quot;Jadi kalau kita lihat tren ekonomi global  adalah perlambatan dan kebijakan suku bunga acuan cenderung untuk lebih easing, cenderung untuk melonggarkan,&quot; ujarnya di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (7/8/2019).
Baca Juga: JK Minta BI Jangan Sering Naikan Suku Bunga Acuan
Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik juga mendukung ditandai dengan inflasi yang terjaga sesuai sasaran dikisaran 3,5% plus minus 1% sejak 4 tahun terakhir.
&quot;Kita lihat dari core inflation atau dari food inflation yang volatile food, yang biasanya turun naik itu sudah mulai terkendali, karena memang penanganan tidak hanya dari sisi demand side tapi dari supply side,&quot; jelas dia.Sektor industri juga dinilai terkendali didorong dengan penyaluran  kredit oleh perbankan. Di mana menurutnya, likuiditas perbankan semakin  membaik karena didorong kebijakan BI menurunkan rasio Giro Wajib Minimum  (GWM) denominasi Rupiah sebesar 50 bps, juga penurunan suku bunga acuan  sebesar 25 bps ke level 5,7%.
Upaya untuk menjaga stabilitas dan mendorong investasi tersebut,  lanjut Destry, akan terus dipertahankan. Sehingga ke depan Bank Sentral  akan terus memberikan kebijakan moneter dan makropudensial yang  akomodatif.
&quot;Nampaknya kita melihat arah dari easing monetery policy ini akan  kita lihat dalam jangka waktu cukup panjang ke depan. Karena kita memang  membutuhkan satu stimulus kuat untuk pertumbuhan ekonomi ke depannya,&quot;  jelas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter. Hal ini sejalan dengan sikap bank sentral negara lainnya dalam merespons perlambatan ekonomi global.
Dia menyatakan, dalam memutuskan kebijakan moneter tentu mempertimbangkan ekonomi global dan domestik. Saat ini yang menjadi perhatian dari eksternal yakni eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang menyebabkan perlambatan ekonomi global.
Baca Juga: Wapres JK: BI Penting Jaga Keseimbangan Moneternya
Kondisi tersebut, lanjut Destry, direspons The Fed dengan mengubah arah kebijakannya yang lebih melunak yakni melonggarkan kebijakan moneter. Bank Sentral AS itu telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps pada akhir Juli 2019 ke kisaran 2% hingga 2,25%.
&quot;Jadi kalau kita lihat tren ekonomi global  adalah perlambatan dan kebijakan suku bunga acuan cenderung untuk lebih easing, cenderung untuk melonggarkan,&quot; ujarnya di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (7/8/2019).
Baca Juga: JK Minta BI Jangan Sering Naikan Suku Bunga Acuan
Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik juga mendukung ditandai dengan inflasi yang terjaga sesuai sasaran dikisaran 3,5% plus minus 1% sejak 4 tahun terakhir.
&quot;Kita lihat dari core inflation atau dari food inflation yang volatile food, yang biasanya turun naik itu sudah mulai terkendali, karena memang penanganan tidak hanya dari sisi demand side tapi dari supply side,&quot; jelas dia.Sektor industri juga dinilai terkendali didorong dengan penyaluran  kredit oleh perbankan. Di mana menurutnya, likuiditas perbankan semakin  membaik karena didorong kebijakan BI menurunkan rasio Giro Wajib Minimum  (GWM) denominasi Rupiah sebesar 50 bps, juga penurunan suku bunga acuan  sebesar 25 bps ke level 5,7%.
Upaya untuk menjaga stabilitas dan mendorong investasi tersebut,  lanjut Destry, akan terus dipertahankan. Sehingga ke depan Bank Sentral  akan terus memberikan kebijakan moneter dan makropudensial yang  akomodatif.
&quot;Nampaknya kita melihat arah dari easing monetery policy ini akan  kita lihat dalam jangka waktu cukup panjang ke depan. Karena kita memang  membutuhkan satu stimulus kuat untuk pertumbuhan ekonomi ke depannya,&quot;  jelas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
