<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Milenial Bergaji UMP Hobi Ngopi-Ngopi, Begini Siasati Gaya Hidup vs Penghasilan   </title><description>Milenial perlu memperhatikan gaya hidupnya, apakah sesuai penghasilan atau tidak</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/320/2088372/milenial-bergaji-ump-hobi-ngopi-ngopi-begini-siasati-gaya-hidup-vs-penghasilan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/320/2088372/milenial-bergaji-ump-hobi-ngopi-ngopi-begini-siasati-gaya-hidup-vs-penghasilan"/><item><title>Milenial Bergaji UMP Hobi Ngopi-Ngopi, Begini Siasati Gaya Hidup vs Penghasilan   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/320/2088372/milenial-bergaji-ump-hobi-ngopi-ngopi-begini-siasati-gaya-hidup-vs-penghasilan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/07/320/2088372/milenial-bergaji-ump-hobi-ngopi-ngopi-begini-siasati-gaya-hidup-vs-penghasilan</guid><pubDate>Rabu 07 Agustus 2019 06:15 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/06/320/2088372/milenial-bergaji-ump-hobi-ngopi-ngopi-begini-siasati-gaya-hidup-vs-penghasilan-DkacKlOuPo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Mengelola Keuangan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/06/320/2088372/milenial-bergaji-ump-hobi-ngopi-ngopi-begini-siasati-gaya-hidup-vs-penghasilan-DkacKlOuPo.jpg</image><title>Ilustrasi Mengelola Keuangan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Gaya hidup milenial yang konsumtif membuat kantong yang dirogoh sangat dalam. Bagaimana tidak, untuk secangkir kopi saja setidaknya perlu mengeluarkan Rp50.000.
Hal tersebut karena gaya hidup milenial yang kini suka nongkrong di coffee shop. Belum lagi soal gaya hidup lainnya seperti belanja online, nonton, dan traveling.
Baca Juga: Syukuri Saja Gaji Kamu, Ini Tips Mengelolanya!
Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menyatakan, milenial perlu memperhatikan gaya hidupnya, apakah sesuai penghasilan atau tidak. Menurutnya, jangan sampai dengan penghasilan yang pas-pasan, namun gaya hidupnya berlebihan.
Hal ini tentu akan merusak keuangan, milenial menjadi tak memiliki tabungan. Apalagi memiliki dana darurat, karena memenuhi gaya hidup.&amp;nbsp;
&quot;Biaya hidup itu murah, sementara yang jadi mahal itu gaya hidup. Jangan sampai penghasilan kita itu mengikuti gaya hidup kita. Harus gaya hidup yang mengikuti penghasilan kita,&quot; ujarnya kepada Okezone.
Baca Juga: Gaji Pas-pasan Tetap Bisa Beli Rumah, Begini Siasatinya
Terlebih pada milenial yang merupakan lulusan baru atau fresh graduate, umumnya hanya berpenghasilan sebesar Rp4 juta hingga Rp5 juta. Milenial harus cermat dalam mengelola pendapatan tersebut, sehingga tak hanya untuk konsumsi tapi juga untuk tabungan.
&quot;Maka enggak bisa memaksakan mengikuti gaya hidup yang penghasilannya sudah Rp20 juta, padahal penghasilannya Rp5 juta,&quot; katanya.Oleh sebab itu, Andy menekankan, milenial harus belajar untuk  menabung dan menyisikan penghasilannya untuk kebutuhan dana darurat.  Tentu saja, kebiasaan komsumtif milenial tetap bisa dilakukan, namun  frekuensinya perlu dikurangi.
Seperti soal nongkrong di cafe. Menurut Andy, saat ini anak milenial  hampir setiap malam suka nongkrong, atau setidaknya meluangkan waktu 3-4  kali dalam seminggu untuk nongkrong. Kebiasaan ini sangat menguras isi  kantong.
Sehingga untuk bisa mengelola uang dengan baik, yakni tetap memiliki  dana cadangan untuk masa depan, kebiasaan tersebut perlu dikurangi.  &quot;Jadi yah cukup cukup jadi sebulan sekali atau dua kali nongkrongnya,&quot;  kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Gaya hidup milenial yang konsumtif membuat kantong yang dirogoh sangat dalam. Bagaimana tidak, untuk secangkir kopi saja setidaknya perlu mengeluarkan Rp50.000.
Hal tersebut karena gaya hidup milenial yang kini suka nongkrong di coffee shop. Belum lagi soal gaya hidup lainnya seperti belanja online, nonton, dan traveling.
Baca Juga: Syukuri Saja Gaji Kamu, Ini Tips Mengelolanya!
Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho menyatakan, milenial perlu memperhatikan gaya hidupnya, apakah sesuai penghasilan atau tidak. Menurutnya, jangan sampai dengan penghasilan yang pas-pasan, namun gaya hidupnya berlebihan.
Hal ini tentu akan merusak keuangan, milenial menjadi tak memiliki tabungan. Apalagi memiliki dana darurat, karena memenuhi gaya hidup.&amp;nbsp;
&quot;Biaya hidup itu murah, sementara yang jadi mahal itu gaya hidup. Jangan sampai penghasilan kita itu mengikuti gaya hidup kita. Harus gaya hidup yang mengikuti penghasilan kita,&quot; ujarnya kepada Okezone.
Baca Juga: Gaji Pas-pasan Tetap Bisa Beli Rumah, Begini Siasatinya
Terlebih pada milenial yang merupakan lulusan baru atau fresh graduate, umumnya hanya berpenghasilan sebesar Rp4 juta hingga Rp5 juta. Milenial harus cermat dalam mengelola pendapatan tersebut, sehingga tak hanya untuk konsumsi tapi juga untuk tabungan.
&quot;Maka enggak bisa memaksakan mengikuti gaya hidup yang penghasilannya sudah Rp20 juta, padahal penghasilannya Rp5 juta,&quot; katanya.Oleh sebab itu, Andy menekankan, milenial harus belajar untuk  menabung dan menyisikan penghasilannya untuk kebutuhan dana darurat.  Tentu saja, kebiasaan komsumtif milenial tetap bisa dilakukan, namun  frekuensinya perlu dikurangi.
Seperti soal nongkrong di cafe. Menurut Andy, saat ini anak milenial  hampir setiap malam suka nongkrong, atau setidaknya meluangkan waktu 3-4  kali dalam seminggu untuk nongkrong. Kebiasaan ini sangat menguras isi  kantong.
Sehingga untuk bisa mengelola uang dengan baik, yakni tetap memiliki  dana cadangan untuk masa depan, kebiasaan tersebut perlu dikurangi.  &quot;Jadi yah cukup cukup jadi sebulan sekali atau dua kali nongkrongnya,&quot;  kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
