<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peran Generasi Petani Milenial di Era Pertanian 4.0</title><description>Generasi muda atau saat ini bisa disebut pemuda milenial menjadi penentu kemajuan pertanian di masa depan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/09/320/2089678/peran-generasi-petani-milenial-di-era-pertanian-4-0</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/09/320/2089678/peran-generasi-petani-milenial-di-era-pertanian-4-0"/><item><title>Peran Generasi Petani Milenial di Era Pertanian 4.0</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/09/320/2089678/peran-generasi-petani-milenial-di-era-pertanian-4-0</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/09/320/2089678/peran-generasi-petani-milenial-di-era-pertanian-4-0</guid><pubDate>Jum'at 09 Agustus 2019 08:29 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/09/320/2089678/peran-generasi-petani-milenial-di-era-pertanian-4-0-pjnLbIzxIB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Peran Petani Milenial</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/09/320/2089678/peran-generasi-petani-milenial-di-era-pertanian-4-0-pjnLbIzxIB.jpg</image><title>Foto: Peran Petani Milenial</title></images><description>JAKARTA - Generasi muda atau saat ini bisa disebut pemuda milenial menjadi penentu kemajuan pertanian di masa depan. Estafet petani selanjutnya adalah pada pundak generasi muda, mereka mempunyai inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian.

Hal itu diutarakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (9/8/2019)

&amp;ldquo;ini sebagai tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden Joko Widodo dan Bapak Menteri Pertanian bahwa pada tahun 2019 ini pemerintah tengah fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, ke depan akan lebih ditingkatkan lagi untuk menciptakan SDM profesional melalui pendidikan dan pelatihan di sektor pertanian. Selain itu kemajuan teknologi dan era pertanian 4.0 menuntut kami untuk fokus pada penyiapan SDM yang siap bersaing dan menciptakan SDM profesional di sektor pertanian,&amp;rdquo; tutur Dedi.
Baca Juga: Kementerian Pertanian Dorong Generasi Milenial Masuk Industri Pertanian 4.0
Dedi juga menyampaikan bahwa membangun pertanian memang amat penting. Terlebih di era revolusi industri yang ke-empat ini atau biasa disebut juga Industri 4.0. Revolusi industri ini ditandai dengan penggunaan mesin-mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet.

Sektor pertanian juga perlu beradaptasi dengan teknologi 4.0 untuk menjawab tantangan ke depan. Pasalnya, pertanian tak mungkin bisa mencukupi kebutuhan penduduk yang terus bertambah tanpa teknologi. Ini juga yang jadi gagasan Presiden Jokowi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Setelah Petani, Kini Kementan Tumbuhkan Eksportir Milenial
Di era keterbukaan informasi pada pertanian 4.0, sistem informasi pertanian dan mekanisasi pertanian menjadi tools yang sangat strategis bagi institusi pendidikan di bawah Kementrian Pertanian yaitu Polbangtan dan PEPI dalam upaya menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap teknologi, yang siap terjun ke dunia kerja dan wirausaha agribisnis, berorientasi ekspor serta menjadi agents of changes dalam pembangunan pertanian, utamanya penyebaran informasi pertanian bagi stakeholders dan modernisasi pertanian.
&amp;nbsp;Pengembangan sistem informasi pertanian (ICT, IoT, artificial  intelligent) diperuntukkan bagi kepentingan penyebaran informasi baik  secara internal maupun secara eksternal dengan maksud memberikan layanan  terhadap informasi secara cepat, tepat, akurat dan kekinian yang dapat  mendukung institusi dalam pengambilan keputusan.

Dekan Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Kudang Boro  Seminar menyampaikan bahwa pertanian itu sejatinya menyatukan antara  darat, lautan, dan udara yang kegiatannya meliputi dari lahan hingga  sampai ke meja makan.

&quot;Itulah mengapa kita tidak bisa membatasi keilmuan kita melainkan  perlu menjadikannya sebagai pendekatan transdisiplin,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kementan Terus Berupaya Menciptakan Petani dari Kalangan Milenial
Intinya, pertanian 4.0, dibutuhkan keterhubungan dan keterpaduan  bekerja sama yang terintegrasi sehingga nantinya pertanian 4.0 mampu  menjadikan teknologi sebagai sarana yang memudahkan petani, bukan  sekedar hiburan saja.

&amp;ldquo;Pertanian 4.0 bercirikan pertanian yang aktifitas dan atau proses  bisnisnya harus melibatkan teknologi informasi dan jaringan internet  yang menghubungkan semua unit operasinya dengan berbagai instrumen  (sensor, satelit, drone) dan peralatan (robot dan mesin) yang  memungkinkan itu semua bekerja secara sinergis, cepat, akurat dan cerdas  berdasarkan data dan informasi relevan terkini. SDM yang kita miliki  harus paham akan hal tersebut, sehingga peran dari generasi muda atau  generasi milenial ini yang menjadi penggerak pertanian 4.0, &amp;ldquo; ungkap  Kudang.

Gegap gempita pertanian 4.0 harus diiringi kesiapan sumber daya  manusia dan perubahan paradigma berfikir untuk terus maju membangun  sektor pertanian sebagai penggerak perokonomian rakyat, dan tulang  punggung ekonomi masyarakat Indonesia.

Diperlukan komitmen bersama dan kuat untuk menjaga predikat bahwa  lembaga Pendidikan di Sektor pertanian sebagai pencipta sdm yang  lulusannya sebagai lulusan yang siap menjadi tenaga kerja pertanian yang  siap kerja (job seeker) maupun siap menjadi wirausaha pertanian (job  creator), dan terjaga kualitas, kuantitas dan eksistensinya dalam rangka  menyongsong era pertanian 4.0.</description><content:encoded>JAKARTA - Generasi muda atau saat ini bisa disebut pemuda milenial menjadi penentu kemajuan pertanian di masa depan. Estafet petani selanjutnya adalah pada pundak generasi muda, mereka mempunyai inovasi dan gagasan kreatif yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan pertanian.

Hal itu diutarakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (9/8/2019)

&amp;ldquo;ini sebagai tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden Joko Widodo dan Bapak Menteri Pertanian bahwa pada tahun 2019 ini pemerintah tengah fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, ke depan akan lebih ditingkatkan lagi untuk menciptakan SDM profesional melalui pendidikan dan pelatihan di sektor pertanian. Selain itu kemajuan teknologi dan era pertanian 4.0 menuntut kami untuk fokus pada penyiapan SDM yang siap bersaing dan menciptakan SDM profesional di sektor pertanian,&amp;rdquo; tutur Dedi.
Baca Juga: Kementerian Pertanian Dorong Generasi Milenial Masuk Industri Pertanian 4.0
Dedi juga menyampaikan bahwa membangun pertanian memang amat penting. Terlebih di era revolusi industri yang ke-empat ini atau biasa disebut juga Industri 4.0. Revolusi industri ini ditandai dengan penggunaan mesin-mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet.

Sektor pertanian juga perlu beradaptasi dengan teknologi 4.0 untuk menjawab tantangan ke depan. Pasalnya, pertanian tak mungkin bisa mencukupi kebutuhan penduduk yang terus bertambah tanpa teknologi. Ini juga yang jadi gagasan Presiden Jokowi.
&amp;nbsp;Baca Juga: Setelah Petani, Kini Kementan Tumbuhkan Eksportir Milenial
Di era keterbukaan informasi pada pertanian 4.0, sistem informasi pertanian dan mekanisasi pertanian menjadi tools yang sangat strategis bagi institusi pendidikan di bawah Kementrian Pertanian yaitu Polbangtan dan PEPI dalam upaya menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap teknologi, yang siap terjun ke dunia kerja dan wirausaha agribisnis, berorientasi ekspor serta menjadi agents of changes dalam pembangunan pertanian, utamanya penyebaran informasi pertanian bagi stakeholders dan modernisasi pertanian.
&amp;nbsp;Pengembangan sistem informasi pertanian (ICT, IoT, artificial  intelligent) diperuntukkan bagi kepentingan penyebaran informasi baik  secara internal maupun secara eksternal dengan maksud memberikan layanan  terhadap informasi secara cepat, tepat, akurat dan kekinian yang dapat  mendukung institusi dalam pengambilan keputusan.

Dekan Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Kudang Boro  Seminar menyampaikan bahwa pertanian itu sejatinya menyatukan antara  darat, lautan, dan udara yang kegiatannya meliputi dari lahan hingga  sampai ke meja makan.

&quot;Itulah mengapa kita tidak bisa membatasi keilmuan kita melainkan  perlu menjadikannya sebagai pendekatan transdisiplin,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kementan Terus Berupaya Menciptakan Petani dari Kalangan Milenial
Intinya, pertanian 4.0, dibutuhkan keterhubungan dan keterpaduan  bekerja sama yang terintegrasi sehingga nantinya pertanian 4.0 mampu  menjadikan teknologi sebagai sarana yang memudahkan petani, bukan  sekedar hiburan saja.

&amp;ldquo;Pertanian 4.0 bercirikan pertanian yang aktifitas dan atau proses  bisnisnya harus melibatkan teknologi informasi dan jaringan internet  yang menghubungkan semua unit operasinya dengan berbagai instrumen  (sensor, satelit, drone) dan peralatan (robot dan mesin) yang  memungkinkan itu semua bekerja secara sinergis, cepat, akurat dan cerdas  berdasarkan data dan informasi relevan terkini. SDM yang kita miliki  harus paham akan hal tersebut, sehingga peran dari generasi muda atau  generasi milenial ini yang menjadi penggerak pertanian 4.0, &amp;ldquo; ungkap  Kudang.

Gegap gempita pertanian 4.0 harus diiringi kesiapan sumber daya  manusia dan perubahan paradigma berfikir untuk terus maju membangun  sektor pertanian sebagai penggerak perokonomian rakyat, dan tulang  punggung ekonomi masyarakat Indonesia.

Diperlukan komitmen bersama dan kuat untuk menjaga predikat bahwa  lembaga Pendidikan di Sektor pertanian sebagai pencipta sdm yang  lulusannya sebagai lulusan yang siap menjadi tenaga kerja pertanian yang  siap kerja (job seeker) maupun siap menjadi wirausaha pertanian (job  creator), dan terjaga kualitas, kuantitas dan eksistensinya dalam rangka  menyongsong era pertanian 4.0.</content:encoded></item></channel></rss>
