<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Saham sebagai Investasi Jangka Panjang yang Menarik</title><description>Masih banyak di antara kita yang takut untuk berinvestasi saham karena menganggap investasi saham sangat berisiko.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/10/278/2089706/saham-sebagai-investasi-jangka-panjang-yang-menarik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/10/278/2089706/saham-sebagai-investasi-jangka-panjang-yang-menarik"/><item><title>Saham sebagai Investasi Jangka Panjang yang Menarik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/10/278/2089706/saham-sebagai-investasi-jangka-panjang-yang-menarik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/10/278/2089706/saham-sebagai-investasi-jangka-panjang-yang-menarik</guid><pubDate>Sabtu 10 Agustus 2019 09:34 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/09/278/2089706/saham-sebagai-investasi-jangka-panjang-yang-menarik-kjFktnvxUQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Pergerakan IHSG (Foto Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/09/278/2089706/saham-sebagai-investasi-jangka-panjang-yang-menarik-kjFktnvxUQ.jpg</image><title>Ilustrasi: Pergerakan IHSG (Foto Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Masih banyak di antara kita yang takut untuk berinvestasi saham karena menganggap investasi saham sangat berisiko.  Hal ini mungkin saja karena kita lupa bahwa ada prinsip pokok yang harus dipahami yaitu investasi di pasar saham merupakan investasi jangka panjang.

Tidak ada rumusan baku tentang itu, tetapi fakta membuktikan, ketika membeli saham lalu mempertahankan minimal 3 tahun, dan terutama di atas 5 tahun, terbukti memberi keuntungan yang lebih menarik.
&amp;nbsp;Baca Juga: Berinvestasi Tidak Harus dengan Dana Besar
Terutama jika membeli saham perusahaan yang punya fundamental kuat, jelas track record-nya, dan punya prospek yang terukur. Investor juga tidak dibuat sibuk untuk terus mencermati perdagangan harian yang menyita waktu.

Pasar saham yang sangat berfluktuatif menunjukkan risiko investasi yang relatif tinggi. Untuk meminimalkan risiko, investor harus memberikan batasan besarnya alokasi aset investasi pada instrumen saham.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pentingnya Memahami Risiko dalam Berinvestasi
Porsi dana investasi pada instrumen saham, harus dialokasikan dari dana investasi yang memiliki orientasi jangka panjang. Alokasi dana jangka panjang ini penting, untuk menghindari kondisi investor yang terpaksa menarik dana dan merealisasikan kerugian.

Investor yang terpaksa melakukan cut loss  atau menjual saham miliknya pada harga rendah, biasanya terdesak kebutuhan saat kondisi pasar sedang tidak menguntungkan. Sementara dana investasi pada pasar saham memerlukan fleksibilitas untuk menunggu agar bisa merealisasikan keuntungan pada saat yang tepat.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/07/08/57972/295789_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Ada beberapa alasan mengapa investor harus sedikit bersabar untuk  tidak segera merealisasikan kerugian ketika pasar sedang turun. Pertama,  gejolak yang terjadi di pasar saham merupakan konsekuensi atau refleksi  dari kondisi ekonomi yang sedang terjadi.

Ketika kondisi pulih, pasar akan segera bangkit kembali. Kedua,  ketika nilai investasi turun hingga 50% masih dalam bentuk potensi  kerugian jika investor bertahan untuk tidak melepas kepemilikan.

Tetapi, jika investor memutuskan untuk melakukan cut loss atau  penjualan ketika nilai investasi turun, maka yang terjadi adalah  kerugian nyata (realized loss) sebesar 50%.

Bila investor memutuskan untuk pindah ke jenis investasi lain,  misalnya deposito, maka perlu dipikirkan berapa lama nilai investasi  yang telah mengalami penurunan nilai sebesar 50% tersebut, untuk bisa  kembali ke nilai awal.

Artinya, jika investasi awal kita sebesar 100, dan berkurang menjadi  50, maka untuk mengembalikan nilai tersebut ke modal awal sebesar 100,  dibutuhkan keuntungan (imbal hasil) investasi sebesar 100%.

Ketiga, saat kondisi pasar sedang turun, investor justru punya lebih  banyak kesempatan untuk membeli saham-saham blue chip di harga yang  sedang murah, sehingga yang sebaiknya justru dilakukan adalah  sebaliknya, membeli saham-saham yang sedang murah tersebut sehingga  memperoleh lebih banyak lot saham yang dapat dimiliki.
Bila melihat data dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun, investor   jangka panjang umumnya mendapatkan bonus keuntungan dalam jumlah besar.   Mengapa dikatakan demikian? Fakta membuktikan, jika mengacu pada   pergerakan kinerja IHSG 10 tahun terakhir (2009-2018), return yang   diraih seorang investor mencapai 357,02% atau rata-rata per tahun   16,41%.

Jangan lupa bahwa dalam rentang waktu 10 tahun terakhir pasar   keuangan global masih terus diliputi ketidakpastian sejak krisis ekonomi   AS merebak tahun 2008 dan meluas menjadi krisis ekonomi global.

Dalam rentang 10 tahun tersebut, ada tiga periode IHSG dimana   mencatat imbal hasil tahunan yang negatif, tepatnya tahun 2013, 2015,   dan 2018, yakni masing-masing -0,98%, -12,3%, dan -2,53%.

Namun yang penting untuk diketahui, pasca pelemahan tersebut,   pemulihan IHSG dapat terjadi dalam waktu yang cepat, dan IHSG mampu   mencetak rekor yang lebih tinggi pada tahun berikutnya yaitu 2014   (+22,3%), 2016 (15,32%),  dan per akhir Juli 2019 (3,16%).

Di saat kita sudah mengetahui instrumen investasi yang paling   berpeluang memberikan imbal hasil yang menarik dalam jangka panjang   adalah saham, langkah berikutnya adalah kita perlu mempertimbangkan   secara cermat untung rugi melepas saham saat harga turun.

Perhitungkan juga potensi keuntungan yang lebih besar ketika   berinvestasi jangka panjang, seperti fakta 10 tahun yang sudah   diuraikan. Bila investor mau bersabar untuk berinvestasi dalam jangka   panjang, dan tidak terpengaruh fluktuasi pasar, maka bonus keuntungan   yang besar akan menanti.  (TIM BEI)</description><content:encoded>JAKARTA - Masih banyak di antara kita yang takut untuk berinvestasi saham karena menganggap investasi saham sangat berisiko.  Hal ini mungkin saja karena kita lupa bahwa ada prinsip pokok yang harus dipahami yaitu investasi di pasar saham merupakan investasi jangka panjang.

Tidak ada rumusan baku tentang itu, tetapi fakta membuktikan, ketika membeli saham lalu mempertahankan minimal 3 tahun, dan terutama di atas 5 tahun, terbukti memberi keuntungan yang lebih menarik.
&amp;nbsp;Baca Juga: Berinvestasi Tidak Harus dengan Dana Besar
Terutama jika membeli saham perusahaan yang punya fundamental kuat, jelas track record-nya, dan punya prospek yang terukur. Investor juga tidak dibuat sibuk untuk terus mencermati perdagangan harian yang menyita waktu.

Pasar saham yang sangat berfluktuatif menunjukkan risiko investasi yang relatif tinggi. Untuk meminimalkan risiko, investor harus memberikan batasan besarnya alokasi aset investasi pada instrumen saham.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pentingnya Memahami Risiko dalam Berinvestasi
Porsi dana investasi pada instrumen saham, harus dialokasikan dari dana investasi yang memiliki orientasi jangka panjang. Alokasi dana jangka panjang ini penting, untuk menghindari kondisi investor yang terpaksa menarik dana dan merealisasikan kerugian.

Investor yang terpaksa melakukan cut loss  atau menjual saham miliknya pada harga rendah, biasanya terdesak kebutuhan saat kondisi pasar sedang tidak menguntungkan. Sementara dana investasi pada pasar saham memerlukan fleksibilitas untuk menunggu agar bisa merealisasikan keuntungan pada saat yang tepat.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/07/08/57972/295789_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen &quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Ada beberapa alasan mengapa investor harus sedikit bersabar untuk  tidak segera merealisasikan kerugian ketika pasar sedang turun. Pertama,  gejolak yang terjadi di pasar saham merupakan konsekuensi atau refleksi  dari kondisi ekonomi yang sedang terjadi.

Ketika kondisi pulih, pasar akan segera bangkit kembali. Kedua,  ketika nilai investasi turun hingga 50% masih dalam bentuk potensi  kerugian jika investor bertahan untuk tidak melepas kepemilikan.

Tetapi, jika investor memutuskan untuk melakukan cut loss atau  penjualan ketika nilai investasi turun, maka yang terjadi adalah  kerugian nyata (realized loss) sebesar 50%.

Bila investor memutuskan untuk pindah ke jenis investasi lain,  misalnya deposito, maka perlu dipikirkan berapa lama nilai investasi  yang telah mengalami penurunan nilai sebesar 50% tersebut, untuk bisa  kembali ke nilai awal.

Artinya, jika investasi awal kita sebesar 100, dan berkurang menjadi  50, maka untuk mengembalikan nilai tersebut ke modal awal sebesar 100,  dibutuhkan keuntungan (imbal hasil) investasi sebesar 100%.

Ketiga, saat kondisi pasar sedang turun, investor justru punya lebih  banyak kesempatan untuk membeli saham-saham blue chip di harga yang  sedang murah, sehingga yang sebaiknya justru dilakukan adalah  sebaliknya, membeli saham-saham yang sedang murah tersebut sehingga  memperoleh lebih banyak lot saham yang dapat dimiliki.
Bila melihat data dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun, investor   jangka panjang umumnya mendapatkan bonus keuntungan dalam jumlah besar.   Mengapa dikatakan demikian? Fakta membuktikan, jika mengacu pada   pergerakan kinerja IHSG 10 tahun terakhir (2009-2018), return yang   diraih seorang investor mencapai 357,02% atau rata-rata per tahun   16,41%.

Jangan lupa bahwa dalam rentang waktu 10 tahun terakhir pasar   keuangan global masih terus diliputi ketidakpastian sejak krisis ekonomi   AS merebak tahun 2008 dan meluas menjadi krisis ekonomi global.

Dalam rentang 10 tahun tersebut, ada tiga periode IHSG dimana   mencatat imbal hasil tahunan yang negatif, tepatnya tahun 2013, 2015,   dan 2018, yakni masing-masing -0,98%, -12,3%, dan -2,53%.

Namun yang penting untuk diketahui, pasca pelemahan tersebut,   pemulihan IHSG dapat terjadi dalam waktu yang cepat, dan IHSG mampu   mencetak rekor yang lebih tinggi pada tahun berikutnya yaitu 2014   (+22,3%), 2016 (15,32%),  dan per akhir Juli 2019 (3,16%).

Di saat kita sudah mengetahui instrumen investasi yang paling   berpeluang memberikan imbal hasil yang menarik dalam jangka panjang   adalah saham, langkah berikutnya adalah kita perlu mempertimbangkan   secara cermat untung rugi melepas saham saat harga turun.

Perhitungkan juga potensi keuntungan yang lebih besar ketika   berinvestasi jangka panjang, seperti fakta 10 tahun yang sudah   diuraikan. Bila investor mau bersabar untuk berinvestasi dalam jangka   panjang, dan tidak terpengaruh fluktuasi pasar, maka bonus keuntungan   yang besar akan menanti.  (TIM BEI)</content:encoded></item></channel></rss>
