<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jangan Terlena, Perang Dagang AS-China Ancaman Nyata di Pasar Modal</title><description>Wimboh Santoso menyatakan, eskalasi perang dagang yang masih berlanjut antara Amerika Serikat dan China perlu diantisipasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/12/278/2090777/jangan-terlena-perang-dagang-as-china-ancaman-nyata-di-pasar-modal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/12/278/2090777/jangan-terlena-perang-dagang-as-china-ancaman-nyata-di-pasar-modal"/><item><title>Jangan Terlena, Perang Dagang AS-China Ancaman Nyata di Pasar Modal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/12/278/2090777/jangan-terlena-perang-dagang-as-china-ancaman-nyata-di-pasar-modal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/12/278/2090777/jangan-terlena-perang-dagang-as-china-ancaman-nyata-di-pasar-modal</guid><pubDate>Senin 12 Agustus 2019 11:37 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/12/278/2090777/jangan-terlena-perang-dagang-as-china-ancaman-nyata-di-pasar-modal-miuyOTnQfo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Yohana Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/12/278/2090777/jangan-terlena-perang-dagang-as-china-ancaman-nyata-di-pasar-modal-miuyOTnQfo.jpg</image><title>Foto: Yohana Okezone</title></images><description> 
JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyatakan, eskalasi perang dagang yang masih berlanjut antara Amerika Serikat dan China perlu diantisipasi oleh pasar modal Indonesia. Meski, menurutnya kinerja pasar modal saat ini menunjukkan hal yang positif.
&amp;nbsp;Baca Juga: Panasnya Perang Dagang, Menkeu: Indonesia Butuh Kemandirian Ekonomi
Terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 1,41% (year to date/ytd) pada pekan kemarin, serta rata-rata imbal hasil (yield) SBN masih mengalami penurunan 69 basis poin (bps).

&quot;Namun jangan terlena karena kondisi perekonomian global diperkirakan belum membaik, tensi trade war antara Amerika dan Tiongkok diperkirakan masih berlanjut dan bahkan sudah mengarah ke currency war,&quot; ujarnya dalam acara Memperingati Hari Ulang Tahun Pasar Modal ke-42 di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/8/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Goldman Sachs Sebut Perang Dagang AS-China Menuju Resesi
Dia menjelaskan, kondisi perang dagang membuat terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi global, Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan menurunkan proyeksinya dari 3,3% menjadi 3,2% dalam laporannya di Juli 2019. Selain itu, juga memberikan tekanan pada perdagangan internasional.

Hal tersebut membuat sejumlah bank sentral di berbagai negara merespons dengan pelonggaran kebijakan moneter guna mendorong perekonomian. Seperti yang dilakukan India dengan menurunkan suku bunga 35 bps dan Bank Indonesia (BI) yang memangkas 25 bps.

&quot;Hal ini mengindikasikan tantangan dari perlambatan ekonomi global ini masih akan mewarnai perkembangan ekonomi domestik dan juga tentunya kinerja pasar modal kita ke depan. Untuk itu, kita semua harus merespons dinamika ini dengan cepat dan tepat,&quot; ungkapnya.
&amp;nbsp;Oleh sebab itu, menurutnya, upaya pendalaman pasar modal menjadi  sangat penting, baik dari sisi supply, demand maupun penyempurnaan  infrastruktur.  Dari sisi suplay yakni meningkatkan variabilitas  instrument dan basis jumlah emiten.

Kemudian dari sisi demand yakni mendorong jumlah investor pasar modal  dan perkembangan investor institusi. Serta dari sisi infrastruktur  pasar modal dengan mengadopsi teknologi yang lebih reliable, mudah,  cepat, dan transparan.

&quot;Upaya-upaya tersebut tentu harus dilengkapi sinergi yang baik dengan  berbagai pihak, dan penguatan fundamental emiten melalui penerapan  manajemen risiko dan juga tata kelola yang baik,&quot; katanya.
</description><content:encoded> 
JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyatakan, eskalasi perang dagang yang masih berlanjut antara Amerika Serikat dan China perlu diantisipasi oleh pasar modal Indonesia. Meski, menurutnya kinerja pasar modal saat ini menunjukkan hal yang positif.
&amp;nbsp;Baca Juga: Panasnya Perang Dagang, Menkeu: Indonesia Butuh Kemandirian Ekonomi
Terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 1,41% (year to date/ytd) pada pekan kemarin, serta rata-rata imbal hasil (yield) SBN masih mengalami penurunan 69 basis poin (bps).

&quot;Namun jangan terlena karena kondisi perekonomian global diperkirakan belum membaik, tensi trade war antara Amerika dan Tiongkok diperkirakan masih berlanjut dan bahkan sudah mengarah ke currency war,&quot; ujarnya dalam acara Memperingati Hari Ulang Tahun Pasar Modal ke-42 di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/8/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Goldman Sachs Sebut Perang Dagang AS-China Menuju Resesi
Dia menjelaskan, kondisi perang dagang membuat terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi global, Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan menurunkan proyeksinya dari 3,3% menjadi 3,2% dalam laporannya di Juli 2019. Selain itu, juga memberikan tekanan pada perdagangan internasional.

Hal tersebut membuat sejumlah bank sentral di berbagai negara merespons dengan pelonggaran kebijakan moneter guna mendorong perekonomian. Seperti yang dilakukan India dengan menurunkan suku bunga 35 bps dan Bank Indonesia (BI) yang memangkas 25 bps.

&quot;Hal ini mengindikasikan tantangan dari perlambatan ekonomi global ini masih akan mewarnai perkembangan ekonomi domestik dan juga tentunya kinerja pasar modal kita ke depan. Untuk itu, kita semua harus merespons dinamika ini dengan cepat dan tepat,&quot; ungkapnya.
&amp;nbsp;Oleh sebab itu, menurutnya, upaya pendalaman pasar modal menjadi  sangat penting, baik dari sisi supply, demand maupun penyempurnaan  infrastruktur.  Dari sisi suplay yakni meningkatkan variabilitas  instrument dan basis jumlah emiten.

Kemudian dari sisi demand yakni mendorong jumlah investor pasar modal  dan perkembangan investor institusi. Serta dari sisi infrastruktur  pasar modal dengan mengadopsi teknologi yang lebih reliable, mudah,  cepat, dan transparan.

&quot;Upaya-upaya tersebut tentu harus dilengkapi sinergi yang baik dengan  berbagai pihak, dan penguatan fundamental emiten melalui penerapan  manajemen risiko dan juga tata kelola yang baik,&quot; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
