<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hingga Awal Agustus 2019, Dana Pasar Modal yang Dihimpun Capai Rp109,2 Triliun</title><description>OJK mencatatkan sejak awal tahun hingga 9 Agustus 2019 (year to date/ytd) pasar modal Indonesia menghimpun dana sebesar Rp109,2 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/12/278/2090854/hingga-awal-agustus-2019-dana-pasar-modal-yang-dihimpun-capai-rp109-2-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/12/278/2090854/hingga-awal-agustus-2019-dana-pasar-modal-yang-dihimpun-capai-rp109-2-triliun"/><item><title>Hingga Awal Agustus 2019, Dana Pasar Modal yang Dihimpun Capai Rp109,2 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/12/278/2090854/hingga-awal-agustus-2019-dana-pasar-modal-yang-dihimpun-capai-rp109-2-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/12/278/2090854/hingga-awal-agustus-2019-dana-pasar-modal-yang-dihimpun-capai-rp109-2-triliun</guid><pubDate>Senin 12 Agustus 2019 14:04 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/12/278/2090854/hingga-awal-agustus-2019-dana-pasar-modal-yang-dihimpun-capai-rp109-2-triliun-aCSx6PXnzb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pasar Modal Indonesia (Foto: Yohana Artha Uly/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/12/278/2090854/hingga-awal-agustus-2019-dana-pasar-modal-yang-dihimpun-capai-rp109-2-triliun-aCSx6PXnzb.jpg</image><title>Pasar Modal Indonesia (Foto: Yohana Artha Uly/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan sejak awal tahun hingga 9 Agustus 2019 (year to date/ytd), pasar modal Indonesia sudah menghimpun dana sebesar Rp109,2 triliun. Dana tersebut terbanyak didapat dari penawaran utang dan sukuk tahap II.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menyatakan, total penghimpunan dana itu berasal dari  29 IPO  senilai Rp8,5 triliun. Kemudian dari 12 Penawaran Umum Terbatas (PUT) Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) senilai Rp25,7 triliun.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ini Perjalanan 42 Tahun Pasar Modal Indonesia, Semen Cibinong Jadi Emiten Pertama
Selain itu, juga dari 3 penawaran umum (PU) Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) senilai Rp2,25 triliun, 16 penawaran utang tahap dan sukuk tahap I senilai Rp17,02 triliun, dan 30 penawaran utang dan sukuk tahap II senilai Rp55,75 triliun.
&amp;nbsp;
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai terjaga. Terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang dapat dijaga di atas 5% dan inflasi yang terjaga rendah di kisaran 3,5%.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jangan Terlena, Perang Dagang AS-China Ancaman Nyata di Pasar Modal
&quot;Kondisi ini tentunya ditopang oleh ekonomi makro kita yang masih solid,&quot; katanya dalam acara Memperingati Hari Ulang Tahun Pasar Modal ke-42 di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/8/2019).

Kemudian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat naik 1,41% (ytd) dari posisi 6.194 pada 28 Desember 2018 menjadi 6.282 pada 9 Agustus 2019. Kapitalisasi pasar pun tumbuh 2,58% (ytd) dari Rp7.023 triliun menjadi Rp7.205 triliun.

Sedangkan jumlah emiten baru tercatat sebanyak 29 perusahaan. Di mana hingga akhir tahun, jumlah emiten baru ditargekan sama dengan tahun lalu yakni 57 emiten.

OJK juga mencatatkan, nilai aktiva bersih (NAB) reksadana mengalami kenaikan 6,41% dari Rp505,39 pada 31 Desember 2018, menjadi Rp537,79 pada 8 Agustus 2019. Di mana jumlah reksadana tumbuh 2,43% menjadi sebanyak 2.149.

Sementara itu, Single Investor Identification (SID) saham tercatat sebanyak 995.256 SID, yang dalam 5 tahun terakhir meningkat 173,07%. Sedankan SID reksadana sebanyak 1.394.434 SID, atau tumbuh 335,67% dari tahun 2014.Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menambahkan, hingga 9  Agustus 2019 investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar  Rp64,9 triliun (ytd). Sementara itu, total dana kelolaan investasi  mencapai Rp802,4 triliun atau tumbuh 7,2% (ytd).

Dia menekankan, meski kinerja pasar modal menunjukkan pertumbuhan,  namun kondisi perekonomian global perlu diantisipasi. Sebab, perang  dagang antara Amerika Serikat dan China terus berlanjut, bahkan  berkembang ke perang nilai mata uang.

Kondisi perang dagang, lanjut Wimboh, membuat terjadinya perlambatan  pertumbuhan ekonomi global dan memberikan tekanan pada perdagangan  internasional. Bahkan berbagai negara merespons dengan pelonggaran  kebijakan moneter guna mendorong perekonomian, seperti yang dilakukan  India dengan menurunkan suku bunga 35 bps, Thailand dan Indonesia  sebesar 25 bps.

&quot;Hal ini mengindikasikan tantangan dari perlambatan ekonomi global  ini masih akan mewarnai perkembangan ekonomi domestik dan juga tentunya  kinerja pasar modal kita ke depan. Untuk itu, kita semua harus merespons  dinamika ini dengan cepat dan tepat,&quot; katanya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan sejak awal tahun hingga 9 Agustus 2019 (year to date/ytd), pasar modal Indonesia sudah menghimpun dana sebesar Rp109,2 triliun. Dana tersebut terbanyak didapat dari penawaran utang dan sukuk tahap II.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menyatakan, total penghimpunan dana itu berasal dari  29 IPO  senilai Rp8,5 triliun. Kemudian dari 12 Penawaran Umum Terbatas (PUT) Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) senilai Rp25,7 triliun.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ini Perjalanan 42 Tahun Pasar Modal Indonesia, Semen Cibinong Jadi Emiten Pertama
Selain itu, juga dari 3 penawaran umum (PU) Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) senilai Rp2,25 triliun, 16 penawaran utang tahap dan sukuk tahap I senilai Rp17,02 triliun, dan 30 penawaran utang dan sukuk tahap II senilai Rp55,75 triliun.
&amp;nbsp;
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai terjaga. Terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang dapat dijaga di atas 5% dan inflasi yang terjaga rendah di kisaran 3,5%.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jangan Terlena, Perang Dagang AS-China Ancaman Nyata di Pasar Modal
&quot;Kondisi ini tentunya ditopang oleh ekonomi makro kita yang masih solid,&quot; katanya dalam acara Memperingati Hari Ulang Tahun Pasar Modal ke-42 di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/8/2019).

Kemudian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat naik 1,41% (ytd) dari posisi 6.194 pada 28 Desember 2018 menjadi 6.282 pada 9 Agustus 2019. Kapitalisasi pasar pun tumbuh 2,58% (ytd) dari Rp7.023 triliun menjadi Rp7.205 triliun.

Sedangkan jumlah emiten baru tercatat sebanyak 29 perusahaan. Di mana hingga akhir tahun, jumlah emiten baru ditargekan sama dengan tahun lalu yakni 57 emiten.

OJK juga mencatatkan, nilai aktiva bersih (NAB) reksadana mengalami kenaikan 6,41% dari Rp505,39 pada 31 Desember 2018, menjadi Rp537,79 pada 8 Agustus 2019. Di mana jumlah reksadana tumbuh 2,43% menjadi sebanyak 2.149.

Sementara itu, Single Investor Identification (SID) saham tercatat sebanyak 995.256 SID, yang dalam 5 tahun terakhir meningkat 173,07%. Sedankan SID reksadana sebanyak 1.394.434 SID, atau tumbuh 335,67% dari tahun 2014.Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menambahkan, hingga 9  Agustus 2019 investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar  Rp64,9 triliun (ytd). Sementara itu, total dana kelolaan investasi  mencapai Rp802,4 triliun atau tumbuh 7,2% (ytd).

Dia menekankan, meski kinerja pasar modal menunjukkan pertumbuhan,  namun kondisi perekonomian global perlu diantisipasi. Sebab, perang  dagang antara Amerika Serikat dan China terus berlanjut, bahkan  berkembang ke perang nilai mata uang.

Kondisi perang dagang, lanjut Wimboh, membuat terjadinya perlambatan  pertumbuhan ekonomi global dan memberikan tekanan pada perdagangan  internasional. Bahkan berbagai negara merespons dengan pelonggaran  kebijakan moneter guna mendorong perekonomian, seperti yang dilakukan  India dengan menurunkan suku bunga 35 bps, Thailand dan Indonesia  sebesar 25 bps.

&quot;Hal ini mengindikasikan tantangan dari perlambatan ekonomi global  ini masih akan mewarnai perkembangan ekonomi domestik dan juga tentunya  kinerja pasar modal kita ke depan. Untuk itu, kita semua harus merespons  dinamika ini dengan cepat dan tepat,&quot; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
