<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Strategi Menjual Properti ke Generasi Milenial</title><description>Rumah123.com kembali menyelenggarakan acara rutin tahunan Property Day.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/17/470/2093136/ini-strategi-menjual-properti-ke-generasi-milenial</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/17/470/2093136/ini-strategi-menjual-properti-ke-generasi-milenial"/><item><title>Ini Strategi Menjual Properti ke Generasi Milenial</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/17/470/2093136/ini-strategi-menjual-properti-ke-generasi-milenial</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/17/470/2093136/ini-strategi-menjual-properti-ke-generasi-milenial</guid><pubDate>Sabtu 17 Agustus 2019 11:04 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/17/470/2093136/ini-strategi-menjual-properti-ke-generasi-milenial-OB3pA657CX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Rumah123 Gelar Property Day 2019 (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/17/470/2093136/ini-strategi-menjual-properti-ke-generasi-milenial-OB3pA657CX.jpg</image><title>Foto: Rumah123 Gelar Property Day 2019 (Ist)</title></images><description> 
JAKARTA - Rumah123.com kembali menyelenggarakan acara rutin tahunan Property Day. Rumah123.com merupakan bagian dari REA Group Australia. Property Day 2019 ini diselenggarakan di The Ballroom Westin, Hotel Westin, Jakarta pada Kamis 15 Agustus 2019.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kenali Maksud Over Kredit Rumah
Acara ini menghadirkan tiga pembicara yang memiliki kompetisi di bidangnya. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari perusahaan pengembang, agen properti, dan perbankan.

Para pembicara adalah Behavior Scientist Rumah123.com Muhamad Irfan Agia, General Manager of Business Roomme.id Iman Hanggautomo, dan Vice President Marketing Tanihub Her &amp;ldquo;Deeng&amp;rdquo; Sanyoto.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mau Beli Rumah, Kenali Dulu Skema Booking Fee di Sini
Acara ini memiliki tema Accelerate Your Property Business Through Digital Transformation. Tranformasi digital bisa mempercepat akselerasi bisnis properti.

&amp;ldquo;Kami ingin memberikan banyak insight kepada para pelaku developer, agen, bank. Bagaimana kita membantu konsumen untuk membeli,&amp;rdquo; ujar Country General Manager Rumah123.com Maria Herawati Manik dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (17/8/2019).
&amp;nbsp; 
Transformasi Digital untuk Bisnis

Dunia digital memang berkembang pesat. Siapa menyangka kalau sejumlah  bisnis berbasis digital bisa menjelma jadi perusahaan raksasa. Airbnb  bisa menjadi perusahaan penyedia jasa penginapan tanpa memiliki kamar,  rumah, atau bangunan.

Uber dapat menjadi korporasi layanan transportasi tanpa armada  kendaraan sendiri. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Sejumlah  perusahaan berbasis digital menjadi besar. Tidak ketinggalan di dunia  properti dengan munculnya marketplace properti, marketplace desain dan  arsitektur, dan lainnya.
&amp;nbsp;
Orang hanya perlu duduk manis di rumah dengan memegang laptop,  smartphone, atau tablet. Dia tidak perlu keluar rumah untuk mencari  rumah, apartemen, rumah toko (ruko), tanah, dan lainnya cukup  berselancar di dunia maya.

Kemudahan yang sama didapatkan ketika ingin mencari agen properti,  jasa desain arsitektur, jasa desain interior, jasa bangun rumah, dan  lainnya. Orang hanya perlu mencari via mesin pencari Google, media  sosial seperti Instagram atau Facebook.

Perkembangan ini tentunya mau tidak mau membuat para pelaku bisnis  dan industri properti harus berubah. Apalagi saat ini, generasi milenial  yang juga konsumen terbesar properti merupakan digital native alias  pengguna internet dan media sosial yang aktif. Alasan banyak perusahaan  yang go online diungkapkan oleh Her Sanyoto yang memberikan pemaparan  pertama kali.

&amp;ldquo;Kenapa semua go online, karena fit dengan milenial dan dianggap inovatif,&amp;rdquo; kata Her.

Namun, tidak mudah untuk mengubah perusahaan untuk melakukannya. Ada  tiga tantangan yang akan dihadapi yaitu acquisition, market fit, dan  sustainability. Acquisition maksudnya bagaimana orang mau mengunduh  (download) aplikasi yang ditawarkan, market fit berarti apakah apa yang  ditawarkan cocok dengan pangsa pasar, sementara sustainability maksudnya  apakah bisnis ini bisa berkelanjutan.
&amp;nbsp;
Memahami Perjalanan Konsumen dalam Membeli Properti

Irfan Agia yang menjadi pembicara kedua mengulas mengulas mengenai   upaya memahami perilaku konsumen dalam membeli properti. Agia memberikan   ilustrasi pembuka bagaimana orang melakukan perjalanan baik itu untuk   bisnis, wisata keluarga, berbulan madu, dan lainnya. Orang memiliki   tahapan saat dalam perjalanan mulai dari berangkat ke bandara, berada di   bandara, pemeriksaan, transit, dan sampai di tujuan.

Hal serupa juga terjadi ketika orang membeli properti. Konsumen   memiliki tahapan dalam hidup, tujuan hidup, hal yang mengganggu   konsentrasi, ketakutan, frustrasi, kebiasaan menggunakan media,   perilaku, dan lainnya.
&amp;nbsp;
Ketika orang mencari rumah, dia akan mencari terlebih dulu, membuat   daftar rumah yang diincar, mengunjungi lokasi atau marketing gallery,   berpikir dan meminta masukan orang lain, hingga akhirnya membeli.   Tetapi, bisa jadi perjalanan ini tidak linier.

Agia menyatakan saat orang mengunjungi marketing gallery, konsumen   bisa jadi tidak mendapatkan informasi yang tidak sesuai sehingga dia   kembali lagi melakukan upaya pencarian.

Iman menjadi pembicara terakhir. Dia memaparkan pentingnya brand atau   merek atau jenama. Dia memaparkan piramida customer based brand  equity.

Piramida ini menjelaskan bagaimana konsumen mendapatkan informasi   produk, mendapatkan keuntungan apa dari produk, apa yang diketahui   konsumen dari perusahaan, perasaan konsumen saat memakai produk,   keputusan pembelian berdasarkan pertimbangan apa, dan lainnya.

Perjalanan konsumen untuk membeli properti memang tidak mudah dan   berliku, apalagi keputusan pembelian properti memang harus   dipertimbangkan dengan matang. Untuk itu, perusahaan memang harus   memahaminya agar bisa memberikan pesan yang tepat.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Rumah123.com kembali menyelenggarakan acara rutin tahunan Property Day. Rumah123.com merupakan bagian dari REA Group Australia. Property Day 2019 ini diselenggarakan di The Ballroom Westin, Hotel Westin, Jakarta pada Kamis 15 Agustus 2019.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kenali Maksud Over Kredit Rumah
Acara ini menghadirkan tiga pembicara yang memiliki kompetisi di bidangnya. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari perusahaan pengembang, agen properti, dan perbankan.

Para pembicara adalah Behavior Scientist Rumah123.com Muhamad Irfan Agia, General Manager of Business Roomme.id Iman Hanggautomo, dan Vice President Marketing Tanihub Her &amp;ldquo;Deeng&amp;rdquo; Sanyoto.
&amp;nbsp;Baca Juga: Mau Beli Rumah, Kenali Dulu Skema Booking Fee di Sini
Acara ini memiliki tema Accelerate Your Property Business Through Digital Transformation. Tranformasi digital bisa mempercepat akselerasi bisnis properti.

&amp;ldquo;Kami ingin memberikan banyak insight kepada para pelaku developer, agen, bank. Bagaimana kita membantu konsumen untuk membeli,&amp;rdquo; ujar Country General Manager Rumah123.com Maria Herawati Manik dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (17/8/2019).
&amp;nbsp; 
Transformasi Digital untuk Bisnis

Dunia digital memang berkembang pesat. Siapa menyangka kalau sejumlah  bisnis berbasis digital bisa menjelma jadi perusahaan raksasa. Airbnb  bisa menjadi perusahaan penyedia jasa penginapan tanpa memiliki kamar,  rumah, atau bangunan.

Uber dapat menjadi korporasi layanan transportasi tanpa armada  kendaraan sendiri. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Sejumlah  perusahaan berbasis digital menjadi besar. Tidak ketinggalan di dunia  properti dengan munculnya marketplace properti, marketplace desain dan  arsitektur, dan lainnya.
&amp;nbsp;
Orang hanya perlu duduk manis di rumah dengan memegang laptop,  smartphone, atau tablet. Dia tidak perlu keluar rumah untuk mencari  rumah, apartemen, rumah toko (ruko), tanah, dan lainnya cukup  berselancar di dunia maya.

Kemudahan yang sama didapatkan ketika ingin mencari agen properti,  jasa desain arsitektur, jasa desain interior, jasa bangun rumah, dan  lainnya. Orang hanya perlu mencari via mesin pencari Google, media  sosial seperti Instagram atau Facebook.

Perkembangan ini tentunya mau tidak mau membuat para pelaku bisnis  dan industri properti harus berubah. Apalagi saat ini, generasi milenial  yang juga konsumen terbesar properti merupakan digital native alias  pengguna internet dan media sosial yang aktif. Alasan banyak perusahaan  yang go online diungkapkan oleh Her Sanyoto yang memberikan pemaparan  pertama kali.

&amp;ldquo;Kenapa semua go online, karena fit dengan milenial dan dianggap inovatif,&amp;rdquo; kata Her.

Namun, tidak mudah untuk mengubah perusahaan untuk melakukannya. Ada  tiga tantangan yang akan dihadapi yaitu acquisition, market fit, dan  sustainability. Acquisition maksudnya bagaimana orang mau mengunduh  (download) aplikasi yang ditawarkan, market fit berarti apakah apa yang  ditawarkan cocok dengan pangsa pasar, sementara sustainability maksudnya  apakah bisnis ini bisa berkelanjutan.
&amp;nbsp;
Memahami Perjalanan Konsumen dalam Membeli Properti

Irfan Agia yang menjadi pembicara kedua mengulas mengulas mengenai   upaya memahami perilaku konsumen dalam membeli properti. Agia memberikan   ilustrasi pembuka bagaimana orang melakukan perjalanan baik itu untuk   bisnis, wisata keluarga, berbulan madu, dan lainnya. Orang memiliki   tahapan saat dalam perjalanan mulai dari berangkat ke bandara, berada di   bandara, pemeriksaan, transit, dan sampai di tujuan.

Hal serupa juga terjadi ketika orang membeli properti. Konsumen   memiliki tahapan dalam hidup, tujuan hidup, hal yang mengganggu   konsentrasi, ketakutan, frustrasi, kebiasaan menggunakan media,   perilaku, dan lainnya.
&amp;nbsp;
Ketika orang mencari rumah, dia akan mencari terlebih dulu, membuat   daftar rumah yang diincar, mengunjungi lokasi atau marketing gallery,   berpikir dan meminta masukan orang lain, hingga akhirnya membeli.   Tetapi, bisa jadi perjalanan ini tidak linier.

Agia menyatakan saat orang mengunjungi marketing gallery, konsumen   bisa jadi tidak mendapatkan informasi yang tidak sesuai sehingga dia   kembali lagi melakukan upaya pencarian.

Iman menjadi pembicara terakhir. Dia memaparkan pentingnya brand atau   merek atau jenama. Dia memaparkan piramida customer based brand  equity.

Piramida ini menjelaskan bagaimana konsumen mendapatkan informasi   produk, mendapatkan keuntungan apa dari produk, apa yang diketahui   konsumen dari perusahaan, perasaan konsumen saat memakai produk,   keputusan pembelian berdasarkan pertimbangan apa, dan lainnya.

Perjalanan konsumen untuk membeli properti memang tidak mudah dan   berliku, apalagi keputusan pembelian properti memang harus   dipertimbangkan dengan matang. Untuk itu, perusahaan memang harus   memahaminya agar bisa memberikan pesan yang tepat.</content:encoded></item></channel></rss>
