<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tembus Rp5.602 Triliun, Simak Sederet Fakta Utang Luar Negeri Indonesia</title><description>BI mencatat utang luar negeri Indonesia mencapai USD391,8 miliar atau setara Rp5.602,7 triliun hingga kuartal II-2019.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/20/2093006/tembus-rp5-602-triliun-simak-sederet-fakta-utang-luar-negeri-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/20/2093006/tembus-rp5-602-triliun-simak-sederet-fakta-utang-luar-negeri-indonesia"/><item><title>Tembus Rp5.602 Triliun, Simak Sederet Fakta Utang Luar Negeri Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/20/2093006/tembus-rp5-602-triliun-simak-sederet-fakta-utang-luar-negeri-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/20/2093006/tembus-rp5-602-triliun-simak-sederet-fakta-utang-luar-negeri-indonesia</guid><pubDate>Senin 19 Agustus 2019 06:12 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/16/20/2093006/tembus-rp5-602-triliun-simak-sederet-fakta-utang-luar-negeri-indonesia-vEG0xsqcko.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/16/20/2093006/tembus-rp5-602-triliun-simak-sederet-fakta-utang-luar-negeri-indonesia-vEG0xsqcko.jpg</image><title>Ilustrasi: (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Utang luar negeri (ULN) Indonesia kian membengkak hingga akhir Juli 2019. Bank Indonesia (BI) mencatat jumlahnya mencapai USD391,8 miliar atau setara Rp5.602,7 triliun hingga kuartal II-2019.
Utang itu tumbuh 10,1% (year on year/yoy) dari periode yang sama di tahun lalu. Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh sebesar 8,1% (yoy).
ULN ini terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD195,5 miliar, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar USD196,3 miliar.
Berikut sejumlah fakta mengenai utang luar negeri Indonesia yang dirangkum Okezone.
1.  Kenaikan Utang Luar Negeri Utamanya dari Pemerintah 
Dalam keterangannya, BI menyebut peningkatan ini terutama dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN dan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, sehingga utang dalam Rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi Dolar AS.
Peningkatan pertumbuhan ULN terutama didorong oleh ULN pemerintah, di tengah perlambatan ULN swasta.
Baca Juga: RI Butuh Utang, BI: Harus Dikelola dengan Hati-Hati
Posisi ULN pemerintah pada akhir kuartal II-2019 2019 tercatat sebesar USD192,5 miliar atau tumbuh 9,1% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 3,6% (yoy).
Sebaliknya, ULN swasta tercatat tumbuh 11,4% (yoy) di akhir kuartal-II 2019, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 13,3% (yoy).
2. ULN Swasta Melambat Karena Pembyaran Pinjaman Korporasi
BI menyatakan, ULN swasta yang tercatat melambat tersebut, utamanya disebabkan oleh peningkatan pembayaran pinjaman oleh korporasi.
Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.
Di mana, pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9%.3. ULN Pemerintah Diprioristaskan Untuk Pembangunan
Di sisi lain, pertumbuhan ULN pemerintah yang meningkat dinilai  sejalan dengan persepsi positif investor asing terhadap kondisi  perekonomian Indonesia. Di mana pengelolaan ULN pemerintah  diprioritaskan untuk membiayai pembangunan.
Adapun porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang dapat  mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,  yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial 18,9% dari total ULN  Pemerintah, sektor konstruksi 16,4%, sektor jasa pendidikan 15,9%.
Baca Juga: Bagaimana Cara Jokowi Kelola Utang dan Atasi Defisit Anggaran?
Kemudian sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan  sosial wajib 15,2%  dari total ULN Pemerintah, serta sektor jasa  keuangan dan asuransi 14,0%.
Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan  pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi  stabilitas perekonomian.
4. Struktur ULN Indonesia Dinilai Tetap Sehat
BI menilai, peningkatan ULN ini juga seiring dengan naiknya  kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Hal itu didorong  kenaikan peringkat utang Indonesia oleh Standard &amp;amp; Poor&amp;rsquo;s pada akhir  Mei 2019.
Di mana mendorong pembelian neto Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan global oleh nonresiden (asing) pada kuartal II 2019.
Meski mengalami peningkatan, namun kondisi ULN dinilai tetap sehat.  Hal tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap  Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal II 2019 yang sebesar  36,8%.
Baca Juga: Utang Pemerintah di 2020 Menyusut, Dipatok Rp351,9 Triliun
Posisi itu memang membaik dibandingkan dengan rasio pada kuartal  sebelumnya yang sebesar 36,92%. Namun dibandingkan dengan kuartal  II-2018 tang 34,11% dari PDB maka terjadi peningkatan.
Di sisi lain, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN  berjangka panjang dengan pangsa 87,0% dari total ULN. BI menyatakan akan  terus berkoordinasi dengan Pemerintahg dalam memantau perkembangan ULN,  didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.</description><content:encoded>JAKARTA - Utang luar negeri (ULN) Indonesia kian membengkak hingga akhir Juli 2019. Bank Indonesia (BI) mencatat jumlahnya mencapai USD391,8 miliar atau setara Rp5.602,7 triliun hingga kuartal II-2019.
Utang itu tumbuh 10,1% (year on year/yoy) dari periode yang sama di tahun lalu. Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh sebesar 8,1% (yoy).
ULN ini terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD195,5 miliar, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar USD196,3 miliar.
Berikut sejumlah fakta mengenai utang luar negeri Indonesia yang dirangkum Okezone.
1.  Kenaikan Utang Luar Negeri Utamanya dari Pemerintah 
Dalam keterangannya, BI menyebut peningkatan ini terutama dipengaruhi oleh transaksi penarikan neto ULN dan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, sehingga utang dalam Rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi Dolar AS.
Peningkatan pertumbuhan ULN terutama didorong oleh ULN pemerintah, di tengah perlambatan ULN swasta.
Baca Juga: RI Butuh Utang, BI: Harus Dikelola dengan Hati-Hati
Posisi ULN pemerintah pada akhir kuartal II-2019 2019 tercatat sebesar USD192,5 miliar atau tumbuh 9,1% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 3,6% (yoy).
Sebaliknya, ULN swasta tercatat tumbuh 11,4% (yoy) di akhir kuartal-II 2019, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 13,3% (yoy).
2. ULN Swasta Melambat Karena Pembyaran Pinjaman Korporasi
BI menyatakan, ULN swasta yang tercatat melambat tersebut, utamanya disebabkan oleh peningkatan pembayaran pinjaman oleh korporasi.
Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.
Di mana, pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9%.3. ULN Pemerintah Diprioristaskan Untuk Pembangunan
Di sisi lain, pertumbuhan ULN pemerintah yang meningkat dinilai  sejalan dengan persepsi positif investor asing terhadap kondisi  perekonomian Indonesia. Di mana pengelolaan ULN pemerintah  diprioritaskan untuk membiayai pembangunan.
Adapun porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang dapat  mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,  yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial 18,9% dari total ULN  Pemerintah, sektor konstruksi 16,4%, sektor jasa pendidikan 15,9%.
Baca Juga: Bagaimana Cara Jokowi Kelola Utang dan Atasi Defisit Anggaran?
Kemudian sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan  sosial wajib 15,2%  dari total ULN Pemerintah, serta sektor jasa  keuangan dan asuransi 14,0%.
Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan  pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi  stabilitas perekonomian.
4. Struktur ULN Indonesia Dinilai Tetap Sehat
BI menilai, peningkatan ULN ini juga seiring dengan naiknya  kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Hal itu didorong  kenaikan peringkat utang Indonesia oleh Standard &amp;amp; Poor&amp;rsquo;s pada akhir  Mei 2019.
Di mana mendorong pembelian neto Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan global oleh nonresiden (asing) pada kuartal II 2019.
Meski mengalami peningkatan, namun kondisi ULN dinilai tetap sehat.  Hal tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap  Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal II 2019 yang sebesar  36,8%.
Baca Juga: Utang Pemerintah di 2020 Menyusut, Dipatok Rp351,9 Triliun
Posisi itu memang membaik dibandingkan dengan rasio pada kuartal  sebelumnya yang sebesar 36,92%. Namun dibandingkan dengan kuartal  II-2018 tang 34,11% dari PDB maka terjadi peningkatan.
Di sisi lain, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN  berjangka panjang dengan pangsa 87,0% dari total ULN. BI menyatakan akan  terus berkoordinasi dengan Pemerintahg dalam memantau perkembangan ULN,  didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.</content:encoded></item></channel></rss>
