<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengangguran dan Penduduk Miskin Berkurang, Jokowi: Sejarah NKRI</title><description>Angka pengangguran, lanjut Presiden, menurun dari 5,81% pada Februari 2015, menjadi 5,01% pada Februari 2019</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/320/2093647/pengangguran-dan-penduduk-miskin-berkurang-jokowi-sejarah-nkri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/320/2093647/pengangguran-dan-penduduk-miskin-berkurang-jokowi-sejarah-nkri"/><item><title>Pengangguran dan Penduduk Miskin Berkurang, Jokowi: Sejarah NKRI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/320/2093647/pengangguran-dan-penduduk-miskin-berkurang-jokowi-sejarah-nkri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/320/2093647/pengangguran-dan-penduduk-miskin-berkurang-jokowi-sejarah-nkri</guid><pubDate>Senin 19 Agustus 2019 07:33 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/19/320/2093647/pengangguran-dan-penduduk-miskin-berkurang-jokowi-sejarah-nkri-nRvrmHrX2M.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi Widodo di Nota Keuangan 2019 (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/19/320/2093647/pengangguran-dan-penduduk-miskin-berkurang-jokowi-sejarah-nkri-nRvrmHrX2M.jpg</image><title>Presiden Jokowi Widodo di Nota Keuangan 2019 (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, kita patut bersyukur karena di tengah gejolak perekonomian global, pembangunan ekonomi selama lima tahun telah menunjukkan capaian yang menggembirakan.  Namun, Presiden Jokowi mengingatkan, kita tidak boleh lengah karena tantangan ekonomi ke depan semakin berat dan semakin kompleks.
Baca Juga: Turun 0,21%, Kini Pengangguran di Jakarta 279.590 Orang
&amp;ldquo;Pertumbuhan ekonomi kita trennya meningkat dari 4,88% di tahun 2015, menjadi 5,17% di tahun 2018, dan terakhir Semester I-2019 mencapai 5,06%,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi, dikutip dari Setkab, Senin (19/8/2019).
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/08/16/58428/298791_medium.jpg&quot; alt=&quot;Jokowi Pakai Baju Adat Sasak, JK Pilih Baju Adat Betawi&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Angka pengangguran, lanjut Presiden, menurun dari 5,81% pada Februari 2015, menjadi 5,01% pada Februari 2019. Sementara penduduk miskin terus menurun dari 11,22% pada Maret 2015, menjadi 9,41% pada Maret 2019.
&amp;ldquo;Ini terendah dalam sejarah NKRI,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca Juga: Pengangguran Terbanyak di Jawa Barat, Terendah Bali
Ditambahkan Presiden, ketimpangan pendapatan juga terus menurun, ditunjukkan dengan semakin rendahnya Rasio Gini dari 0,408 pada Maret 2015, menjadi 0,382 pada Maret 2019. Sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 69,55 di 2015, menjadi 71,39 di 2018, atau masuk dalam status tinggi. Selain itu, tidak ada lagi provinsi dengan tingkat IPM yang rendah.&amp;ldquo;Logistic Performance Index (LPI) naik dari peringkat 53 dunia di  2014, menjadi peringkat 46 dunia di 2018. Dalam Global Competitiveness  Index, kualitas infrastruktur kita termasuk listrik dan air meningkat,  dari peringkat 81 dunia pada 2015, keperingka 71 dunia pada 2018,&amp;rdquo;  ungkap Presiden Jokowi.
Berbagai capaian tersebut, menurut Presiden, tidak terlepas dari  reformasi fiskal yang telah kita lakukan. Kita tidak lagi menggunakan  pola money follows function, tetapi money follows program.
&amp;ldquo;Kita tidak lagi berorientasi pada proses dan output, tetapi pada  impact dan outcome. Kita terus mengelola fiskal agar lebih sehat, lebih  adil, dan menopang kemandirian kita,&amp;rdquo; ujar Presiden Jokowi.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, kita patut bersyukur karena di tengah gejolak perekonomian global, pembangunan ekonomi selama lima tahun telah menunjukkan capaian yang menggembirakan.  Namun, Presiden Jokowi mengingatkan, kita tidak boleh lengah karena tantangan ekonomi ke depan semakin berat dan semakin kompleks.
Baca Juga: Turun 0,21%, Kini Pengangguran di Jakarta 279.590 Orang
&amp;ldquo;Pertumbuhan ekonomi kita trennya meningkat dari 4,88% di tahun 2015, menjadi 5,17% di tahun 2018, dan terakhir Semester I-2019 mencapai 5,06%,&amp;rdquo; kata Presiden Jokowi, dikutip dari Setkab, Senin (19/8/2019).
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/08/16/58428/298791_medium.jpg&quot; alt=&quot;Jokowi Pakai Baju Adat Sasak, JK Pilih Baju Adat Betawi&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Angka pengangguran, lanjut Presiden, menurun dari 5,81% pada Februari 2015, menjadi 5,01% pada Februari 2019. Sementara penduduk miskin terus menurun dari 11,22% pada Maret 2015, menjadi 9,41% pada Maret 2019.
&amp;ldquo;Ini terendah dalam sejarah NKRI,&amp;rdquo; ujarnya.
Baca Juga: Pengangguran Terbanyak di Jawa Barat, Terendah Bali
Ditambahkan Presiden, ketimpangan pendapatan juga terus menurun, ditunjukkan dengan semakin rendahnya Rasio Gini dari 0,408 pada Maret 2015, menjadi 0,382 pada Maret 2019. Sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 69,55 di 2015, menjadi 71,39 di 2018, atau masuk dalam status tinggi. Selain itu, tidak ada lagi provinsi dengan tingkat IPM yang rendah.&amp;ldquo;Logistic Performance Index (LPI) naik dari peringkat 53 dunia di  2014, menjadi peringkat 46 dunia di 2018. Dalam Global Competitiveness  Index, kualitas infrastruktur kita termasuk listrik dan air meningkat,  dari peringkat 81 dunia pada 2015, keperingka 71 dunia pada 2018,&amp;rdquo;  ungkap Presiden Jokowi.
Berbagai capaian tersebut, menurut Presiden, tidak terlepas dari  reformasi fiskal yang telah kita lakukan. Kita tidak lagi menggunakan  pola money follows function, tetapi money follows program.
&amp;ldquo;Kita tidak lagi berorientasi pada proses dan output, tetapi pada  impact dan outcome. Kita terus mengelola fiskal agar lebih sehat, lebih  adil, dan menopang kemandirian kita,&amp;rdquo; ujar Presiden Jokowi.</content:encoded></item></channel></rss>
