<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Ajakan Boikot Tak Pakai Kresek dan Botol Plastik, Menteri Susi: Pabrik Akan Berhenti</title><description>Tahun 2030 diprediksikan akan lebih ada lebih banyak plastik daripada ikan di laut akibat masifnya limbah plastik.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/320/2094028/ajakan-boikot-tak-pakai-kresek-dan-botol-plastik-menteri-susi-pabrik-akan-berhenti</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/320/2094028/ajakan-boikot-tak-pakai-kresek-dan-botol-plastik-menteri-susi-pabrik-akan-berhenti"/><item><title>   Ajakan Boikot Tak Pakai Kresek dan Botol Plastik, Menteri Susi: Pabrik Akan Berhenti</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/320/2094028/ajakan-boikot-tak-pakai-kresek-dan-botol-plastik-menteri-susi-pabrik-akan-berhenti</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/19/320/2094028/ajakan-boikot-tak-pakai-kresek-dan-botol-plastik-menteri-susi-pabrik-akan-berhenti</guid><pubDate>Senin 19 Agustus 2019 21:03 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/19/320/2094028/ajakan-boikot-tak-pakai-kresek-dan-botol-plastik-menteri-susi-pabrik-akan-berhenti-swx8Yea1nW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Foto: Ilustrasi Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/19/320/2094028/ajakan-boikot-tak-pakai-kresek-dan-botol-plastik-menteri-susi-pabrik-akan-berhenti-swx8Yea1nW.jpg</image><title>Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Foto: Ilustrasi Antara)</title></images><description>JAKARTA - Tahun 2030 diprediksikan akan lebih ada lebih banyak plastik daripada ikan di laut akibat masifnya limbah plastik sekali pakai yang berujung ke laut. Ironisnya, laut Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar kedua di dunia, setelah China. Hal ini mengancam lebih dari 800 spesies biota laut, termasuk ikan dan terumbu karang.

Meresponi kondisi tersebut, Pandu Laut Nusantara, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Yayasan EcoNusa bersama 300 komunitas, organisasi, peerusahaan swasta, BUMN, dan Pemerintah Daerah yang tersebar di seluruh Indonesia menyelenggarakan gerakan Menghadap Laut 2.0 pada Minggu 18 Agustus 2019.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menteri Susi: Tidak Boleh Lagi Ada Botol Plastik Air Mineral
Sebagai informasi, Pandu Laut Nusantara merupakan gerakan sosial masyarakat yang terdiri dari berbagai lapisan individu dan komunitas yang menaruh perhatian pada keberlangsungan kehidupan laut.

Ini merupakan kali kedua gerakan bersih pantai ini dilaksanakan. &amp;ldquo;Tahun ini, tingginya antusasime masyarakat untuk membersihkan laut dan sungai dari sampah membuat gerakan ini dilaksanakan di 108 titik pantai dan 5 titik sungai, melesat dari rencana awal yakni 74 titik. Angka ini belum termasuk relawan yang melakukan bersih pantai dan sungai secara spontan di beberapa tempat di seluruh Indonesia,&amp;rdquo; ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, sebagai Pembina Pandu Laut Nusantara dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (19/8/2019).

Tahun ini, ia memimpin langsung gerakan Menghadap Laut di Pantai Timur Ancol, Jakarta. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Duta Besar dan perwakilan negara-negara sahabat dari Kanada, Panama, Belanda, Hungaria, Polandia, Norwegia, dan Jepang. Hadir pula para pejabat eselon I KKP. Sejumlah influencers tanah air seperti Nirina Zubir, Tora Sudiro, Prita Laura, dan Chacha Frederica juga turut turun tangan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Cikal Bakal Terciptanya Plastik yang Bikin Resah Menteri Susi hingga Sri Mulyani
Melihat sampah yang mayoritas berupa limbah kain yang diikat dengan plastik berserakan di sekitar pantai, Menteri Susi memperkirakan adanya pihak-pihak yang secara sengaja membuang sampah limbah tekstil di wilayah itu.

&amp;ldquo;Dari sampah yang ada di sini, saya lihat ada kesengajaan membuang sampah limbah tekstil. Mungkin dari konveksi, sisa-sisa bahan bikin kaos-kaos diikat lalu dibuang saja kemari,&amp;rdquo; ujarnya.

&amp;nbsp;Menteri Susi mengimbau agar perusahaan-perusahaan tidak membuang  sisa-sisa limbah ke laut dan pantai secara sengaja. Susi akan  menginvestigasi hal ini dan mengirimkan alat berat (eskavator) untuk  membersihkannya.

&amp;ldquo;Mungkin dia pikir &amp;lsquo;ah kain kan nanti lama-lama juga sobek sendiri&amp;rsquo;.  Tapi kan sudah cukup bikin kotor. Lilitnya pakai plastik, ya plastiknya  tidak bisa hilang. Nah, sebagian terkirim lagi di pinggir seperti kalian  lihat di sini,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;nbsp;
Susi juga mengimbau perusahaan-perusahaan yang masih memakai plastik  sekali pakai untuk segera mengalihkan produksinya ke bahan lain yang  lebih tahan lama seperti tumblr dan tas ganepo. &amp;ldquo;Jadi, perilaku bisnis  pun dalam mencari keuntungan bisa di-shifting, bisa diubah, bisa  diganti,&amp;rdquo; pesannya.

Sejalan dengan hal itu, Menteri Susi mengajak masyarakat untuk  menghentikan pemakaian plastik sekali pakai seperti kresek. Dengan  begitu, permintaan plastik sekali pakai pun akan berkurang sehingga para  produsen diharapkan mulai mengurangi produksi kresek untuk bergeser ke  bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan.

&amp;ldquo;Kalau kita boikot tidak mau pake kresek kan pabrik kresek juga  berhenti. Betul tidak? Jadi, tinggal maunya siapa yang mulai duluan.  Pabrik yang produksi kresek atau kita,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;nbsp;
Pemakaian plastik sekali pakai, menurutnya, dapat mengancam  keberlangsungan ikan di laut. Hal ini dikarenakan plastik membutuhkan  puluhan tahun untuk hancur sehingga sampah plastik yang bermuara di laut  dapat termakan oleh ikan. Padahal, ikan merupakan sumber protein yang  penting untuk kesehatan dan kecerdasan SDM.

&amp;ldquo;Kita bersihkan laut supaya lautnya sehat, ikannya banyak untuk  dimakan banyak oleh orang Indonesia yang banyak. Kalau ikannya sedikit,  ya tidak cukup,&amp;rdquo; katanya.
Dari Pantai Timur Ancol sendiri, Menteri Susi bersama para relawan   yang hadir berhasil mengumpulkan total 7.525,3 kg sampah yang terdiri   dari 409,6 kg soft plastic; 107,6 kg hard plastic; 23 kg kertas; 395,6   kg karet; 6.119 tekstil; 187,2 kg kayu olahan; 2,6 kg logam; 129,3 kg   kaca dan keramik; 3,9 kg b3; serta 147,5 kg bahan lainnya.

Menteri Susi mengatakan, gerakan Menghadap Laut yang telah   dilaksanakan ini merupakan bukti kebersamaan masyarakat dunia dari   berbagai latar belakang suku bangsa, profesi, dan suku yang berjuang   untuk menjaga laut dari ancaman sampah yang mengtorinya.

&amp;ldquo;Jadi ayo kita semua juga mulai, bukan hanya membersihkan sampahnya   tapi juga mulai kurangi pemakaian plastik sekali pakai. Tidak bawa   kresek, tidak bawa botol air. Bukan cuma pencuri ikan, pengotor laut dan   pemakai plastik sekali pakai juga tenggelemin aja!,&amp;rdquo; ujarnya.

Chacha Frederica yang hadir dalam kesempatan itu juga mengingatkan   agar masyarakat saling mengajak teman-teman di lingkungan sekitar untuk   memasifkan penghentian plastik sekali pakai.

&amp;ldquo;Jangan pernah bosan, jangan pernah capek untuk menyosialisasikan dan   mengajak teman-teman untuk stop penggunaan plastik sekali pakai.Kita   sama-sama tunjukkan bahwa kita cinta tanah air dengan tidak memakai   plastik sekali pakai,&amp;rdquo; ajaknya.</description><content:encoded>JAKARTA - Tahun 2030 diprediksikan akan lebih ada lebih banyak plastik daripada ikan di laut akibat masifnya limbah plastik sekali pakai yang berujung ke laut. Ironisnya, laut Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar kedua di dunia, setelah China. Hal ini mengancam lebih dari 800 spesies biota laut, termasuk ikan dan terumbu karang.

Meresponi kondisi tersebut, Pandu Laut Nusantara, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Yayasan EcoNusa bersama 300 komunitas, organisasi, peerusahaan swasta, BUMN, dan Pemerintah Daerah yang tersebar di seluruh Indonesia menyelenggarakan gerakan Menghadap Laut 2.0 pada Minggu 18 Agustus 2019.
&amp;nbsp;Baca Juga: Menteri Susi: Tidak Boleh Lagi Ada Botol Plastik Air Mineral
Sebagai informasi, Pandu Laut Nusantara merupakan gerakan sosial masyarakat yang terdiri dari berbagai lapisan individu dan komunitas yang menaruh perhatian pada keberlangsungan kehidupan laut.

Ini merupakan kali kedua gerakan bersih pantai ini dilaksanakan. &amp;ldquo;Tahun ini, tingginya antusasime masyarakat untuk membersihkan laut dan sungai dari sampah membuat gerakan ini dilaksanakan di 108 titik pantai dan 5 titik sungai, melesat dari rencana awal yakni 74 titik. Angka ini belum termasuk relawan yang melakukan bersih pantai dan sungai secara spontan di beberapa tempat di seluruh Indonesia,&amp;rdquo; ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, sebagai Pembina Pandu Laut Nusantara dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (19/8/2019).

Tahun ini, ia memimpin langsung gerakan Menghadap Laut di Pantai Timur Ancol, Jakarta. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Duta Besar dan perwakilan negara-negara sahabat dari Kanada, Panama, Belanda, Hungaria, Polandia, Norwegia, dan Jepang. Hadir pula para pejabat eselon I KKP. Sejumlah influencers tanah air seperti Nirina Zubir, Tora Sudiro, Prita Laura, dan Chacha Frederica juga turut turun tangan.
&amp;nbsp;Baca Juga: Cikal Bakal Terciptanya Plastik yang Bikin Resah Menteri Susi hingga Sri Mulyani
Melihat sampah yang mayoritas berupa limbah kain yang diikat dengan plastik berserakan di sekitar pantai, Menteri Susi memperkirakan adanya pihak-pihak yang secara sengaja membuang sampah limbah tekstil di wilayah itu.

&amp;ldquo;Dari sampah yang ada di sini, saya lihat ada kesengajaan membuang sampah limbah tekstil. Mungkin dari konveksi, sisa-sisa bahan bikin kaos-kaos diikat lalu dibuang saja kemari,&amp;rdquo; ujarnya.

&amp;nbsp;Menteri Susi mengimbau agar perusahaan-perusahaan tidak membuang  sisa-sisa limbah ke laut dan pantai secara sengaja. Susi akan  menginvestigasi hal ini dan mengirimkan alat berat (eskavator) untuk  membersihkannya.

&amp;ldquo;Mungkin dia pikir &amp;lsquo;ah kain kan nanti lama-lama juga sobek sendiri&amp;rsquo;.  Tapi kan sudah cukup bikin kotor. Lilitnya pakai plastik, ya plastiknya  tidak bisa hilang. Nah, sebagian terkirim lagi di pinggir seperti kalian  lihat di sini,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;nbsp;
Susi juga mengimbau perusahaan-perusahaan yang masih memakai plastik  sekali pakai untuk segera mengalihkan produksinya ke bahan lain yang  lebih tahan lama seperti tumblr dan tas ganepo. &amp;ldquo;Jadi, perilaku bisnis  pun dalam mencari keuntungan bisa di-shifting, bisa diubah, bisa  diganti,&amp;rdquo; pesannya.

Sejalan dengan hal itu, Menteri Susi mengajak masyarakat untuk  menghentikan pemakaian plastik sekali pakai seperti kresek. Dengan  begitu, permintaan plastik sekali pakai pun akan berkurang sehingga para  produsen diharapkan mulai mengurangi produksi kresek untuk bergeser ke  bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan.

&amp;ldquo;Kalau kita boikot tidak mau pake kresek kan pabrik kresek juga  berhenti. Betul tidak? Jadi, tinggal maunya siapa yang mulai duluan.  Pabrik yang produksi kresek atau kita,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;nbsp;
Pemakaian plastik sekali pakai, menurutnya, dapat mengancam  keberlangsungan ikan di laut. Hal ini dikarenakan plastik membutuhkan  puluhan tahun untuk hancur sehingga sampah plastik yang bermuara di laut  dapat termakan oleh ikan. Padahal, ikan merupakan sumber protein yang  penting untuk kesehatan dan kecerdasan SDM.

&amp;ldquo;Kita bersihkan laut supaya lautnya sehat, ikannya banyak untuk  dimakan banyak oleh orang Indonesia yang banyak. Kalau ikannya sedikit,  ya tidak cukup,&amp;rdquo; katanya.
Dari Pantai Timur Ancol sendiri, Menteri Susi bersama para relawan   yang hadir berhasil mengumpulkan total 7.525,3 kg sampah yang terdiri   dari 409,6 kg soft plastic; 107,6 kg hard plastic; 23 kg kertas; 395,6   kg karet; 6.119 tekstil; 187,2 kg kayu olahan; 2,6 kg logam; 129,3 kg   kaca dan keramik; 3,9 kg b3; serta 147,5 kg bahan lainnya.

Menteri Susi mengatakan, gerakan Menghadap Laut yang telah   dilaksanakan ini merupakan bukti kebersamaan masyarakat dunia dari   berbagai latar belakang suku bangsa, profesi, dan suku yang berjuang   untuk menjaga laut dari ancaman sampah yang mengtorinya.

&amp;ldquo;Jadi ayo kita semua juga mulai, bukan hanya membersihkan sampahnya   tapi juga mulai kurangi pemakaian plastik sekali pakai. Tidak bawa   kresek, tidak bawa botol air. Bukan cuma pencuri ikan, pengotor laut dan   pemakai plastik sekali pakai juga tenggelemin aja!,&amp;rdquo; ujarnya.

Chacha Frederica yang hadir dalam kesempatan itu juga mengingatkan   agar masyarakat saling mengajak teman-teman di lingkungan sekitar untuk   memasifkan penghentian plastik sekali pakai.

&amp;ldquo;Jangan pernah bosan, jangan pernah capek untuk menyosialisasikan dan   mengajak teman-teman untuk stop penggunaan plastik sekali pakai.Kita   sama-sama tunjukkan bahwa kita cinta tanah air dengan tidak memakai   plastik sekali pakai,&amp;rdquo; ajaknya.</content:encoded></item></channel></rss>
