<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Sederet Masalah Pengembangan Industri Manufaktur: Pungli, Bajing Loncat hingga Macet</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta memprioritaskan penguatan sektor industri manufaktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/20/320/2094489/sederet-masalah-pengembangan-industri-manufaktur-pungli-bajing-loncat-hingga-macet</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/20/320/2094489/sederet-masalah-pengembangan-industri-manufaktur-pungli-bajing-loncat-hingga-macet"/><item><title>   Sederet Masalah Pengembangan Industri Manufaktur: Pungli, Bajing Loncat hingga Macet</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/20/320/2094489/sederet-masalah-pengembangan-industri-manufaktur-pungli-bajing-loncat-hingga-macet</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/20/320/2094489/sederet-masalah-pengembangan-industri-manufaktur-pungli-bajing-loncat-hingga-macet</guid><pubDate>Selasa 20 Agustus 2019 20:12 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/20/320/2094489/sederet-masalah-pengembangan-industri-manufaktur-pungli-bajing-loncat-hingga-harga-gas-nH4pdVY0TT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/20/320/2094489/sederet-masalah-pengembangan-industri-manufaktur-pungli-bajing-loncat-hingga-harga-gas-nH4pdVY0TT.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta memprioritaskan penguatan sektor industri manufaktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lebih positif. Fokus pada perbaikan fundamental ketimbang meributkan harga bahan baku dan energi.
Selama dua tahun terakhir kontribusi sektor industri manufakur terhadap PDB nasional terus menurun.
&amp;nbsp;Baca Juga: Produksi Industri Manufaktur Tumbuh Lambat di Kuartal II-2019
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut di tahun 2018, sektor ini hanya berkontribusi 19,82% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp14.837 triliun. Sementara pada tahun sebelumnya industri manufaktur menyumbang 21,22% dari PDB RI sebesar Rp13.588 triliun.
&amp;rdquo;Kontribusi yang melambat, secara persentase, tapi harus hati-hati melihat angka itu. Saya lebih setuju melihatnya dari sisi pertumbuhan, bukan kontribusi. Kalau dari pertumbuhan ada perlambatan. Naik tapi melambat. Ini yang perlu diwaspadai,&amp;rdquo; ujar Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih di Jakarta, Selasa (20/8/2019).
Lana yang juga Ekonom PT Samuel Asset Management setuju bahwa perkembangan saat ini teknologi menjadi sangat berperan. Tidak terkecuali untuk sektor industri dan manufaktur.
&amp;rdquo;Jadi kalau mau inovasi ya teknologi walaupun pasti ada disrupsi di situ. Memang akan lebih efisien menggunakan teknologi dan jadi satu-satunya jalan,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Strategi BI Jadikan Manufaktur Indonesia Kunci Pertumbuhan Ekonomi
Lebih dari itu, Lana juga menilai bahwa solusi untuk manufaktur bukan dari pelaku industri itu sendiri. Memang, menurutnya, saat ini terdapat banyak hal yang menjadi daftar keluhan. &amp;rdquo;Kalau lihat list keluhan yang ada di Kadin itu panjang sekali,&amp;rdquo; ucapnya.
Tidak terkecuali aspek non teknis seperti pungli dan kemacetan. &amp;rdquo;Salah satu faktor yang membuat biaya produksi mahal, aspek non teknis; pungli, macet, kadang ada bajing loncat. Itu membuat biaya-biaya tadi oleh perusahaan dimasukkan biaya produksi,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;Data BPS juga mencatat bahwa praktik pungli bisa memakan biaya sampai  10% dari total biaya produksi. Belum lagi ditambah biaya yang muncul  akibat kemacetan. &amp;rdquo;Biaya pungli sampai 10% itu besar sekali,&amp;rdquo; katanya.
Harga energi seperti harga gas juga termasuk yang dikeluhkan.  Berkaitan dengan itu, Lana menegaskan, hal tersebut juga bukan menjadi  faktor fundamental yang perlu diperjuangkan saat ini. &amp;rdquo;Bukan itu  problemnya. Harga gas itu nomor sekian lah ya. Yang penting fokuskan  dulu pada perbaikan industri,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Untuk memperkuat sektor industri, Indonesia perlu meningkatkan  rangking Ease of Doing Business (EoDB). Dalam riset yang dirilis Bank  Dunia (World Bank), rangking kemudahan bisnis Indonesia saat ini level  73. Jauh lebih baik dibandingkan level 123 pada 2014 saat Jokowi kali  pertama memimpin.
Namun, level tersebut masih jauh di bawah Negara tetangga seperti  Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bahkan kalah dibandingkan Vietnam.  &amp;rdquo;Dari 10 parameter penilaian, kita hanya unggul dua parameter dari  Vietnam,&amp;rdquo; terang Lana. Rangking EoDB Vietnam sendiri ada di level 60.Lana menegaskan, untuk memerkuat sektor manufaktur, sebaiknya   kemudahan investasi dan bisnis di Indonesia perlu ditingkatkan.   &amp;rdquo;Kemudian fokus kepada empat industri prioritas seperti ditetapkan   Kementerian Perindustrian,&amp;rdquo; tegasnya.
Dengan begitu manufaktur akan bisa lebih baik di tengah pesatnya   perkembangan sektor jasa pada saat ini. &amp;rdquo;Sektor jasa biarkan saja tumbuh   secara alami karena trennya begitu. Pemerintah fokus saja perbaiki   manufaktur,&amp;rdquo; sarannya.
&amp;nbsp;
Beberapa sektor industri saat ini merupakan pengguna utama gas bumi.   Dengan tingkat kebutuhan yang berbeda, struktur biaya produksinya juga   berlainan. Misalnya pupuk memiliki kebutuhan bahan baku gas mencapai  70%  petrokimia, baja dan logam, pulp dan kertas (8%-32%), keramik  (20%-24%)  kaca (20%-25%) dan makanan minuman (15%-25%).
Dengan harga gas yang relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir,   kinerja sektor industri pengguna gas bumi juga solid. Contohnya pelaku   usaha keramik. Meski sering mengeluh harga gas kemahalan, namun banyak   perusahaan yang justru mendulang untung besar.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta memprioritaskan penguatan sektor industri manufaktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lebih positif. Fokus pada perbaikan fundamental ketimbang meributkan harga bahan baku dan energi.
Selama dua tahun terakhir kontribusi sektor industri manufakur terhadap PDB nasional terus menurun.
&amp;nbsp;Baca Juga: Produksi Industri Manufaktur Tumbuh Lambat di Kuartal II-2019
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut di tahun 2018, sektor ini hanya berkontribusi 19,82% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp14.837 triliun. Sementara pada tahun sebelumnya industri manufaktur menyumbang 21,22% dari PDB RI sebesar Rp13.588 triliun.
&amp;rdquo;Kontribusi yang melambat, secara persentase, tapi harus hati-hati melihat angka itu. Saya lebih setuju melihatnya dari sisi pertumbuhan, bukan kontribusi. Kalau dari pertumbuhan ada perlambatan. Naik tapi melambat. Ini yang perlu diwaspadai,&amp;rdquo; ujar Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih di Jakarta, Selasa (20/8/2019).
Lana yang juga Ekonom PT Samuel Asset Management setuju bahwa perkembangan saat ini teknologi menjadi sangat berperan. Tidak terkecuali untuk sektor industri dan manufaktur.
&amp;rdquo;Jadi kalau mau inovasi ya teknologi walaupun pasti ada disrupsi di situ. Memang akan lebih efisien menggunakan teknologi dan jadi satu-satunya jalan,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Strategi BI Jadikan Manufaktur Indonesia Kunci Pertumbuhan Ekonomi
Lebih dari itu, Lana juga menilai bahwa solusi untuk manufaktur bukan dari pelaku industri itu sendiri. Memang, menurutnya, saat ini terdapat banyak hal yang menjadi daftar keluhan. &amp;rdquo;Kalau lihat list keluhan yang ada di Kadin itu panjang sekali,&amp;rdquo; ucapnya.
Tidak terkecuali aspek non teknis seperti pungli dan kemacetan. &amp;rdquo;Salah satu faktor yang membuat biaya produksi mahal, aspek non teknis; pungli, macet, kadang ada bajing loncat. Itu membuat biaya-biaya tadi oleh perusahaan dimasukkan biaya produksi,&amp;rdquo; ungkapnya.
&amp;nbsp;Data BPS juga mencatat bahwa praktik pungli bisa memakan biaya sampai  10% dari total biaya produksi. Belum lagi ditambah biaya yang muncul  akibat kemacetan. &amp;rdquo;Biaya pungli sampai 10% itu besar sekali,&amp;rdquo; katanya.
Harga energi seperti harga gas juga termasuk yang dikeluhkan.  Berkaitan dengan itu, Lana menegaskan, hal tersebut juga bukan menjadi  faktor fundamental yang perlu diperjuangkan saat ini. &amp;rdquo;Bukan itu  problemnya. Harga gas itu nomor sekian lah ya. Yang penting fokuskan  dulu pada perbaikan industri,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;nbsp;
Untuk memperkuat sektor industri, Indonesia perlu meningkatkan  rangking Ease of Doing Business (EoDB). Dalam riset yang dirilis Bank  Dunia (World Bank), rangking kemudahan bisnis Indonesia saat ini level  73. Jauh lebih baik dibandingkan level 123 pada 2014 saat Jokowi kali  pertama memimpin.
Namun, level tersebut masih jauh di bawah Negara tetangga seperti  Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bahkan kalah dibandingkan Vietnam.  &amp;rdquo;Dari 10 parameter penilaian, kita hanya unggul dua parameter dari  Vietnam,&amp;rdquo; terang Lana. Rangking EoDB Vietnam sendiri ada di level 60.Lana menegaskan, untuk memerkuat sektor manufaktur, sebaiknya   kemudahan investasi dan bisnis di Indonesia perlu ditingkatkan.   &amp;rdquo;Kemudian fokus kepada empat industri prioritas seperti ditetapkan   Kementerian Perindustrian,&amp;rdquo; tegasnya.
Dengan begitu manufaktur akan bisa lebih baik di tengah pesatnya   perkembangan sektor jasa pada saat ini. &amp;rdquo;Sektor jasa biarkan saja tumbuh   secara alami karena trennya begitu. Pemerintah fokus saja perbaiki   manufaktur,&amp;rdquo; sarannya.
&amp;nbsp;
Beberapa sektor industri saat ini merupakan pengguna utama gas bumi.   Dengan tingkat kebutuhan yang berbeda, struktur biaya produksinya juga   berlainan. Misalnya pupuk memiliki kebutuhan bahan baku gas mencapai  70%  petrokimia, baja dan logam, pulp dan kertas (8%-32%), keramik  (20%-24%)  kaca (20%-25%) dan makanan minuman (15%-25%).
Dengan harga gas yang relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir,   kinerja sektor industri pengguna gas bumi juga solid. Contohnya pelaku   usaha keramik. Meski sering mengeluh harga gas kemahalan, namun banyak   perusahaan yang justru mendulang untung besar.</content:encoded></item></channel></rss>
