<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penjualan Marmer dan Batu Alam Turun 30% Imbas Lesunya Industri Properti</title><description>Lesunya industri properti pada tahun ini ternyata berimbas pada penjualan industri marmer dan batu alam.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/21/470/2094988/penjualan-marmer-dan-batu-alam-turun-30-imbas-lesunya-industri-properti</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/21/470/2094988/penjualan-marmer-dan-batu-alam-turun-30-imbas-lesunya-industri-properti"/><item><title>Penjualan Marmer dan Batu Alam Turun 30% Imbas Lesunya Industri Properti</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/21/470/2094988/penjualan-marmer-dan-batu-alam-turun-30-imbas-lesunya-industri-properti</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/21/470/2094988/penjualan-marmer-dan-batu-alam-turun-30-imbas-lesunya-industri-properti</guid><pubDate>Rabu 21 Agustus 2019 21:08 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/21/470/2094988/penjualan-marmer-dan-batu-alam-turun-30-imbas-lesunya-industri-properti-Lm2Bl4ydj3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi: Foto Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/21/470/2094988/penjualan-marmer-dan-batu-alam-turun-30-imbas-lesunya-industri-properti-Lm2Bl4ydj3.jpg</image><title>Ilustrasi: Foto Okezone</title></images><description>JAKARTA - Lesunya industri properti pada tahun ini ternyata berimbas pada penjualan industri marmer dan batu alam. Karena biasanya, produk-produk marmer dan juga batu alam ini dipakai untuk pembangunan rumah dan properti lainnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kursi Marmer, Tapi Kok Empuk?
Imbas lesunya industri properti penjualan marmer dan batu alam mengalami penurunan hingga 30% pada tahun ini. Namun, penurunannya cukup bisa ditekan dan terbantu dari penjualan di ritel-ritel yang masih cukup tinggi.

&amp;ldquo;Presentase turun (penjualan) 30% tahun ini. Jadi sebenarnya properti lesu biasanya rumah tinggal stagnan. Investor itu atau pemilik kerjanya agak selow. Begitu (penjualan) ritel naik properti (turun),&amp;rdquo; ujar Presiden Direktur Faggeti Ferdinand Gumanti di Jakarta, Rabu (21/8/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Tampil Mewah dengan Marmer
Menurut Ferdinand, turunnya penjualan ini merupakan siklus lima tahunan karena adanya pemilihan umum dan pemilihan presiden (pilpres). Begitu musim Pemilu dan Pilpres berakhir biasanya industri properti kembali rebound yang diikuti oleh indsutri lainnya termasuk marmer dan juga batu alam.

&amp;ldquo;Siklus lima tahun sekali selalu turun. Karena dengan tahun poltik lihat perkembangannya. Tahun depan properti lagi rame,&amp;rdquo; ucapnya.

Selain itu lanjut Ferdinand, pada tahun ini juga tantangan industri marmer dan batu alam cukup berat. Mengingat perang dagang antara Amerika Serikat dan China hingga saat ini tak kunjung berakhir.
&amp;nbsp;Apalagi memang masih banyak sekali bahan baku untuk marmer dan batu  alam yang impor dari luar negeri. Meskipun. Diakui Ferdinand bahan baku  marmer dari dalam negeri juga ada beberapa yang cukup bagus

&amp;ldquo;Kalau lokal memang batunya kita dari Ujung Pandang, kalau impor marmer terganggu (produk) China,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;nbsp;
Meskipun begitu, pihaknya menyiapkan langkah antisipasi dengan  mencari pasar lain. Karena jika mengikuti pasar batu alam atau marmer  asal China, tentu saja produk lokal akan kalah.

Bagaimana tidak, produk marmer asal China biasanya memiliki harga  yang sangat murah dibandingkan produk lokal. Bahkan harganya bisa dua  kali lebih murah dibandingkan produk lokal

&amp;ldquo;Namanya juga persaingan kita tidak bisa bentuk. Saya enggak bisa  bersaing dengan produk ini (sama dengan produk China) supaya kita enggak  masuk berbenturan. Kalau saya masuk segmennya (produk China) dia pasti  kalah,&amp;rdquo; katanya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Lesunya industri properti pada tahun ini ternyata berimbas pada penjualan industri marmer dan batu alam. Karena biasanya, produk-produk marmer dan juga batu alam ini dipakai untuk pembangunan rumah dan properti lainnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kursi Marmer, Tapi Kok Empuk?
Imbas lesunya industri properti penjualan marmer dan batu alam mengalami penurunan hingga 30% pada tahun ini. Namun, penurunannya cukup bisa ditekan dan terbantu dari penjualan di ritel-ritel yang masih cukup tinggi.

&amp;ldquo;Presentase turun (penjualan) 30% tahun ini. Jadi sebenarnya properti lesu biasanya rumah tinggal stagnan. Investor itu atau pemilik kerjanya agak selow. Begitu (penjualan) ritel naik properti (turun),&amp;rdquo; ujar Presiden Direktur Faggeti Ferdinand Gumanti di Jakarta, Rabu (21/8/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Tampil Mewah dengan Marmer
Menurut Ferdinand, turunnya penjualan ini merupakan siklus lima tahunan karena adanya pemilihan umum dan pemilihan presiden (pilpres). Begitu musim Pemilu dan Pilpres berakhir biasanya industri properti kembali rebound yang diikuti oleh indsutri lainnya termasuk marmer dan juga batu alam.

&amp;ldquo;Siklus lima tahun sekali selalu turun. Karena dengan tahun poltik lihat perkembangannya. Tahun depan properti lagi rame,&amp;rdquo; ucapnya.

Selain itu lanjut Ferdinand, pada tahun ini juga tantangan industri marmer dan batu alam cukup berat. Mengingat perang dagang antara Amerika Serikat dan China hingga saat ini tak kunjung berakhir.
&amp;nbsp;Apalagi memang masih banyak sekali bahan baku untuk marmer dan batu  alam yang impor dari luar negeri. Meskipun. Diakui Ferdinand bahan baku  marmer dari dalam negeri juga ada beberapa yang cukup bagus

&amp;ldquo;Kalau lokal memang batunya kita dari Ujung Pandang, kalau impor marmer terganggu (produk) China,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;nbsp;
Meskipun begitu, pihaknya menyiapkan langkah antisipasi dengan  mencari pasar lain. Karena jika mengikuti pasar batu alam atau marmer  asal China, tentu saja produk lokal akan kalah.

Bagaimana tidak, produk marmer asal China biasanya memiliki harga  yang sangat murah dibandingkan produk lokal. Bahkan harganya bisa dua  kali lebih murah dibandingkan produk lokal

&amp;ldquo;Namanya juga persaingan kita tidak bisa bentuk. Saya enggak bisa  bersaing dengan produk ini (sama dengan produk China) supaya kita enggak  masuk berbenturan. Kalau saya masuk segmennya (produk China) dia pasti  kalah,&amp;rdquo; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
