<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>4 Hari Terpuruk, Kini Harga Minyak Dunia Meroket   </title><description>Harga minyak naik pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), mengakhiri penurunan beruntun selama empat hari.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/28/320/2097503/4-hari-terpuruk-kini-harga-minyak-dunia-meroket</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/28/320/2097503/4-hari-terpuruk-kini-harga-minyak-dunia-meroket"/><item><title>4 Hari Terpuruk, Kini Harga Minyak Dunia Meroket   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/28/320/2097503/4-hari-terpuruk-kini-harga-minyak-dunia-meroket</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/28/320/2097503/4-hari-terpuruk-kini-harga-minyak-dunia-meroket</guid><pubDate>Rabu 28 Agustus 2019 07:44 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/28/320/2097503/4-hari-terpuruk-kini-harga-minyak-dunia-meroket-jQgCJLE8nQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga Minyak Dunia Meroket (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/28/320/2097503/4-hari-terpuruk-kini-harga-minyak-dunia-meroket-jQgCJLE8nQ.jpg</image><title>Harga Minyak Dunia Meroket (Foto: Shutterstock)</title></images><description>
NEW YORK - Harga minyak naik pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), mengakhiri penurunan beruntun selama empat hari, karena investor menunggu data persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS), meskipun kenaikannya dibatasi oleh kekhawatiran tentang resesi dan ketidakpastian atas kesepakatan dagang AS-China.

Patokan global, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober naik USD0,81 atau 1,4% menjadi ditutup pada USD59,51 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, naik USD1,29 atau 2,4% menjadi menetap pada USD54,93 per barel di New York Mercantile Exchange,
&amp;nbsp;Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 1% Tertekan Pasokan Iran
Harga-harga memperpanjang kenaikan dalam perdagangan pasca-penyelesaian, dengan Brent menyentuh tertinggi USD59,88 dan WTI mencapai USD55,45, setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun lebih dari yang diperkirakan.

Stok minyak mentah AS turun tajam pekan lalu karena impor turun, anjlok 11,1 juta barel, dibandingkan dengan ekspektasi untuk penarikan 2,0 juta barel. Laporan mingguan pemerintah AS baru akan dirilis Rabu pagi waktu setempat.
&amp;nbsp;Baca Juga: Harga Minyak Jatuh Akibat Perang Dagang, Brent Sentuh Level USD59,34/Barel
Pengurangan dalam persediaan di tengah berjalannya penyulingan yang kuat memberi kekuatan pada harga minyak mentah, mengungguli kekhawatiran bahwa ketegangan perdagangan dapat membebani permintaan, kata Bob Yawger, Direktur Energi Berjangka di Mizuho di New York.
&amp;nbsp;Selama sesi tersebut, pasar minyak telah terombang-ambing dalam  menanggapi ayunan di Wall Street, yang tertekan oleh jatuhnya  saham-saham keuangan, sementara kekhawatiran tentang resesi AS hidupkan  kembali dibayangi optimisme awal resolusi untuk sengketa perdagangan  berkepanjangan antara dua ekonomi terbesar di dunia.

Presiden AS Donald Trump percaya China tulus tentang keinginan untuk  mencapai kesepakatan, sementara Wakil Perdana Menteri China Liu He  mengatakan China bersedia untuk menyelesaikan perselisihan melalui  negosiasi tenang.
&amp;nbsp;
Namun demikian, pada Selasa (27/8/2019) kekhawatiran tentang  perdagangan muncul kembali setelah kementerian luar negeri China  mengatakan bahwa mereka tidak mendengar adanya pembicaraan melalui  saluran telepon baru-baru ini antara Amerika Serikat dan China tentang  perdagangan, dan mengatakan mereka berharap Washington dapat  menghentikan tindakan yang salah dan menciptakan kondisi untuk  pembicaraan.

Harga minyak mentah telah turun sekitar 20% dari tertinggi 2019 yang  dicapai pada April, sebagian karena kekhawatiran bahwa perang  perdagangan AS-China merusak ekonomi global, yang dapat mengurangi  permintaan minyak.
Kementerian Perdagangan China pekan lalu mengatakan akan   memberlakukan tarif tambahan lima persen atau 10% pada 5.078 produk yang   berasal dari Amerika Serikat, termasuk minyak mentah, produk pertanian   dan pesawat kecil.

Sebagai pembalasan, Trump mengatakan dia memerintahkan   perusahaan-perusahaan AS untuk mencari cara menutup operasi di China dan   membuat produk-produk di Amerika Serikat.

&quot;Rasa tenang relatif telah dipulihkan, tetapi tidak mungkin untuk   mengetahui berapa lama itu akan berlangsung,&quot; kata Tamas Varga, pialang   minyak PVM. Demikian dikutip Antaranews, Jakarta, Rabu (28/8/2019).
&amp;nbsp;
&quot;Setiap optimisme pasar hanya akan menang ketika tinta telah mengering pada perjanjian perdagangan AS-China yang baru,&quot;

Langkah-langkah itu memicu reaksi dari perusahaan-perusahaan China,   dengan Sinopec mencari pembebasan tarif untuk mengimpor minyak AS dalam   beberapa bulan mendatang, sumber mengatakan kepada Reuters.
</description><content:encoded>
NEW YORK - Harga minyak naik pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), mengakhiri penurunan beruntun selama empat hari, karena investor menunggu data persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS), meskipun kenaikannya dibatasi oleh kekhawatiran tentang resesi dan ketidakpastian atas kesepakatan dagang AS-China.

Patokan global, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober naik USD0,81 atau 1,4% menjadi ditutup pada USD59,51 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, naik USD1,29 atau 2,4% menjadi menetap pada USD54,93 per barel di New York Mercantile Exchange,
&amp;nbsp;Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 1% Tertekan Pasokan Iran
Harga-harga memperpanjang kenaikan dalam perdagangan pasca-penyelesaian, dengan Brent menyentuh tertinggi USD59,88 dan WTI mencapai USD55,45, setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun lebih dari yang diperkirakan.

Stok minyak mentah AS turun tajam pekan lalu karena impor turun, anjlok 11,1 juta barel, dibandingkan dengan ekspektasi untuk penarikan 2,0 juta barel. Laporan mingguan pemerintah AS baru akan dirilis Rabu pagi waktu setempat.
&amp;nbsp;Baca Juga: Harga Minyak Jatuh Akibat Perang Dagang, Brent Sentuh Level USD59,34/Barel
Pengurangan dalam persediaan di tengah berjalannya penyulingan yang kuat memberi kekuatan pada harga minyak mentah, mengungguli kekhawatiran bahwa ketegangan perdagangan dapat membebani permintaan, kata Bob Yawger, Direktur Energi Berjangka di Mizuho di New York.
&amp;nbsp;Selama sesi tersebut, pasar minyak telah terombang-ambing dalam  menanggapi ayunan di Wall Street, yang tertekan oleh jatuhnya  saham-saham keuangan, sementara kekhawatiran tentang resesi AS hidupkan  kembali dibayangi optimisme awal resolusi untuk sengketa perdagangan  berkepanjangan antara dua ekonomi terbesar di dunia.

Presiden AS Donald Trump percaya China tulus tentang keinginan untuk  mencapai kesepakatan, sementara Wakil Perdana Menteri China Liu He  mengatakan China bersedia untuk menyelesaikan perselisihan melalui  negosiasi tenang.
&amp;nbsp;
Namun demikian, pada Selasa (27/8/2019) kekhawatiran tentang  perdagangan muncul kembali setelah kementerian luar negeri China  mengatakan bahwa mereka tidak mendengar adanya pembicaraan melalui  saluran telepon baru-baru ini antara Amerika Serikat dan China tentang  perdagangan, dan mengatakan mereka berharap Washington dapat  menghentikan tindakan yang salah dan menciptakan kondisi untuk  pembicaraan.

Harga minyak mentah telah turun sekitar 20% dari tertinggi 2019 yang  dicapai pada April, sebagian karena kekhawatiran bahwa perang  perdagangan AS-China merusak ekonomi global, yang dapat mengurangi  permintaan minyak.
Kementerian Perdagangan China pekan lalu mengatakan akan   memberlakukan tarif tambahan lima persen atau 10% pada 5.078 produk yang   berasal dari Amerika Serikat, termasuk minyak mentah, produk pertanian   dan pesawat kecil.

Sebagai pembalasan, Trump mengatakan dia memerintahkan   perusahaan-perusahaan AS untuk mencari cara menutup operasi di China dan   membuat produk-produk di Amerika Serikat.

&quot;Rasa tenang relatif telah dipulihkan, tetapi tidak mungkin untuk   mengetahui berapa lama itu akan berlangsung,&quot; kata Tamas Varga, pialang   minyak PVM. Demikian dikutip Antaranews, Jakarta, Rabu (28/8/2019).
&amp;nbsp;
&quot;Setiap optimisme pasar hanya akan menang ketika tinta telah mengering pada perjanjian perdagangan AS-China yang baru,&quot;

Langkah-langkah itu memicu reaksi dari perusahaan-perusahaan China,   dengan Sinopec mencari pembebasan tarif untuk mengimpor minyak AS dalam   beberapa bulan mendatang, sumber mengatakan kepada Reuters.
</content:encoded></item></channel></rss>
