<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>4 Ciri-Ciri Meredanya Globalisasi Menuju Era Digitalisasi</title><description>Banyaknya negara yang mengandalkan internal (domestik) dalam merespons ketegangan perdagangan internasional</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/29/20/2098052/4-ciri-ciri-meredanya-globalisasi-menuju-era-digitalisasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/29/20/2098052/4-ciri-ciri-meredanya-globalisasi-menuju-era-digitalisasi"/><item><title>4 Ciri-Ciri Meredanya Globalisasi Menuju Era Digitalisasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/29/20/2098052/4-ciri-ciri-meredanya-globalisasi-menuju-era-digitalisasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/29/20/2098052/4-ciri-ciri-meredanya-globalisasi-menuju-era-digitalisasi</guid><pubDate>Kamis 29 Agustus 2019 11:56 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/29/20/2098052/4-ciri-ciri-meredanya-globalisasi-menuju-era-digitalisasi-gHZYdtgjLS.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Pergerakan Ekonomi Global. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/29/20/2098052/4-ciri-ciri-meredanya-globalisasi-menuju-era-digitalisasi-gHZYdtgjLS.jpeg</image><title>Ilustrasi Pergerakan Ekonomi Global. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Menghadapi digitalisasi ekonomi ke depan, para pengambil kebijakan, termasuk bank sentral, perlu memahami perubahan-perubahan pemikiran ekonomi sehingga dapat melakukan respons kebijakan secara tepat.
Baca Juga: Mata Uang Safe Haven Dibayang-bayangi Harapan Stimulus Meningkat
Untuk itu, munculnya pemikiran-pemikiran, perumusan riset, dan kebijakan, menjadi salah satu prasyarat penting dalam menghadapi tantangan ke depan.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan empat ciri meredanya globalisasi menuju meningkatnya digitalisasi. Pertama, banyaknya negara yang mengandalkan internal (domestik) dalam merespons ketegangan perdagangan internasional.
Baca Juga: Pelemahan Yuan, Menko Darmin: Banyak Mata Uang Negara Ikut Melemah
Kedua, arus modal antar negara dan nilai tukar yang semakin bergejolak. Ketiga, bahwa respons kebijakan bank sentral tidak dapat mengandalkan suku bunga.
&amp;ldquo;Mandat bank sentral di beberapa negara tidak hanya menjaga inflasi tapi juga stabilitas sistem keuangan, sehingga kebijakan makroprudensial menjadi penting. Keempat, semakin maraknya digitalisasi di bidang ekonomi maupun keuangan,&amp;rdquo; ujar Perry, dalam keterangannya, Kamis (29/8/2019).Lebih lanjut, Perry menyampaikan tiga hal yang perlu menjadi  perhatian bank sentral dan pengambil kebijakan dalam merespons hal  tersebut. Pertama, Menerapkan bauran kebijakan bank sentral (policy  mix). Kedua, Perlunya memperkuat sinergi dan koordinasi antar pemangku  kebijakan dengan meningkatkan transparansi dan komunikasi. Ketiga,  perlunya memanfaatkan era digitalisasi untuk menjaga stabilitas dan  mendorong pertumbuhan ekonomi.
&amp;ldquo;Di mana Bank Indonesia menyusun Visi SPI 2025 untuk mengintegrasikan ekonomi dengan keuangan digital,&amp;rdquo; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menghadapi digitalisasi ekonomi ke depan, para pengambil kebijakan, termasuk bank sentral, perlu memahami perubahan-perubahan pemikiran ekonomi sehingga dapat melakukan respons kebijakan secara tepat.
Baca Juga: Mata Uang Safe Haven Dibayang-bayangi Harapan Stimulus Meningkat
Untuk itu, munculnya pemikiran-pemikiran, perumusan riset, dan kebijakan, menjadi salah satu prasyarat penting dalam menghadapi tantangan ke depan.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan empat ciri meredanya globalisasi menuju meningkatnya digitalisasi. Pertama, banyaknya negara yang mengandalkan internal (domestik) dalam merespons ketegangan perdagangan internasional.
Baca Juga: Pelemahan Yuan, Menko Darmin: Banyak Mata Uang Negara Ikut Melemah
Kedua, arus modal antar negara dan nilai tukar yang semakin bergejolak. Ketiga, bahwa respons kebijakan bank sentral tidak dapat mengandalkan suku bunga.
&amp;ldquo;Mandat bank sentral di beberapa negara tidak hanya menjaga inflasi tapi juga stabilitas sistem keuangan, sehingga kebijakan makroprudensial menjadi penting. Keempat, semakin maraknya digitalisasi di bidang ekonomi maupun keuangan,&amp;rdquo; ujar Perry, dalam keterangannya, Kamis (29/8/2019).Lebih lanjut, Perry menyampaikan tiga hal yang perlu menjadi  perhatian bank sentral dan pengambil kebijakan dalam merespons hal  tersebut. Pertama, Menerapkan bauran kebijakan bank sentral (policy  mix). Kedua, Perlunya memperkuat sinergi dan koordinasi antar pemangku  kebijakan dengan meningkatkan transparansi dan komunikasi. Ketiga,  perlunya memanfaatkan era digitalisasi untuk menjaga stabilitas dan  mendorong pertumbuhan ekonomi.
&amp;ldquo;Di mana Bank Indonesia menyusun Visi SPI 2025 untuk mengintegrasikan ekonomi dengan keuangan digital,&amp;rdquo; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
