<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bos Transjakarta Keluhkan Mahalnya Biaya Cas Bus Listrik</title><description>PT Transjakarta berkomitmen akan memperbanyak penggunaan bus listrik sebagai alat operasional utama bagi masyarakat</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/29/320/2098103/bos-transjakarta-keluhkan-mahalnya-biaya-cas-bus-listrik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/08/29/320/2098103/bos-transjakarta-keluhkan-mahalnya-biaya-cas-bus-listrik"/><item><title>Bos Transjakarta Keluhkan Mahalnya Biaya Cas Bus Listrik</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/08/29/320/2098103/bos-transjakarta-keluhkan-mahalnya-biaya-cas-bus-listrik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/08/29/320/2098103/bos-transjakarta-keluhkan-mahalnya-biaya-cas-bus-listrik</guid><pubDate>Kamis 29 Agustus 2019 13:35 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/29/320/2098103/bos-transjakarta-keluhkan-mahalnya-biaya-cas-bus-listrik-h7K3ZDSwxm.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono. (Foto: Okezone.com/Taufik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/29/320/2098103/bos-transjakarta-keluhkan-mahalnya-biaya-cas-bus-listrik-h7K3ZDSwxm.jpeg</image><title>Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono. (Foto: Okezone.com/Taufik)</title></images><description>JAKARTA - PT Transjakarta berkomitmen akan memperbanyak penggunaan bus listrik sebagai alat operasional utama bagi masyarakat. Namun perusahaan moda transportasi ini mengeluhkan soal biaya cas listrik yang masih mahal.
Baca Juga: Kendaraan Listrik Ampuh Turunkan Impor Minyak?
&quot;Biaya cas listrik yang terbilang masih mahal. Dan juga belum adanya aturan yang memberikan kewenangan untuk mengoperasikan bus listrik dalam trayek. Hal itu yang menghambat komitmen kami,&quot; ujar Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono, di Hotel Harris Vertu Jakarta, Kamis (29/8/2019).
Menurut dia, besaran biaya tarif listrik saat ini yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2011, belum bisa mengkompensasi biaya pembelian bus listrik berbasis baterai yang terbilang lebih mahal ketimbang bus berbahan bakar fosil.

&quot;Sehingga tarif operasional dikatakannya akan mahal,&quot; tutur dia.
Dia menjelaskan, biaya tarif listrik saat ini memang hanya sebesar Rp1.445 per kilo watt per jam, lebih rendah ketimbang biaya bahan bakar solar yang sebesar Rp5.150 per liter dan gas yang sebesar Rp3.100 per liter.
Baca Juga: Pengembangan Mobil Listrik RI Jangan Ada Intervensi Asing
&quot;Tapi harga pembelian bus listrik tiga kali lebih mahal ketimbang bus konvensional yang sekitar Rp2 miliar. Ini diperlukan untuk kompensasi biaya pembelian yang lebih mahal sehingga bisa lebih murah lagi. Jadi biaya operasional bisa lebih murah kalau tarif listriknya bisa diberi keringanan,&quot; ungkap dia.Maka itu, lanjut dia PLN harus bisa mengenakan tarif listrik kepada  transportasi umum seharga biaya produksi di industri yang hanya Rp700  per kilo watt.
&quot;Di mana produksi listrik di Jawa dan Bali saat ini kelebihan  pasokan, terutama saat malam hari, karena aktifitas industri dan  perkantoran yang mati tidak menyerap produksi listrik yang berlangsung  selama 24 jam,&quot; pungkas dia.
Sebelumnya, saat ini TransJakarta sudah memiliki 3 bus listrik  berbasis baterai dengan luas dimensi 2.550 milimeter atau lima senti  lebih besar ketimbang bus konvensional. Satu bus hasil produksi PT Mobil  Anak Bangsa dan dua bus hasil produksi BYD Auto asal China.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Transjakarta berkomitmen akan memperbanyak penggunaan bus listrik sebagai alat operasional utama bagi masyarakat. Namun perusahaan moda transportasi ini mengeluhkan soal biaya cas listrik yang masih mahal.
Baca Juga: Kendaraan Listrik Ampuh Turunkan Impor Minyak?
&quot;Biaya cas listrik yang terbilang masih mahal. Dan juga belum adanya aturan yang memberikan kewenangan untuk mengoperasikan bus listrik dalam trayek. Hal itu yang menghambat komitmen kami,&quot; ujar Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono, di Hotel Harris Vertu Jakarta, Kamis (29/8/2019).
Menurut dia, besaran biaya tarif listrik saat ini yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2011, belum bisa mengkompensasi biaya pembelian bus listrik berbasis baterai yang terbilang lebih mahal ketimbang bus berbahan bakar fosil.

&quot;Sehingga tarif operasional dikatakannya akan mahal,&quot; tutur dia.
Dia menjelaskan, biaya tarif listrik saat ini memang hanya sebesar Rp1.445 per kilo watt per jam, lebih rendah ketimbang biaya bahan bakar solar yang sebesar Rp5.150 per liter dan gas yang sebesar Rp3.100 per liter.
Baca Juga: Pengembangan Mobil Listrik RI Jangan Ada Intervensi Asing
&quot;Tapi harga pembelian bus listrik tiga kali lebih mahal ketimbang bus konvensional yang sekitar Rp2 miliar. Ini diperlukan untuk kompensasi biaya pembelian yang lebih mahal sehingga bisa lebih murah lagi. Jadi biaya operasional bisa lebih murah kalau tarif listriknya bisa diberi keringanan,&quot; ungkap dia.Maka itu, lanjut dia PLN harus bisa mengenakan tarif listrik kepada  transportasi umum seharga biaya produksi di industri yang hanya Rp700  per kilo watt.
&quot;Di mana produksi listrik di Jawa dan Bali saat ini kelebihan  pasokan, terutama saat malam hari, karena aktifitas industri dan  perkantoran yang mati tidak menyerap produksi listrik yang berlangsung  selama 24 jam,&quot; pungkas dia.
Sebelumnya, saat ini TransJakarta sudah memiliki 3 bus listrik  berbasis baterai dengan luas dimensi 2.550 milimeter atau lima senti  lebih besar ketimbang bus konvensional. Satu bus hasil produksi PT Mobil  Anak Bangsa dan dua bus hasil produksi BYD Auto asal China.</content:encoded></item></channel></rss>
