<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Perang Dagang AS-China Jadi Biang Keladi Melambatnya Ekonomi Asia</title><description>IGJ menyoroti fenomena perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara di kawasan Asia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/01/20/2099231/perang-dagang-as-china-jadi-biang-keladi-melambatnya-ekonomi-asia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/01/20/2099231/perang-dagang-as-china-jadi-biang-keladi-melambatnya-ekonomi-asia"/><item><title>   Perang Dagang AS-China Jadi Biang Keladi Melambatnya Ekonomi Asia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/01/20/2099231/perang-dagang-as-china-jadi-biang-keladi-melambatnya-ekonomi-asia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/01/20/2099231/perang-dagang-as-china-jadi-biang-keladi-melambatnya-ekonomi-asia</guid><pubDate>Minggu 01 September 2019 17:27 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/01/20/2099231/perang-dagang-as-china-jadi-biang-keladi-melambatnya-ekonomi-asia-FkbLeJMvju.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perang Dagang AS-China Bikin Ekonomi Asia Melambat (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/01/20/2099231/perang-dagang-as-china-jadi-biang-keladi-melambatnya-ekonomi-asia-FkbLeJMvju.jpg</image><title>Perang Dagang AS-China Bikin Ekonomi Asia Melambat (Foto: Shutterstock)</title></images><description> 
JAKARTA - Indonesia for Global Justice (IGJ) menyoroti fenomena perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara  di kawasan Asia sebagai akibat dari perang dagang yang tidak kunjung usai antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China.

&quot;Perlambatan ekonomi yang dihadapi oleh negara-negara di Asia hari ini akibat perang dagang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berpotensi ikut melambat,&quot; kata Direktur Eksekutif IGJ Rachmi Hertanti di Jakarta, Minggu (1/9/2019).
&amp;nbsp; Baca Juga: Trump Pastikan Tarif Impor Tambahan untuk China Berlaku Hari Ini
Rachmi Hertanti mengemukakan bahwa  penurunan angka perdagangan global sedikit banyak juga telah menurunkan kapasitas produksi dunia, yang pada akhirnya juga berdampak terhadap kapasitas sektor swasta.

Direktur Eksekutif IGJ berpendapat bahwa meningkatnya pertumbuhan infrastruktur di berbagai daerah di Tanah Air, bila tidak ditopang oleh penguatan sektor produksi maka akan menjadi perangkap bagi Indonesia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perang Dagang Memanas, Trump Minta Perusahaan AS Cabut dari China
Selain itu, ujar dia, berbagai pihak juga sudah memberikan peringatan soal rasio utang swasta yang dinilai sangat berisiko.

&quot;Dampaknya terhadap Indonesia adalah potensi terhadap memburuknya neraca transaksi pembayaran. Pendapatan primer dalam neraca pembayaran masih sangat rendah,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Dia menyatakan, sukar untuk menaikan pendapatan sektor primer jika  situasi krisis di Asia terus membayangi. Sedangkan di sisi yang lain,  pendapatan dari sektor perdagangan barang dan jasa terus negatif.

Sebelumnya Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menilai  bahwa Pemerintah perlu benar-benar menyiapkan strategi besar dalam  mengantisipasi dampak perang dagang antara dua raksasa global, Amerika  Serikat dan China, yang akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian  nasional.
&amp;nbsp;
Dia memperkirakan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar belum  mereda sebagai dampak dari kondisi ekonomi global yang belum membaik.

Said Abdullah menilai selain imbas normalisasi kebijakan moneter The  Fed (bank sentral AS), pelemahan rupiah juga dipicu perang dagang antara  China dan AS yang kemudian menjadi perang mata uang.

&quot;Jadi, kalau dua negara raksasa ekonomi ini berperang, maka akan  membuat arus perdagangan dan rantai pasar global terhambat. Alhasil,  kinerja ekspor Indonesia pun berpeluang terganggu karena penurunan  permintaan,&quot; katanya.
Untuk itu, dia meminta pemerintah menyiapkan strategi   besar karena China dan AS merupakan negara-negara tujuan ekspor terbesar   Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan   pemerintah akan fokus mendorong ekspor industri tekstil dan produk   tekstil (TPT) untuk memperbaiki neraca perdagangan pada semester I 2019   yang saat ini telah mencapai angka USD1,90 miliar. Demikian dikutip Antaranews.

&quot;Peningkatan ekspor di tengah situasi yang tidak pasti ini, kami   harus melakukannya,&quot; kata Enggartiasto saat ditemui usai rapat   pembahasan RAPBN 2020 di Gedung DPR RI.
&amp;nbsp;
Menurut dia, langkah strategis itu diambil dengan memanfaatkan situasi perang dagang antara China dengan Amerika Serikat.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Indonesia for Global Justice (IGJ) menyoroti fenomena perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara  di kawasan Asia sebagai akibat dari perang dagang yang tidak kunjung usai antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat China.

&quot;Perlambatan ekonomi yang dihadapi oleh negara-negara di Asia hari ini akibat perang dagang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berpotensi ikut melambat,&quot; kata Direktur Eksekutif IGJ Rachmi Hertanti di Jakarta, Minggu (1/9/2019).
&amp;nbsp; Baca Juga: Trump Pastikan Tarif Impor Tambahan untuk China Berlaku Hari Ini
Rachmi Hertanti mengemukakan bahwa  penurunan angka perdagangan global sedikit banyak juga telah menurunkan kapasitas produksi dunia, yang pada akhirnya juga berdampak terhadap kapasitas sektor swasta.

Direktur Eksekutif IGJ berpendapat bahwa meningkatnya pertumbuhan infrastruktur di berbagai daerah di Tanah Air, bila tidak ditopang oleh penguatan sektor produksi maka akan menjadi perangkap bagi Indonesia.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perang Dagang Memanas, Trump Minta Perusahaan AS Cabut dari China
Selain itu, ujar dia, berbagai pihak juga sudah memberikan peringatan soal rasio utang swasta yang dinilai sangat berisiko.

&quot;Dampaknya terhadap Indonesia adalah potensi terhadap memburuknya neraca transaksi pembayaran. Pendapatan primer dalam neraca pembayaran masih sangat rendah,&quot; katanya.
&amp;nbsp;Dia menyatakan, sukar untuk menaikan pendapatan sektor primer jika  situasi krisis di Asia terus membayangi. Sedangkan di sisi yang lain,  pendapatan dari sektor perdagangan barang dan jasa terus negatif.

Sebelumnya Wakil Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menilai  bahwa Pemerintah perlu benar-benar menyiapkan strategi besar dalam  mengantisipasi dampak perang dagang antara dua raksasa global, Amerika  Serikat dan China, yang akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian  nasional.
&amp;nbsp;
Dia memperkirakan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar belum  mereda sebagai dampak dari kondisi ekonomi global yang belum membaik.

Said Abdullah menilai selain imbas normalisasi kebijakan moneter The  Fed (bank sentral AS), pelemahan rupiah juga dipicu perang dagang antara  China dan AS yang kemudian menjadi perang mata uang.

&quot;Jadi, kalau dua negara raksasa ekonomi ini berperang, maka akan  membuat arus perdagangan dan rantai pasar global terhambat. Alhasil,  kinerja ekspor Indonesia pun berpeluang terganggu karena penurunan  permintaan,&quot; katanya.
Untuk itu, dia meminta pemerintah menyiapkan strategi   besar karena China dan AS merupakan negara-negara tujuan ekspor terbesar   Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan   pemerintah akan fokus mendorong ekspor industri tekstil dan produk   tekstil (TPT) untuk memperbaiki neraca perdagangan pada semester I 2019   yang saat ini telah mencapai angka USD1,90 miliar. Demikian dikutip Antaranews.

&quot;Peningkatan ekspor di tengah situasi yang tidak pasti ini, kami   harus melakukannya,&quot; kata Enggartiasto saat ditemui usai rapat   pembahasan RAPBN 2020 di Gedung DPR RI.
&amp;nbsp;
Menurut dia, langkah strategis itu diambil dengan memanfaatkan situasi perang dagang antara China dengan Amerika Serikat.</content:encoded></item></channel></rss>
