<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Lagi Jadi Ibu Kota, Ini Sederet PR Jakarta yang Harus Dibenahi</title><description>Jakarta diyakini akan tetap memegang peranan penting sebagai pusat ekonomi Nusantara.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/01/470/2099269/tak-lagi-jadi-ibu-kota-ini-sederet-pr-jakarta-yang-harus-dibenahi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/01/470/2099269/tak-lagi-jadi-ibu-kota-ini-sederet-pr-jakarta-yang-harus-dibenahi"/><item><title>Tak Lagi Jadi Ibu Kota, Ini Sederet PR Jakarta yang Harus Dibenahi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/01/470/2099269/tak-lagi-jadi-ibu-kota-ini-sederet-pr-jakarta-yang-harus-dibenahi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/01/470/2099269/tak-lagi-jadi-ibu-kota-ini-sederet-pr-jakarta-yang-harus-dibenahi</guid><pubDate>Minggu 01 September 2019 21:09 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/01/470/2099269/tak-lagi-jadi-ibu-kota-ini-sederet-pr-jakarta-yang-harus-dibenahi-8XkeocSs8Z.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Banjir Jakarta (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/01/470/2099269/tak-lagi-jadi-ibu-kota-ini-sederet-pr-jakarta-yang-harus-dibenahi-8XkeocSs8Z.jpg</image><title>Banjir Jakarta (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Muhammad Diheim Biru menyatakan, meski nantinya tidak lagi menjadi ibu kota negara, tetapi Jakarta diyakini akan tetap memegang peranan penting sebagai pusat ekonomi Nusantara.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ahok: Gubernur Sekarang Pintar Berkata-kata Soal Penanganan Banjir
Muhammad Diheim Biru menyatakan, untuk itu, pembenahan Jakarta pascapemindahan ibu kota tetap perlu dilakukan.

&quot;Alasan utama mengapa ibu kota Indonesia pindah ke Kalimantan adalah keamanan dari bencana alam dan dampak perubahan iklim. Saatnya jejak-jejak ekologis yang telah dipijak di daerah ini diringankan dengan membenahi fasilitas dan infrastruktur yang kelak ditinggal lembaga pemerintahan pusat di kemudian hari,&quot; katanya, Jakarta, Minggu (1/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Daftar Perusahaan yang Masih Kelola Lahan Ibu Kota Baru di Penajam
Menurut Diheim Biru, beberapa hal yang dapat dijadikan perhatian antara lain adalah pembenahan aspek keramahan lingkungan seperti peredaman kebisingan, ruang terbuka hijau (RTH) dan penataan infrastruktur jalan.

Hal itu, ujar dia, perlu dilakukan menimbang bahwa Jakarta ke depan bisa saja diberikan otonomi daerah dan kemungkinan tidak berbenturan banyak kepentingan sehingga lebih leluasa pengelolaannya.
&amp;nbsp;Dia menambahkan bahwa Jakarta, yang berpotensi menjadi destinasi  wisata, sangat rentan terkena bencana alam seperti banjir dan gempa.

Diheim juga menyoroti pengelolaan air di Jakarta saat ini banyak  menyerap air tanah di bawahnya sehingga memicu kenaikan permukaan air di  sekitarnya.

&quot;Penampungan drainase air juga masih menjadi isu di beberapa tempat  apabila musim hujan tiba. Ini yang menyebabkan meningkatnya ketinggian  air laut di sekitar wilayah Jakarta. Oleh karena itu, pemerintah perlu  meningkatkan upaya pencegahan banjir,&quot; ucapnya.
&amp;nbsp;
Kemudian, lanjutnya, pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan  biopori yang memadai dapat menjadi opsi untuk memitigasi hal tersebut  sekaligus membenahi infrastruktur sistem trotoar yang lebih ramah untuk  pejalan kaki.

Sebelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin)  Rosan Roeslani meminta semua kalangan pelaku ekonomi termasuk para  pengusaha mendukung keputusan pemerintah untuk memindahkan Ibu Kota dari  Jakarta ke Kalimantan Timur.
Rosan meyakini kajian pemindahan Ibu Kota telah dilakukan oleh Badan   Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan matang dan terukur.   Meskipun demikian, dia tidak menampik bahwa proses pemindahan Ibu Kota   akan membutuhkan banyak tenaga, waktu dan juga biaya.

&quot;Saya rasa kalau ini sudah ditentukan, ya semua pihak harus siap dan   mendukung keputusan dari pemerintah, baik dari segi regulator, begitu   juga dari dunia usaha,&quot; ujarnya. Demikian dikutip Antaranews.

Seiring dengan keputusan pemerintah itu, Rosan meminta pengusaha   menyambut pemindahan Ibu Kota ini dengan mempersiapkan ekspansi bisnis   ke Ibu Kota baru tersebut. Dia meyakini pemindahan Ibu Kota akan   memberikan peluang bisnis baru di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi   baik di nasional maupun di global.

&quot;Kita perkuat hingga ke dunia usaha, seperti apa pendanaannya, jangka   waktunya. Kalau saya sering bilang terukur, terstruktur. Itu yang   paling penting,&quot; katanya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Muhammad Diheim Biru menyatakan, meski nantinya tidak lagi menjadi ibu kota negara, tetapi Jakarta diyakini akan tetap memegang peranan penting sebagai pusat ekonomi Nusantara.
&amp;nbsp;Baca Juga: Ahok: Gubernur Sekarang Pintar Berkata-kata Soal Penanganan Banjir
Muhammad Diheim Biru menyatakan, untuk itu, pembenahan Jakarta pascapemindahan ibu kota tetap perlu dilakukan.

&quot;Alasan utama mengapa ibu kota Indonesia pindah ke Kalimantan adalah keamanan dari bencana alam dan dampak perubahan iklim. Saatnya jejak-jejak ekologis yang telah dipijak di daerah ini diringankan dengan membenahi fasilitas dan infrastruktur yang kelak ditinggal lembaga pemerintahan pusat di kemudian hari,&quot; katanya, Jakarta, Minggu (1/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Daftar Perusahaan yang Masih Kelola Lahan Ibu Kota Baru di Penajam
Menurut Diheim Biru, beberapa hal yang dapat dijadikan perhatian antara lain adalah pembenahan aspek keramahan lingkungan seperti peredaman kebisingan, ruang terbuka hijau (RTH) dan penataan infrastruktur jalan.

Hal itu, ujar dia, perlu dilakukan menimbang bahwa Jakarta ke depan bisa saja diberikan otonomi daerah dan kemungkinan tidak berbenturan banyak kepentingan sehingga lebih leluasa pengelolaannya.
&amp;nbsp;Dia menambahkan bahwa Jakarta, yang berpotensi menjadi destinasi  wisata, sangat rentan terkena bencana alam seperti banjir dan gempa.

Diheim juga menyoroti pengelolaan air di Jakarta saat ini banyak  menyerap air tanah di bawahnya sehingga memicu kenaikan permukaan air di  sekitarnya.

&quot;Penampungan drainase air juga masih menjadi isu di beberapa tempat  apabila musim hujan tiba. Ini yang menyebabkan meningkatnya ketinggian  air laut di sekitar wilayah Jakarta. Oleh karena itu, pemerintah perlu  meningkatkan upaya pencegahan banjir,&quot; ucapnya.
&amp;nbsp;
Kemudian, lanjutnya, pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan  biopori yang memadai dapat menjadi opsi untuk memitigasi hal tersebut  sekaligus membenahi infrastruktur sistem trotoar yang lebih ramah untuk  pejalan kaki.

Sebelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin)  Rosan Roeslani meminta semua kalangan pelaku ekonomi termasuk para  pengusaha mendukung keputusan pemerintah untuk memindahkan Ibu Kota dari  Jakarta ke Kalimantan Timur.
Rosan meyakini kajian pemindahan Ibu Kota telah dilakukan oleh Badan   Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan matang dan terukur.   Meskipun demikian, dia tidak menampik bahwa proses pemindahan Ibu Kota   akan membutuhkan banyak tenaga, waktu dan juga biaya.

&quot;Saya rasa kalau ini sudah ditentukan, ya semua pihak harus siap dan   mendukung keputusan dari pemerintah, baik dari segi regulator, begitu   juga dari dunia usaha,&quot; ujarnya. Demikian dikutip Antaranews.

Seiring dengan keputusan pemerintah itu, Rosan meminta pengusaha   menyambut pemindahan Ibu Kota ini dengan mempersiapkan ekspansi bisnis   ke Ibu Kota baru tersebut. Dia meyakini pemindahan Ibu Kota akan   memberikan peluang bisnis baru di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi   baik di nasional maupun di global.

&quot;Kita perkuat hingga ke dunia usaha, seperti apa pendanaannya, jangka   waktunya. Kalau saya sering bilang terukur, terstruktur. Itu yang   paling penting,&quot; katanya.
</content:encoded></item></channel></rss>
