<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Jokowi Kesal 33 Perusahaan Keluar dari China, Tak Satu Pun ke Indonesia</title><description>Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan tak adanya perusahaan asing yang mau berinvestasi Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/04/320/2100643/jokowi-kesal-33-perusahaan-keluar-dari-china-tak-satu-pun-ke-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/04/320/2100643/jokowi-kesal-33-perusahaan-keluar-dari-china-tak-satu-pun-ke-indonesia"/><item><title>   Jokowi Kesal 33 Perusahaan Keluar dari China, Tak Satu Pun ke Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/04/320/2100643/jokowi-kesal-33-perusahaan-keluar-dari-china-tak-satu-pun-ke-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/04/320/2100643/jokowi-kesal-33-perusahaan-keluar-dari-china-tak-satu-pun-ke-indonesia</guid><pubDate>Rabu 04 September 2019 16:55 WIB</pubDate><dc:creator>Fakhrizal Fakhri </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/04/320/2100643/jokowi-kesal-33-perusahaan-keluar-dari-china-tak-satu-pun-ke-indonesia-LQBuuemdIN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jokowi Kesal Tak Ada Perusahaan Asing Masuk ke RI (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/04/320/2100643/jokowi-kesal-33-perusahaan-keluar-dari-china-tak-satu-pun-ke-indonesia-LQBuuemdIN.jpg</image><title>Jokowi Kesal Tak Ada Perusahaan Asing Masuk ke RI (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan tak adanya perusahaan asing yang mau berinvestasi Indonesia. Puluhan perusahaan luar negeri itu lebih memilih negara lain untuk menanamkan modalnya karena rumitnya regulasi di Tanah Air.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perang Dagang Memanas, Trump Minta Perusahaan AS Cabut dari China
&quot;Investor-investor yang kita temui, juga dari catatan yang kemarin disampaikan Bank Dunia kepada kita, kemarin sudah saya sampaikan tapi saya ulang lagi. Di 2 bulan yang lalu ada 33 perusahaan di Tiongkok keluar, 23 memilih di Vietnam. Kemudian 10 lainnya perginya ke Malaysia, Thailand dan Kamboja. Enggak ada yang ke kita,&quot; ujar Jokowi dalam mengawali pengantarnya saat ratas 'Antisipasi Perkembangan Perekonomian Dunia' di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Bahkan, Kepala Negara sampai dua kali mengingatkan 'kaburnya' perusahaan asal China itu untuk berinvestasi ke negara ASEAN lainnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Trump Minta Perusahaan AS Cabut dari China, Ini Penjelasan Menkeu Mnuchin
&quot;Saya ulang, 23 ke Vietnam, 10 ke Kamboja, Thailand, Malaysia. Tidak ada yang ke Indonesia. Tolong ini digarisbawahi, hati-hati berarti kita punya persoalan yang harus kita selesaikan,&quot; tegasnya.

&amp;nbsp;Jokowi pun memaparkan alasan perusahaan asing itu lebih memilih  Vietnam. Pasalnya, kata dia, hanya membutuhkan dua bulan mengurus  perizinan di Vietnam. &quot;Kita bisa bertahun-tahun. Penyebabnya hanya itu  enggak ada yang lain. Oleh sebab itu saya suruh kumpulkan  regulasi-regulasinya itu. Larinya ke sana semua,&quot; tutur Jokowi.

Jokowi pun mencontohkan saat perusahaan Jepang juga keluar dari  Indonesia pada 2017 silam. Kala itu, terdapat 73 perusahaan yang ingin  berinvestasi di Indonesia.

&quot;43 ke Vietnam, 11 ke Thailand, dan Filipina dan baru yang berikutnya 10 ke Indonesia,&quot; imbuhnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai, persoalan internal  mengakibatkan Indonesia gagal bersaing dengan negara lainnya. Padahal,  investasi jangka panjang merupakan kunci memenangkan persaingan dalam  perlambatan ekonomi global.

&quot;Dan kemungkinan kita bisa memayungi kita dari kemungkinan resesi global yang semakin besar juga ada di situ,&quot; paparnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan tak adanya perusahaan asing yang mau berinvestasi Indonesia. Puluhan perusahaan luar negeri itu lebih memilih negara lain untuk menanamkan modalnya karena rumitnya regulasi di Tanah Air.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perang Dagang Memanas, Trump Minta Perusahaan AS Cabut dari China
&quot;Investor-investor yang kita temui, juga dari catatan yang kemarin disampaikan Bank Dunia kepada kita, kemarin sudah saya sampaikan tapi saya ulang lagi. Di 2 bulan yang lalu ada 33 perusahaan di Tiongkok keluar, 23 memilih di Vietnam. Kemudian 10 lainnya perginya ke Malaysia, Thailand dan Kamboja. Enggak ada yang ke kita,&quot; ujar Jokowi dalam mengawali pengantarnya saat ratas 'Antisipasi Perkembangan Perekonomian Dunia' di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Bahkan, Kepala Negara sampai dua kali mengingatkan 'kaburnya' perusahaan asal China itu untuk berinvestasi ke negara ASEAN lainnya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Trump Minta Perusahaan AS Cabut dari China, Ini Penjelasan Menkeu Mnuchin
&quot;Saya ulang, 23 ke Vietnam, 10 ke Kamboja, Thailand, Malaysia. Tidak ada yang ke Indonesia. Tolong ini digarisbawahi, hati-hati berarti kita punya persoalan yang harus kita selesaikan,&quot; tegasnya.

&amp;nbsp;Jokowi pun memaparkan alasan perusahaan asing itu lebih memilih  Vietnam. Pasalnya, kata dia, hanya membutuhkan dua bulan mengurus  perizinan di Vietnam. &quot;Kita bisa bertahun-tahun. Penyebabnya hanya itu  enggak ada yang lain. Oleh sebab itu saya suruh kumpulkan  regulasi-regulasinya itu. Larinya ke sana semua,&quot; tutur Jokowi.

Jokowi pun mencontohkan saat perusahaan Jepang juga keluar dari  Indonesia pada 2017 silam. Kala itu, terdapat 73 perusahaan yang ingin  berinvestasi di Indonesia.

&quot;43 ke Vietnam, 11 ke Thailand, dan Filipina dan baru yang berikutnya 10 ke Indonesia,&quot; imbuhnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai, persoalan internal  mengakibatkan Indonesia gagal bersaing dengan negara lainnya. Padahal,  investasi jangka panjang merupakan kunci memenangkan persaingan dalam  perlambatan ekonomi global.

&quot;Dan kemungkinan kita bisa memayungi kita dari kemungkinan resesi global yang semakin besar juga ada di situ,&quot; paparnya.</content:encoded></item></channel></rss>
