<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>  Jokowi Sindir Menteri, Jangan Minta Dilayani tapi Layani Investor dengan Baik!</title><description>Mengantisipasi terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kemungkinan resesi adalah yang berkaitan dengan Foreign Direct Investment.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/04/320/2100655/jokowi-sindir-menteri-jangan-minta-dilayani-tapi-layani-investor-dengan-baik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/04/320/2100655/jokowi-sindir-menteri-jangan-minta-dilayani-tapi-layani-investor-dengan-baik"/><item><title>  Jokowi Sindir Menteri, Jangan Minta Dilayani tapi Layani Investor dengan Baik!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/04/320/2100655/jokowi-sindir-menteri-jangan-minta-dilayani-tapi-layani-investor-dengan-baik</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/04/320/2100655/jokowi-sindir-menteri-jangan-minta-dilayani-tapi-layani-investor-dengan-baik</guid><pubDate>Rabu 04 September 2019 17:06 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/04/320/2100655/jokowi-sindir-menteri-jangan-minta-dilayani-tapi-layani-investor-dengan-baik-xNWwXWJ0rc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jokowi ke Menteri Jangan Minta Dilayani (Foto: Setkab)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/04/320/2100655/jokowi-sindir-menteri-jangan-minta-dilayani-tapi-layani-investor-dengan-baik-xNWwXWJ0rc.jpg</image><title>Jokowi ke Menteri Jangan Minta Dilayani (Foto: Setkab)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, jalan yang paling cepat dalam mengantisipasi terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kemungkinan resesi adalah yang berkaitan dengan Foreign Direct Investment (FDI).
&amp;ldquo;Kuncinya hanya ada di situ, enggak ada yang lain, enggak ada yang lain. Kuncinya hanya ada di situ,&amp;rdquo; tegas Presiden Jokowi saat menyampaikan pengantar pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Antisipasi Perkembangan Perekonomian Dunia, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Kesal 33 Perusahaan Keluar dari China, Tak Satu Pun ke Indonesia
Untuk itu, Presiden meminta seluruh kementerian yang berkaitan dengan ekonomi menginventarisir regulasi-regulasi yang menghambat, aturan-aturan yang menghambat, regulasi-regulasi yang memperlambat, regulasi-regulasi yang membuat kita lamban itu.
Nanti, seminggu lagi, Presiden menyampaikan akan bicara mengenai masalah bagaimana segera menyederhanakan peraturan-peraturan yang menghambat dan memperlambat itu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perang Dagang Memanas, Trump Minta Perusahaan AS Cabut dari China
Presiden Jokowi menunjuk contoh, dari 33 perusahaan yang dua bulan lalu keluar dari Tiongkok, 23 memilih di Vietnam, 10 lainnya perginya ke Malaysia, Thailand dan Kamboja. Nggak ada yang ke kita.
&amp;ldquo;Dari 33 tadi, sekali lagi 33 perusahaan yang di Tiongkok yang keluar, saya ulang, 23 ke Vietnam 10 ke Kamboja, Thailand, dan Malaysia. Tidak ada yang ke Indonesia. Tolong ini digarisbawahi,&amp;rdquo; tegas Presiden seraya mengingatkan, berarti kita memiliki persoalan yang harus diselesaikan.
&amp;nbsp;Setelah dilihat lebih detail lagi, menurut Presiden, kalau mau pindah  ke Vietnam itu hanya butuh waktu 2 bulan rampung semuanya. Kita bisa  bertahun-tahun, penyebabnya hanya itu nggak ada yang lain.
Presiden juga menunjuk contoh tahun 2017, ada 73 perusahaan Jepang  memilih relokasi. Pilihan relokasinya 43 ke Vietnam, 11 ke Thailand dan  Filipina, baru yang berikutnya 10 ke Indonesia.
Sekali lagi, menurut Presiden Jokowi, masalah itu ada di internal  kita sendiri. Ia menegaskan, ada kunci kita keluar dari perlambatan  pertumbuhan ekonomi global itu, ada disitu. Dan kemungkinan kita bisa  memayungi kita dari kemungkinan resesi global yang semakin besar juga  ada di situ.
&amp;nbsp;
 
Jangan Minta Dilayani
Untuk itu, Presiden meminta semua kementerian yang berkaitan dengan  investasi, semuanya tidak hanya di BKPM (Badan Koordinasi Penanaman  Modal) saja, Pertanian, Perindustrian dan BUMN, serta kementerian yang  lain agar membuka pintu perusahaan-perusahaan yang sudah masuk tapi  belum realisasi.
Presiden meminta agar dalam seminggu ini juga diinventarisir dan  nanti disampaikan kepadanya, ada problem apa, misalnya petrochemical  yang dari Taiwan misalnya problem masalah tanah dengan Pertamina padahal  investasinya gede banget, lalu Aramco nggak mau masuk-masuk karena apa  dari Saudi, semuanya akan dicek satu per satu listnya. Sehingga  betul-betul mereka merasa dilayani.
&amp;ldquo;Jadi tolong juga menteri-menteri ini memberikan pelayanan yang baik  kepada investasi-investasi yang memang itu menjadi sebuah solusi dan  jalan keluar dari tadi yang sudah saya sampaikan. Dampingi mereka sampai  terealisasi, kita jangan kayak pejabat minta dilayani, kita melayani,  dah,&amp;rdquo; tegas Presiden Jokowi.
Ratas tentang Antisipasi Perkembangan Perekonomian Dunia itu diikuti  oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Darmin Nasution,  Menko PMK Puan Maharani, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan,  Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan  Moeldoko, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono,  Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Jalil, Menteri Pertanian Amran Sulaiman,  Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua OJK Wimboh Santosa, Mendag  Enggartiasto Lukita, Menperin Airlangga Hartarto, Menteri BUMN Rini  Soemarno, dan Kepala BKPM Thomas Lembong</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, jalan yang paling cepat dalam mengantisipasi terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kemungkinan resesi adalah yang berkaitan dengan Foreign Direct Investment (FDI).
&amp;ldquo;Kuncinya hanya ada di situ, enggak ada yang lain, enggak ada yang lain. Kuncinya hanya ada di situ,&amp;rdquo; tegas Presiden Jokowi saat menyampaikan pengantar pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Antisipasi Perkembangan Perekonomian Dunia, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (4/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Jokowi Kesal 33 Perusahaan Keluar dari China, Tak Satu Pun ke Indonesia
Untuk itu, Presiden meminta seluruh kementerian yang berkaitan dengan ekonomi menginventarisir regulasi-regulasi yang menghambat, aturan-aturan yang menghambat, regulasi-regulasi yang memperlambat, regulasi-regulasi yang membuat kita lamban itu.
Nanti, seminggu lagi, Presiden menyampaikan akan bicara mengenai masalah bagaimana segera menyederhanakan peraturan-peraturan yang menghambat dan memperlambat itu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Perang Dagang Memanas, Trump Minta Perusahaan AS Cabut dari China
Presiden Jokowi menunjuk contoh, dari 33 perusahaan yang dua bulan lalu keluar dari Tiongkok, 23 memilih di Vietnam, 10 lainnya perginya ke Malaysia, Thailand dan Kamboja. Nggak ada yang ke kita.
&amp;ldquo;Dari 33 tadi, sekali lagi 33 perusahaan yang di Tiongkok yang keluar, saya ulang, 23 ke Vietnam 10 ke Kamboja, Thailand, dan Malaysia. Tidak ada yang ke Indonesia. Tolong ini digarisbawahi,&amp;rdquo; tegas Presiden seraya mengingatkan, berarti kita memiliki persoalan yang harus diselesaikan.
&amp;nbsp;Setelah dilihat lebih detail lagi, menurut Presiden, kalau mau pindah  ke Vietnam itu hanya butuh waktu 2 bulan rampung semuanya. Kita bisa  bertahun-tahun, penyebabnya hanya itu nggak ada yang lain.
Presiden juga menunjuk contoh tahun 2017, ada 73 perusahaan Jepang  memilih relokasi. Pilihan relokasinya 43 ke Vietnam, 11 ke Thailand dan  Filipina, baru yang berikutnya 10 ke Indonesia.
Sekali lagi, menurut Presiden Jokowi, masalah itu ada di internal  kita sendiri. Ia menegaskan, ada kunci kita keluar dari perlambatan  pertumbuhan ekonomi global itu, ada disitu. Dan kemungkinan kita bisa  memayungi kita dari kemungkinan resesi global yang semakin besar juga  ada di situ.
&amp;nbsp;
 
Jangan Minta Dilayani
Untuk itu, Presiden meminta semua kementerian yang berkaitan dengan  investasi, semuanya tidak hanya di BKPM (Badan Koordinasi Penanaman  Modal) saja, Pertanian, Perindustrian dan BUMN, serta kementerian yang  lain agar membuka pintu perusahaan-perusahaan yang sudah masuk tapi  belum realisasi.
Presiden meminta agar dalam seminggu ini juga diinventarisir dan  nanti disampaikan kepadanya, ada problem apa, misalnya petrochemical  yang dari Taiwan misalnya problem masalah tanah dengan Pertamina padahal  investasinya gede banget, lalu Aramco nggak mau masuk-masuk karena apa  dari Saudi, semuanya akan dicek satu per satu listnya. Sehingga  betul-betul mereka merasa dilayani.
&amp;ldquo;Jadi tolong juga menteri-menteri ini memberikan pelayanan yang baik  kepada investasi-investasi yang memang itu menjadi sebuah solusi dan  jalan keluar dari tadi yang sudah saya sampaikan. Dampingi mereka sampai  terealisasi, kita jangan kayak pejabat minta dilayani, kita melayani,  dah,&amp;rdquo; tegas Presiden Jokowi.
Ratas tentang Antisipasi Perkembangan Perekonomian Dunia itu diikuti  oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Darmin Nasution,  Menko PMK Puan Maharani, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan,  Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan  Moeldoko, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono,  Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Jalil, Menteri Pertanian Amran Sulaiman,  Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua OJK Wimboh Santosa, Mendag  Enggartiasto Lukita, Menperin Airlangga Hartarto, Menteri BUMN Rini  Soemarno, dan Kepala BKPM Thomas Lembong</content:encoded></item></channel></rss>
