<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Milenial Makin Gemar Investasi Surat Utang Negara   </title><description>Investor dari generasi milenial dengan usia 19 sampai 39 tahun mendominasi porsi penjualan Surat Berharga Negara</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/20/2101156/milenial-makin-gemar-investasi-surat-utang-negara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/20/2101156/milenial-makin-gemar-investasi-surat-utang-negara"/><item><title>   Milenial Makin Gemar Investasi Surat Utang Negara   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/20/2101156/milenial-makin-gemar-investasi-surat-utang-negara</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/20/2101156/milenial-makin-gemar-investasi-surat-utang-negara</guid><pubDate>Kamis 05 September 2019 18:51 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/05/20/2101156/milenial-makin-gemar-investasi-surat-utang-negara-Gy6mijjzSI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Milenial Makin Gemar Investasi SBN Ritel (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/05/20/2101156/milenial-makin-gemar-investasi-surat-utang-negara-Gy6mijjzSI.jpg</image><title>Milenial Makin Gemar Investasi SBN Ritel (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa investor dari generasi milenial dengan usia 19 sampai 39 tahun mendominasi porsi penjualan Surat Berharga Negara (SBN) hingga Juli 2019, sebanyak 51,24%.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan bahwa angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan 2018 yang  hanya 42,22% baik investasi di Savings Bond Ritel (SBR) maupun Sukuk.

&amp;ldquo;Dalam penerbitan SBN selama ini, investor milenial mendominasi sekitar 52 persen per penerbitan,&amp;rdquo; katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Bidik Milenial, Ada Surat Utang Syariah dengan Kupon 7,4%
Menurutnya, peningkatan partisipasi generasi milenial dalam investasi tersebut karena ada penggunaan teknologi digital pada penawaran SBN yaitu secara online (e-SBN) sehingga semakin memudahkan dalam melakukan transaksi.


&amp;ldquo;Sebelum online, peran generasi milenial dalam SBR hanya 20% sampai 23%  tapi setelah ada online milenial mendominasi,&amp;rdquo; ujarnya.

Luky melanjutkan saat ini pemerintah memperluas basis pembayaran Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR008 dengan melibatkan tiga kanal baru yaitu Bukalapak, Tokopedia, dan Finnet sebagai sektor e-commerce sehingga total bank, pos, dan lembaga persepsi yang dapat melayani pembayaran pembelian SBR menjadi 86 perusahaan.

&amp;ldquo;Kami ingin lebih banyak mengundang para fintech tersebut karena kami ingin salah satu target kami yaitu investor baru yang merupakan para generasi milenial,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pemerintah Kantongi Rp23,4 Triliun dari Lelang Surat Utang
Dia menuturkan dengan melibatkan sektor e-commerce tersebut diharapkan akan semakin meningkatkan investor dari kalangan milenial sebab mereka tidak harus datang ke bank.

&amp;ldquo;Kalau dulu masih offline, investor datang ke bank jadi seolah ini instrumen untuk orang kaya. Sekarang kapan pun dan di mana pun dengan handphone bisa berinvestasi,&amp;rdquo; ujarnya.

&amp;nbsp;Meski demikian jika dilihat dari segi nominal pembelian pada SBR,  Luky mengatakan bahwa generasi tradisionalis dan generasi baby boomers  tetap mendominasi karena biasanya generasi milenial memilih pembelian  senilai Rp1 juta.

Dia menambahkan bahwa pada 2019 pemerintah berencana meluncurkan 10  kali SBN ritel seperti ORI016 pada Oktober, ST006 pada November, dan  termasuk SBR008 yang baru ditawarkan pada Kamis dengan target indikatif  Rp2 triliun.

&amp;ldquo;Penerbitan itu kami rencanakan akan kembali menyasar generasi milenial,&amp;rdquo; katanya.

Luky memperkirakan pada 2020 pemerintah juga akan kembali menawarkan  SBN ritel kepada masyarakat yang tingkat intensitasnya hampir sama  dengan tahun ini yaitu sekitar 10 kali. Namun, Luky  belum bisa  menyebutkan target nominal untuk penjualan SBN ritel pada tahun  tersebut. Demikian dikutip Antaranews.

&amp;ldquo;Kan rancangan APBN 2020 yang jadi landasan untuk penawaran SBN ritel masih dalam pembahasan sama DPR,&amp;rdquo; ujarnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa investor dari generasi milenial dengan usia 19 sampai 39 tahun mendominasi porsi penjualan Surat Berharga Negara (SBN) hingga Juli 2019, sebanyak 51,24%.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan bahwa angka tersebut meningkat jika dibandingkan dengan 2018 yang  hanya 42,22% baik investasi di Savings Bond Ritel (SBR) maupun Sukuk.

&amp;ldquo;Dalam penerbitan SBN selama ini, investor milenial mendominasi sekitar 52 persen per penerbitan,&amp;rdquo; katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (5/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Bidik Milenial, Ada Surat Utang Syariah dengan Kupon 7,4%
Menurutnya, peningkatan partisipasi generasi milenial dalam investasi tersebut karena ada penggunaan teknologi digital pada penawaran SBN yaitu secara online (e-SBN) sehingga semakin memudahkan dalam melakukan transaksi.


&amp;ldquo;Sebelum online, peran generasi milenial dalam SBR hanya 20% sampai 23%  tapi setelah ada online milenial mendominasi,&amp;rdquo; ujarnya.

Luky melanjutkan saat ini pemerintah memperluas basis pembayaran Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR008 dengan melibatkan tiga kanal baru yaitu Bukalapak, Tokopedia, dan Finnet sebagai sektor e-commerce sehingga total bank, pos, dan lembaga persepsi yang dapat melayani pembayaran pembelian SBR menjadi 86 perusahaan.

&amp;ldquo;Kami ingin lebih banyak mengundang para fintech tersebut karena kami ingin salah satu target kami yaitu investor baru yang merupakan para generasi milenial,&amp;rdquo; katanya.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pemerintah Kantongi Rp23,4 Triliun dari Lelang Surat Utang
Dia menuturkan dengan melibatkan sektor e-commerce tersebut diharapkan akan semakin meningkatkan investor dari kalangan milenial sebab mereka tidak harus datang ke bank.

&amp;ldquo;Kalau dulu masih offline, investor datang ke bank jadi seolah ini instrumen untuk orang kaya. Sekarang kapan pun dan di mana pun dengan handphone bisa berinvestasi,&amp;rdquo; ujarnya.

&amp;nbsp;Meski demikian jika dilihat dari segi nominal pembelian pada SBR,  Luky mengatakan bahwa generasi tradisionalis dan generasi baby boomers  tetap mendominasi karena biasanya generasi milenial memilih pembelian  senilai Rp1 juta.

Dia menambahkan bahwa pada 2019 pemerintah berencana meluncurkan 10  kali SBN ritel seperti ORI016 pada Oktober, ST006 pada November, dan  termasuk SBR008 yang baru ditawarkan pada Kamis dengan target indikatif  Rp2 triliun.

&amp;ldquo;Penerbitan itu kami rencanakan akan kembali menyasar generasi milenial,&amp;rdquo; katanya.

Luky memperkirakan pada 2020 pemerintah juga akan kembali menawarkan  SBN ritel kepada masyarakat yang tingkat intensitasnya hampir sama  dengan tahun ini yaitu sekitar 10 kali. Namun, Luky  belum bisa  menyebutkan target nominal untuk penjualan SBN ritel pada tahun  tersebut. Demikian dikutip Antaranews.

&amp;ldquo;Kan rancangan APBN 2020 yang jadi landasan untuk penawaran SBN ritel masih dalam pembahasan sama DPR,&amp;rdquo; ujarnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
