<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Minyak Melonjak 4% Data Ekonomi China yang Positif</title><description>Harga minyak melonjak lebih dari empat persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB)</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/320/2100857/harga-minyak-melonjak-4-data-ekonomi-china-yang-positif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/320/2100857/harga-minyak-melonjak-4-data-ekonomi-china-yang-positif"/><item><title>Harga Minyak Melonjak 4% Data Ekonomi China yang Positif</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/320/2100857/harga-minyak-melonjak-4-data-ekonomi-china-yang-positif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/320/2100857/harga-minyak-melonjak-4-data-ekonomi-china-yang-positif</guid><pubDate>Kamis 05 September 2019 08:21 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/05/320/2100857/harga-minyak-melonjak-4-data-ekonomi-china-yang-positif-P5HXwLueGK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Minyak Mentah (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/05/320/2100857/harga-minyak-melonjak-4-data-ekonomi-china-yang-positif-P5HXwLueGK.jpg</image><title>Minyak Mentah (Reuters)</title></images><description>NEW YORK - Harga minyak melonjak lebih dari empat persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), didorong oleh kenaikan pasar yang lebih luas karena berita positif dari China, setelah tiga hari turun tertekan kekhawatiran tentang pelemahan ekonomi global.

Mengutip antaranews, patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November, naik USD2,44 atau 4,2 persen menjadi ditutup pada USD60,70 per barel di London ICE Futures Exchange.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Minyak Anjlok di Tengah Kekhawatiran Investor
Sementara itu, patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, bertambah USD2,32 atau 4,3 persen menjadi menetap pada USD56,26 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini adalah peningkatan persentase harian terbesar untuk WTI sejak 10 Juli.

Indeks saham di seluruh dunia berbalik naik atau rebound, karena meredanya kekhawatiran geopolitik dan data ekonomi positif dari China membawa pembeli kembali ke pasar ekuitas.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jelang Badai Florida, Harga Minyak Dunia Anjlok 3%
Sebuah survei swasta menunjukkan bahwa aktivitas di sektor jasa China meningkat dengan laju tercepat dalam tiga bulan pada Agustus karena pesanan baru naik, mendorong peningkatan terbesar dalam perekrutan dalam lebih dari setahun.

Selain itu, selera risiko investor lebih jauh hidup kembali setelah Hong Kong menarik RUU ekstradisi yang kontroversial di jantung protes baru-baru ini.

China adalah konsumen minyak terbesar kedua dan importir terbesar di dunia.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Minyak Naik di Tengah Badai Dorian
Di Amerika Serikat, stok minyak mentah diperkirakan telah menurun untuk minggu ketiga berturut-turut, sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan, menjelang data mingguan dari American Petroleum Institute (API) pada Rabu (4/9/2019) waktu setempat, dan dan pemerintah pada Kamis waktu setempat. Kedua laporan ditunda sehari karena liburan Hari Buruh AS.

Namun demikian, beberapa analis mencatat fundamental keseluruhan pasar minyak tetap mengecewakan.

&quot;Namun harga minyak tetap fokus pada perang perdagangan dan semakin  lama kita tidak melihat tanggal yang dijadwalkan untuk pertemuan tatap  muka antara pejabat China dan AS, semakin besar kemungkinan kita bisa  melihat pengujian ulang dari posisi terendah musim panas,&quot; Edward Moya,  analis pasar senior di OANDA di New York, mengatakan dalam sebuah  laporan.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan pada Selasa (3/9/2019) bahwa  ia akan &quot;lebih keras&quot; terhadap Beijing dalam masa jabatan kedua jika  pembicaraan perdagangan berlarut-larut, menambah kekhawatiran pasar  bahwa perselisihan perdagangan antara kedua negara dapat memicu resesi  AS.

Data AS yang dirilis pada Selasa (3/9/2019) menunjukkan aktivitas  manufaktur mengalami kontraksi pada Agustus untuk pertama kalinya dalam  tiga tahun, sementara aktivitas zona euro menyusut untuk bulan ketujuh.

&amp;ldquo;Minyak mentah tetap bermasalah oleh laporan bahwa produksi dari  OPEC, Rusia dan AS semua naik bulan lalu. Ini (datang) pada saat  kekuatan pertumbuhan permintaan, karena pesimisme perang perdagangan,  semakin dipertanyakan,&amp;rdquo; kata ahli strategi komoditas Saxo Bank, Ole  Hansen.

Kepala keuangan (CFO) BP Plc, Brian Gilvary mengatakan kepada Reuters  bahwa permintaan minyak global diperkirakan akan tumbuh kurang dari  satu juta barel per hari (bph) pada 2019 karena konsumsi melambat.

Tetapi pasokan tampaknya akan tetap terkendala karena para pejabat  dan sumber-sumber Rusia dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak  mengindikasikan negara-negara itu akan tetap berkomitmen pada perjanjian  mereka untuk mengendalikan produksi meskipun terjadi goncangan di  industri minyak Arab Saudi.

Dalam tanda kemungkinan ketegangan mereda di Teluk yang kaya energi,  televisi pemerintah Iran melaporkan pada Rabu (4/9/2019) bahwa Teheran  akan membebaskan tujuh anggota awak kapal tanker berbendera Inggris yang  ditahan, Stena Impero.

Kapal itu ditangkap dua minggu setelah Inggris menahan sebuah kapal  tanker Iran dari wilayah Gibraltar yang dilepas kembali pada Agustus.</description><content:encoded>NEW YORK - Harga minyak melonjak lebih dari empat persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), didorong oleh kenaikan pasar yang lebih luas karena berita positif dari China, setelah tiga hari turun tertekan kekhawatiran tentang pelemahan ekonomi global.

Mengutip antaranews, patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November, naik USD2,44 atau 4,2 persen menjadi ditutup pada USD60,70 per barel di London ICE Futures Exchange.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Minyak Anjlok di Tengah Kekhawatiran Investor
Sementara itu, patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, bertambah USD2,32 atau 4,3 persen menjadi menetap pada USD56,26 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini adalah peningkatan persentase harian terbesar untuk WTI sejak 10 Juli.

Indeks saham di seluruh dunia berbalik naik atau rebound, karena meredanya kekhawatiran geopolitik dan data ekonomi positif dari China membawa pembeli kembali ke pasar ekuitas.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jelang Badai Florida, Harga Minyak Dunia Anjlok 3%
Sebuah survei swasta menunjukkan bahwa aktivitas di sektor jasa China meningkat dengan laju tercepat dalam tiga bulan pada Agustus karena pesanan baru naik, mendorong peningkatan terbesar dalam perekrutan dalam lebih dari setahun.

Selain itu, selera risiko investor lebih jauh hidup kembali setelah Hong Kong menarik RUU ekstradisi yang kontroversial di jantung protes baru-baru ini.

China adalah konsumen minyak terbesar kedua dan importir terbesar di dunia.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Harga Minyak Naik di Tengah Badai Dorian
Di Amerika Serikat, stok minyak mentah diperkirakan telah menurun untuk minggu ketiga berturut-turut, sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan, menjelang data mingguan dari American Petroleum Institute (API) pada Rabu (4/9/2019) waktu setempat, dan dan pemerintah pada Kamis waktu setempat. Kedua laporan ditunda sehari karena liburan Hari Buruh AS.

Namun demikian, beberapa analis mencatat fundamental keseluruhan pasar minyak tetap mengecewakan.

&quot;Namun harga minyak tetap fokus pada perang perdagangan dan semakin  lama kita tidak melihat tanggal yang dijadwalkan untuk pertemuan tatap  muka antara pejabat China dan AS, semakin besar kemungkinan kita bisa  melihat pengujian ulang dari posisi terendah musim panas,&quot; Edward Moya,  analis pasar senior di OANDA di New York, mengatakan dalam sebuah  laporan.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan pada Selasa (3/9/2019) bahwa  ia akan &quot;lebih keras&quot; terhadap Beijing dalam masa jabatan kedua jika  pembicaraan perdagangan berlarut-larut, menambah kekhawatiran pasar  bahwa perselisihan perdagangan antara kedua negara dapat memicu resesi  AS.

Data AS yang dirilis pada Selasa (3/9/2019) menunjukkan aktivitas  manufaktur mengalami kontraksi pada Agustus untuk pertama kalinya dalam  tiga tahun, sementara aktivitas zona euro menyusut untuk bulan ketujuh.

&amp;ldquo;Minyak mentah tetap bermasalah oleh laporan bahwa produksi dari  OPEC, Rusia dan AS semua naik bulan lalu. Ini (datang) pada saat  kekuatan pertumbuhan permintaan, karena pesimisme perang perdagangan,  semakin dipertanyakan,&amp;rdquo; kata ahli strategi komoditas Saxo Bank, Ole  Hansen.

Kepala keuangan (CFO) BP Plc, Brian Gilvary mengatakan kepada Reuters  bahwa permintaan minyak global diperkirakan akan tumbuh kurang dari  satu juta barel per hari (bph) pada 2019 karena konsumsi melambat.

Tetapi pasokan tampaknya akan tetap terkendala karena para pejabat  dan sumber-sumber Rusia dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak  mengindikasikan negara-negara itu akan tetap berkomitmen pada perjanjian  mereka untuk mengendalikan produksi meskipun terjadi goncangan di  industri minyak Arab Saudi.

Dalam tanda kemungkinan ketegangan mereda di Teluk yang kaya energi,  televisi pemerintah Iran melaporkan pada Rabu (4/9/2019) bahwa Teheran  akan membebaskan tujuh anggota awak kapal tanker berbendera Inggris yang  ditahan, Stena Impero.

Kapal itu ditangkap dua minggu setelah Inggris menahan sebuah kapal  tanker Iran dari wilayah Gibraltar yang dilepas kembali pada Agustus.</content:encoded></item></channel></rss>
