<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>33 Perusahaan Hengkang dari China Pilih Vietnam, Indonesia Kalah Gesit</title><description>Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China semakin memanas.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/320/2101070/33-perusahaan-hengkang-dari-china-pilih-vietnam-indonesia-kalah-gesit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/320/2101070/33-perusahaan-hengkang-dari-china-pilih-vietnam-indonesia-kalah-gesit"/><item><title>33 Perusahaan Hengkang dari China Pilih Vietnam, Indonesia Kalah Gesit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/320/2101070/33-perusahaan-hengkang-dari-china-pilih-vietnam-indonesia-kalah-gesit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/05/320/2101070/33-perusahaan-hengkang-dari-china-pilih-vietnam-indonesia-kalah-gesit</guid><pubDate>Kamis 05 September 2019 16:13 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/05/320/2101070/33-perusahaan-hengkang-dari-china-pilih-vietnam-indonesia-kalah-gesit-9KljixGDal.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia Kalah Gesit dari Vietnam (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/05/320/2101070/33-perusahaan-hengkang-dari-china-pilih-vietnam-indonesia-kalah-gesit-9KljixGDal.jpg</image><title>Indonesia Kalah Gesit dari Vietnam (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China semakin memanas. Salah satu akibatnya sekitar 33 perusahaan terpaksa memindahkan operasinya dari China.

Namun dari 33 perusahaan itu tidak ada yang ke Indonesia, mereka memilih ke Vietnam ke Malaysia, Thailand dan Kamboja.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kalah Saing dari Vietnam, Indonesia 'Sakitnya' Tuh di Sini
Terkait hal itu, Ekonom Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan bahwa 33 perusahaan yang keluar dari China itu memilih lokasi di daerah industrial zone atau zona industri yang memiliki pelabuhannya.



&quot;Sehingga mereka bisa melakukan ekspor dan impor itu bebas. Kemudian mereka juga memilih jalur yang terdekat ke perdaganan internasional atau jalur pelayaran dan mereka ingin ada kepastian dalam berinvestasi,&quot; ujar dia kepada Okezone, Kamis (5/9/2019).

&amp;nbsp;Baca Juga: Investor Asing Nilai Perizinan Indonesia Masih Kacau

Maka itu, lanjut dia apabila dilihat Indonesia ini jaraknya memang jauh dengan jalur pelayaran. Dahulu ada di Batam. Tapi sekarang Batam tak bisa diharapakan. Di mana kalau milih Kalimantan yang dekat hanya Pontianak lewat China Selatan, namun itu dinilai kejauhan.



&quot;Jadi 33 perusahaan itu milih ke dekat seperti Vietnam, Kamboja dan Malaysia supaya ongkosnya murah,&quot; ungkap dia.

&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/01/18/55421/280679_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat 14 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Tapi, tutur dia, sebenarnya Indonesia bisa mengatasi hal itu, apabila  bisa lewat jalur alterniatif. Yakni lewat jalur Selat Makassar. Selat  Makassar itu seperti Balikpapan tapi belum siap dan akan dijadikan ibu  kota baru,&quot; jelas dia.



Sedangkan untuk Makassar lebih ke tengah. Oleh karena itu yang siap  itu ada di kawasan industri Kendal Jawa Tengah. Namun Kendal itu harus  di promosikan secara pintu ke pintu.

&quot;Kita juga harus aktif mengubungi perusahaan yang akan keluar dari  China itu, di mana yang tidak di miliki kita itu yakni diplomasi dagang.  Maka itu kita harus hubungi perusahaan itu dan dijelaskan secara  detail,&quot; kata dia.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/01/18/55421/280681_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat 14 Poin&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;


Dia menambahkan Vietnam menarik perusahaan itu ada agennya. Agennya  ke sana seperti menawarkan rumah. &quot;Indonesia kalah gesit di situ,&quot;  ujarnya.

Warga Vietnam juga banyak tinggal di negara AS. Yang dahulu orang Vetnam yang lari ke AS saat terjadi perang itu menjadi pelobi.



&quot;Nah sebenarnya kita bisa menggunakan Kemlu untuk mengidentifikasi  mana yang pindah kita kirim orang untuk meloby. Dan Indonesia harus  memperbaiki iklim investasi mereka. Saran ke depannya Kemlu dan  Kemenperin harus ada perdaganan luar negeri seperti departemen luar  negeri Australia ada yang indetifikasi potensi-potensi,&quot; pungkas dia.



Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan tak adanya  perusahaan asing yang mau berinvestasi Indonesia. Puluhan perusahaan  luar negeri itu lebih memilih negara lain untuk menanamkan modalnya  karena rumitnya regulasi di Tanah Air.



&quot;Investor-investor yang kita temui, juga dari catatan yang kemarin  disampaikan Bank Dunia kepada kita, kemarin sudah saya sampaikan tapi  saya ulang lagi. Di 2 bulan yang lalu ada 33 perusahaan di Tiongkok  keluar, 23 memilih di Vietnam. Kemudian 10 lainnya perginya ke Malaysia,  Thailand dan Kamboja. Enggak ada yang ke kita,&quot; ujar Jokowi dalam  mengawali pengantarnya saat ratas 'Antisipasi Perkembangan Perekonomian  Dunia' di Kantor Presiden.</description><content:encoded>JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China semakin memanas. Salah satu akibatnya sekitar 33 perusahaan terpaksa memindahkan operasinya dari China.

Namun dari 33 perusahaan itu tidak ada yang ke Indonesia, mereka memilih ke Vietnam ke Malaysia, Thailand dan Kamboja.
&amp;nbsp;Baca Juga: Kalah Saing dari Vietnam, Indonesia 'Sakitnya' Tuh di Sini
Terkait hal itu, Ekonom Universitas Indonesia Ari Kuncoro mengatakan bahwa 33 perusahaan yang keluar dari China itu memilih lokasi di daerah industrial zone atau zona industri yang memiliki pelabuhannya.



&quot;Sehingga mereka bisa melakukan ekspor dan impor itu bebas. Kemudian mereka juga memilih jalur yang terdekat ke perdaganan internasional atau jalur pelayaran dan mereka ingin ada kepastian dalam berinvestasi,&quot; ujar dia kepada Okezone, Kamis (5/9/2019).

&amp;nbsp;Baca Juga: Investor Asing Nilai Perizinan Indonesia Masih Kacau

Maka itu, lanjut dia apabila dilihat Indonesia ini jaraknya memang jauh dengan jalur pelayaran. Dahulu ada di Batam. Tapi sekarang Batam tak bisa diharapakan. Di mana kalau milih Kalimantan yang dekat hanya Pontianak lewat China Selatan, namun itu dinilai kejauhan.



&quot;Jadi 33 perusahaan itu milih ke dekat seperti Vietnam, Kamboja dan Malaysia supaya ongkosnya murah,&quot; ungkap dia.

&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/01/18/55421/280679_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat 14 Poin&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Tapi, tutur dia, sebenarnya Indonesia bisa mengatasi hal itu, apabila  bisa lewat jalur alterniatif. Yakni lewat jalur Selat Makassar. Selat  Makassar itu seperti Balikpapan tapi belum siap dan akan dijadikan ibu  kota baru,&quot; jelas dia.



Sedangkan untuk Makassar lebih ke tengah. Oleh karena itu yang siap  itu ada di kawasan industri Kendal Jawa Tengah. Namun Kendal itu harus  di promosikan secara pintu ke pintu.

&quot;Kita juga harus aktif mengubungi perusahaan yang akan keluar dari  China itu, di mana yang tidak di miliki kita itu yakni diplomasi dagang.  Maka itu kita harus hubungi perusahaan itu dan dijelaskan secara  detail,&quot; kata dia.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/01/18/55421/280681_medium.jpg&quot; alt=&quot;Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Menguat 14 Poin&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;


Dia menambahkan Vietnam menarik perusahaan itu ada agennya. Agennya  ke sana seperti menawarkan rumah. &quot;Indonesia kalah gesit di situ,&quot;  ujarnya.

Warga Vietnam juga banyak tinggal di negara AS. Yang dahulu orang Vetnam yang lari ke AS saat terjadi perang itu menjadi pelobi.



&quot;Nah sebenarnya kita bisa menggunakan Kemlu untuk mengidentifikasi  mana yang pindah kita kirim orang untuk meloby. Dan Indonesia harus  memperbaiki iklim investasi mereka. Saran ke depannya Kemlu dan  Kemenperin harus ada perdaganan luar negeri seperti departemen luar  negeri Australia ada yang indetifikasi potensi-potensi,&quot; pungkas dia.



Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan tak adanya  perusahaan asing yang mau berinvestasi Indonesia. Puluhan perusahaan  luar negeri itu lebih memilih negara lain untuk menanamkan modalnya  karena rumitnya regulasi di Tanah Air.



&quot;Investor-investor yang kita temui, juga dari catatan yang kemarin  disampaikan Bank Dunia kepada kita, kemarin sudah saya sampaikan tapi  saya ulang lagi. Di 2 bulan yang lalu ada 33 perusahaan di Tiongkok  keluar, 23 memilih di Vietnam. Kemudian 10 lainnya perginya ke Malaysia,  Thailand dan Kamboja. Enggak ada yang ke kita,&quot; ujar Jokowi dalam  mengawali pengantarnya saat ratas 'Antisipasi Perkembangan Perekonomian  Dunia' di Kantor Presiden.</content:encoded></item></channel></rss>
