<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Intip Progres Proyek Jalan Perbatasan di Kalimantan 1.920 Km</title><description>PUPR secara bertahap membangun jalan paralel perbatasan di Pulau Kalimantan sepanjang 1.920 Km</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/08/320/2102077/intip-progres-proyek-jalan-perbatasan-di-kalimantan-1-920-km</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/08/320/2102077/intip-progres-proyek-jalan-perbatasan-di-kalimantan-1-920-km"/><item><title>Intip Progres Proyek Jalan Perbatasan di Kalimantan 1.920 Km</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/08/320/2102077/intip-progres-proyek-jalan-perbatasan-di-kalimantan-1-920-km</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/08/320/2102077/intip-progres-proyek-jalan-perbatasan-di-kalimantan-1-920-km</guid><pubDate>Minggu 08 September 2019 13:15 WIB</pubDate><dc:creator>Rizqa Leony Putri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/08/320/2102077/intip-progres-proyek-jalan-perbatasan-di-kalimantan-1-920-km-cQVDscVk8r.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jalan Perbatasan di Pulau Kalimantan. (Foto: Okezone.com/Dok. Kementerian PUPR)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/08/320/2102077/intip-progres-proyek-jalan-perbatasan-di-kalimantan-1-920-km-cQVDscVk8r.jpg</image><title>Jalan Perbatasan di Pulau Kalimantan. (Foto: Okezone.com/Dok. Kementerian PUPR)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) secara bertahap membangun jalan paralel perbatasan di Pulau Kalimantan sepanjang 1.920 Km. Pembangunan jalan perbatasan ini bernilai strategis karena di samping fungsi pertahanan dan keamanan negara juga membuka daerah terisolir dan menumbuhkan ekonomi kawasan perbatasan.
Baca Juga: Pembangunan Jalan Sabuk Merah Percepat Ekonomi Kawasan Perbatasan RI-Timor Leste
Jalan Paralel Perbatasan ini membentang mulai dari Temajuk hingga Batas Kalimantan Timur sepanjang 827,97 Km.  Pembangunan dilakukan Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XX Pontianak, Direktorat Jenderal Bina Marga dibantu Direktorat Zeni TNI Angkatan Darat.

&amp;ldquo;Pembangunan jalan perbatasan merupakan implementasi dari Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla untuk membangun Indonesia dari pinggiran dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI,&amp;rdquo; kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono melalui keterangan resminya, Minggu (8/9/2019).
Baca Juga: Presiden Jokowi Teken Aturan Perdagangan Perbatasan
Kondisi jalan saat ini sudah teraspal sepanjang 317,05 Km (38%), lapisan agregat sepanjang 253,29 km (31%), dan masih berupa perkerasan tanah 257,63 km (31%). Jalan paralel perbatasan memiliki lebar minimal 7 meter dan ruang milik jalan (Rumija) minimal 25 meter.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Sugiyartanto mengatakan, meski jalan sudah tembus, pengaspalan diprioritaskan pada area yang sudah ada permukiman dan terdapat fasilitas umum. Sementara penggunaan lapisan agregat digunakan pada area yang masih butuh peningkatan lalu lintas harian-nya (LHR).Diperkirakan kebutuhan anggaran untuk proses pengaspalan hingga akhir  tahun 2024 sebesar Rp4,5 triliun termasuk untuk pembangunan jembatan.  Dari 12 ruas/koridor yang ada, sebanyak 4 ruas sudah jalan dalam kondisi  teraspal seluruhnya, yakni ruas Nanga Badau-Lanjak sepanjang 44,92 km,  Lanjak-Mataso sepanjang 25,72 km,  Mataso-Tanjung Kerja sepanjang 54,85  km, dan Tanjung Kerja-Putussibau sepanjang 37 km.
Pada tahun ini ruas yang ditangani adalah Ruas 1 Temajuk-Aruk (61,93  km), dimana saat ini sudah teraspal sepanjang 12 km dan sisanya masih  berupa lapisan agregat sepanjang 49,93 km. Pada ruas tersebut juga  dibangun sebanyak 8 jembatan dengan panjang antara 20-90 meter, serta  dilakukan juga perbaikan sebanyak 64 jembatan kayu yang ada.

Sementara itu, ruas 2 Aruk-Bts. Kec.Siding/Seluas dari panjang 53,61  km sudah dalam kondisi beraspal sepanjang 41,6 km dan perkerasan tanah  sepanjang 12,01 km. Peningkatan kualitas dilakukan pada ruas yang masih  berupa tanah termasuk peninggian badan jalan sepanjang 2 Km yang  merupakan lokasi rawan banjir yakni berada di antara Simpang Tapang dan  Simpang Take. Selain itu dilakukan perbaikan terhadap 19 jembatan kayu  yang sudah lapuk dengan menggantinya dengan jembatan berupa box culvert.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) secara bertahap membangun jalan paralel perbatasan di Pulau Kalimantan sepanjang 1.920 Km. Pembangunan jalan perbatasan ini bernilai strategis karena di samping fungsi pertahanan dan keamanan negara juga membuka daerah terisolir dan menumbuhkan ekonomi kawasan perbatasan.
Baca Juga: Pembangunan Jalan Sabuk Merah Percepat Ekonomi Kawasan Perbatasan RI-Timor Leste
Jalan Paralel Perbatasan ini membentang mulai dari Temajuk hingga Batas Kalimantan Timur sepanjang 827,97 Km.  Pembangunan dilakukan Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XX Pontianak, Direktorat Jenderal Bina Marga dibantu Direktorat Zeni TNI Angkatan Darat.

&amp;ldquo;Pembangunan jalan perbatasan merupakan implementasi dari Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla untuk membangun Indonesia dari pinggiran dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI,&amp;rdquo; kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono melalui keterangan resminya, Minggu (8/9/2019).
Baca Juga: Presiden Jokowi Teken Aturan Perdagangan Perbatasan
Kondisi jalan saat ini sudah teraspal sepanjang 317,05 Km (38%), lapisan agregat sepanjang 253,29 km (31%), dan masih berupa perkerasan tanah 257,63 km (31%). Jalan paralel perbatasan memiliki lebar minimal 7 meter dan ruang milik jalan (Rumija) minimal 25 meter.

Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Sugiyartanto mengatakan, meski jalan sudah tembus, pengaspalan diprioritaskan pada area yang sudah ada permukiman dan terdapat fasilitas umum. Sementara penggunaan lapisan agregat digunakan pada area yang masih butuh peningkatan lalu lintas harian-nya (LHR).Diperkirakan kebutuhan anggaran untuk proses pengaspalan hingga akhir  tahun 2024 sebesar Rp4,5 triliun termasuk untuk pembangunan jembatan.  Dari 12 ruas/koridor yang ada, sebanyak 4 ruas sudah jalan dalam kondisi  teraspal seluruhnya, yakni ruas Nanga Badau-Lanjak sepanjang 44,92 km,  Lanjak-Mataso sepanjang 25,72 km,  Mataso-Tanjung Kerja sepanjang 54,85  km, dan Tanjung Kerja-Putussibau sepanjang 37 km.
Pada tahun ini ruas yang ditangani adalah Ruas 1 Temajuk-Aruk (61,93  km), dimana saat ini sudah teraspal sepanjang 12 km dan sisanya masih  berupa lapisan agregat sepanjang 49,93 km. Pada ruas tersebut juga  dibangun sebanyak 8 jembatan dengan panjang antara 20-90 meter, serta  dilakukan juga perbaikan sebanyak 64 jembatan kayu yang ada.

Sementara itu, ruas 2 Aruk-Bts. Kec.Siding/Seluas dari panjang 53,61  km sudah dalam kondisi beraspal sepanjang 41,6 km dan perkerasan tanah  sepanjang 12,01 km. Peningkatan kualitas dilakukan pada ruas yang masih  berupa tanah termasuk peninggian badan jalan sepanjang 2 Km yang  merupakan lokasi rawan banjir yakni berada di antara Simpang Tapang dan  Simpang Take. Selain itu dilakukan perbaikan terhadap 19 jembatan kayu  yang sudah lapuk dengan menggantinya dengan jembatan berupa box culvert.</content:encoded></item></channel></rss>
