<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Global Diambang Resesi, Sri Mulyani: Tak Perlu Khawatir</title><description>Sri Mulyani Indrawati mengaku tidak khawatir terkait ancaman resesi terhadap ekonomi global</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/12/20/2104031/ekonomi-global-diambang-resesi-sri-mulyani-tak-perlu-khawatir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/12/20/2104031/ekonomi-global-diambang-resesi-sri-mulyani-tak-perlu-khawatir"/><item><title>Ekonomi Global Diambang Resesi, Sri Mulyani: Tak Perlu Khawatir</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/12/20/2104031/ekonomi-global-diambang-resesi-sri-mulyani-tak-perlu-khawatir</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/12/20/2104031/ekonomi-global-diambang-resesi-sri-mulyani-tak-perlu-khawatir</guid><pubDate>Kamis 12 September 2019 15:59 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/12/20/2104031/ekonomi-global-diambang-resesi-sri-mulyani-tak-perlu-khawatir-YMTJIrhcsd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/12/20/2104031/ekonomi-global-diambang-resesi-sri-mulyani-tak-perlu-khawatir-YMTJIrhcsd.jpg</image><title>Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Kondisi perekonomian global masih dibayangi resesi. Bahkan perekonomian Indonesia disebut-sebut terancam resesi akibat gonjang-ganjing ekonomi global.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku tidak khawatir terkait ancaman resesi terhadap ekonomi global. Karena terpenting bagaimana pemerintah bisa menjaga dengan baik fundamental ekonomi.
Baca Juga: 4 Ciri-Ciri Meredanya Globalisasi Menuju Era Digitalisasi
Namun bukan berarti pemerintah akan mengabaikan kondisi global. Pemerintah justru juga akan mewaspadai perkembangan ekonomi global yang dapat mempengaruhi ekonomi nasional.
&quot;Agar makro policy kita sound dan timely appropriate. Tekanan ketidakpastian global harus terus diwaspadai meski tak perlu khawatir,&quot; ujarnya saat ditemui di Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (12/9/2019).
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/08/29/58577/299813_medium.jpg&quot; alt=&quot;Sri Mulyani Buka-bukaan soal Ekonomi RI di Manager Forum MNC Group&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurut wanita yang kerap disapa Ani, sejak krisis ekonomi global pada 2008-2009 lalu ekonomi dunia belum sepenuhnya sehat. Hal ini dibuktikan dengan masih belum stabilnya ekonomi dari negara-negara di dunia bahkan ada yang sampai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit lagi.
Baca Juga: Mata Uang Safe Haven Dibayang-bayangi Harapan Stimulus Meningkat
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan, saat ini kebijakan yang dijalankan negara-negara di dunia juga masih relatif sama dengan tahun 2008-2009 lalu. Berbagai kebijakan yang dijalankan oleh negara-negara di dunia seperti kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif sementara pengetatan di sektor keuangan.&amp;ldquo;Makanya sekarang itu banyak negara APBN-nya defisit. Suku bunga  sangat rendah bahkan ada yang nol. Jadi ekonomi ini disanggah dengan  ekspansi dan monetary policy yang rate rendah, serta quantitative  easing,&quot; jelasnya.
Oleh karenanya, untuk menghadapi situasi ini pemerintah berupaya  menjaga agar APBN-nya tetap sehat dengan defisit selalu di bawah 2% dan  rasio utang terhadap PDB sekitar 30%. Kebijakan moneter yang diambil  oleh Bank Indonesia (BI) juga diarahkan agar ahead the curve.
&quot;Memang bukan hanya resesi, tetapi kita juga menghadapi masalah  fundamental, struktural dan spillover. Menjaga agar makro policy sound,  tentu kita menggunakan setiap Rupiah untuk address yang isunya  fundamental,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kondisi perekonomian global masih dibayangi resesi. Bahkan perekonomian Indonesia disebut-sebut terancam resesi akibat gonjang-ganjing ekonomi global.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku tidak khawatir terkait ancaman resesi terhadap ekonomi global. Karena terpenting bagaimana pemerintah bisa menjaga dengan baik fundamental ekonomi.
Baca Juga: 4 Ciri-Ciri Meredanya Globalisasi Menuju Era Digitalisasi
Namun bukan berarti pemerintah akan mengabaikan kondisi global. Pemerintah justru juga akan mewaspadai perkembangan ekonomi global yang dapat mempengaruhi ekonomi nasional.
&quot;Agar makro policy kita sound dan timely appropriate. Tekanan ketidakpastian global harus terus diwaspadai meski tak perlu khawatir,&quot; ujarnya saat ditemui di Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (12/9/2019).
&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/08/29/58577/299813_medium.jpg&quot; alt=&quot;Sri Mulyani Buka-bukaan soal Ekonomi RI di Manager Forum MNC Group&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurut wanita yang kerap disapa Ani, sejak krisis ekonomi global pada 2008-2009 lalu ekonomi dunia belum sepenuhnya sehat. Hal ini dibuktikan dengan masih belum stabilnya ekonomi dari negara-negara di dunia bahkan ada yang sampai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit lagi.
Baca Juga: Mata Uang Safe Haven Dibayang-bayangi Harapan Stimulus Meningkat
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan, saat ini kebijakan yang dijalankan negara-negara di dunia juga masih relatif sama dengan tahun 2008-2009 lalu. Berbagai kebijakan yang dijalankan oleh negara-negara di dunia seperti kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif sementara pengetatan di sektor keuangan.&amp;ldquo;Makanya sekarang itu banyak negara APBN-nya defisit. Suku bunga  sangat rendah bahkan ada yang nol. Jadi ekonomi ini disanggah dengan  ekspansi dan monetary policy yang rate rendah, serta quantitative  easing,&quot; jelasnya.
Oleh karenanya, untuk menghadapi situasi ini pemerintah berupaya  menjaga agar APBN-nya tetap sehat dengan defisit selalu di bawah 2% dan  rasio utang terhadap PDB sekitar 30%. Kebijakan moneter yang diambil  oleh Bank Indonesia (BI) juga diarahkan agar ahead the curve.
&quot;Memang bukan hanya resesi, tetapi kita juga menghadapi masalah  fundamental, struktural dan spillover. Menjaga agar makro policy sound,  tentu kita menggunakan setiap Rupiah untuk address yang isunya  fundamental,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
