<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Neraca Perdagangan Agustus Diproyeksi Surplus USD177 Juta</title><description>Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2019 diproyeksikan mengalami surplus sebesar USD177 juta.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/16/320/2105281/neraca-perdagangan-agustus-diproyeksi-surplus-usd177-juta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/16/320/2105281/neraca-perdagangan-agustus-diproyeksi-surplus-usd177-juta"/><item><title>Neraca Perdagangan Agustus Diproyeksi Surplus USD177 Juta</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/16/320/2105281/neraca-perdagangan-agustus-diproyeksi-surplus-usd177-juta</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/16/320/2105281/neraca-perdagangan-agustus-diproyeksi-surplus-usd177-juta</guid><pubDate>Senin 16 September 2019 10:27 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/16/320/2105281/neraca-perdagangan-agustus-diproyeksi-surplus-usd177-juta-AfHlFHpGOh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Neraca Perdagangan Diproyeksi Surplus (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/16/320/2105281/neraca-perdagangan-agustus-diproyeksi-surplus-usd177-juta-AfHlFHpGOh.jpg</image><title>Neraca Perdagangan Diproyeksi Surplus (Foto: Okezone)</title></images><description> 
JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2019 diproyeksikan mengalami surplus sebesar USD177 juta. Membaik dari posisi Juli 2019 yang mengalami defisit sebesar USD63,5 juta.
&amp;nbsp;Baca Juga: Rilis Neraca Perdagangan, Bagaimana Laju Ekspor-Impor di Agustus 2019?
Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, laju ekspor bulan lalu turun 4,11% (year on year/yoy) dan impor turun 10,55% yoy. Sehingga surplus neraca perdagangan Agustus 2019 dipengaruhi oleh penurunan impor yang lebih besar ketimbang penurunan ekspor.

&quot;Penurunan impor migas didorong oleh penurunan harga minyak mentah di pasar global sekitar 4% (month to month/mtm),&quot; ujar Josua dalam risetnya, Jakarta, Senin (16/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia-AS Surplus, tapi Defisit dengan China
Di sisi lain, impor non migas cenderung turun dipengaruhi oleh  perlambatan aktivitas manufaktur Indonesia, yang terindikasi dari  Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang melambat. Investasi non  bangunan yang tumbuh moderat juga mempengaruhi perlambatan impor non  migas.

&quot;Sementara di sisi ekspor, volume ekspor non migas diperkirakan  cenderung meningkat terindikasi dari peningkatan aktivitas manufaktur  dari mitra dagang utama Indonesia seperti Uni Eropa, Jepang, Korea  Selatan dan ditandai juga oleh peningkatan PMI manufaktur global,&quot;  katanya.

Meski demikian, kinerja ekspor Indonesia juga turut dipengaruhi harga  komodiras yang cenderung mixed. Di mana harga minyak kelapa sawit (CPO)  secara rata-rata naik sekitar 9% mtm, namun harga batu bara cenderung  turun sekitar 9% mtm sepanjang bulan lalu.
</description><content:encoded> 
JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2019 diproyeksikan mengalami surplus sebesar USD177 juta. Membaik dari posisi Juli 2019 yang mengalami defisit sebesar USD63,5 juta.
&amp;nbsp;Baca Juga: Rilis Neraca Perdagangan, Bagaimana Laju Ekspor-Impor di Agustus 2019?
Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, laju ekspor bulan lalu turun 4,11% (year on year/yoy) dan impor turun 10,55% yoy. Sehingga surplus neraca perdagangan Agustus 2019 dipengaruhi oleh penurunan impor yang lebih besar ketimbang penurunan ekspor.

&quot;Penurunan impor migas didorong oleh penurunan harga minyak mentah di pasar global sekitar 4% (month to month/mtm),&quot; ujar Josua dalam risetnya, Jakarta, Senin (16/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia-AS Surplus, tapi Defisit dengan China
Di sisi lain, impor non migas cenderung turun dipengaruhi oleh  perlambatan aktivitas manufaktur Indonesia, yang terindikasi dari  Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang melambat. Investasi non  bangunan yang tumbuh moderat juga mempengaruhi perlambatan impor non  migas.

&quot;Sementara di sisi ekspor, volume ekspor non migas diperkirakan  cenderung meningkat terindikasi dari peningkatan aktivitas manufaktur  dari mitra dagang utama Indonesia seperti Uni Eropa, Jepang, Korea  Selatan dan ditandai juga oleh peningkatan PMI manufaktur global,&quot;  katanya.

Meski demikian, kinerja ekspor Indonesia juga turut dipengaruhi harga  komodiras yang cenderung mixed. Di mana harga minyak kelapa sawit (CPO)  secara rata-rata naik sekitar 9% mtm, namun harga batu bara cenderung  turun sekitar 9% mtm sepanjang bulan lalu.
</content:encoded></item></channel></rss>
