<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   BI Berani Ikuti Langkah The Fed Turunkan Suku Bunga?</title><description>Bank Indonesia (BI) diprediksi akan memangkas kembali suku bunga acuannya pada hari ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/19/20/2106690/bi-berani-ikuti-langkah-the-fed-turunkan-suku-bunga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/19/20/2106690/bi-berani-ikuti-langkah-the-fed-turunkan-suku-bunga"/><item><title>   BI Berani Ikuti Langkah The Fed Turunkan Suku Bunga?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/19/20/2106690/bi-berani-ikuti-langkah-the-fed-turunkan-suku-bunga</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/19/20/2106690/bi-berani-ikuti-langkah-the-fed-turunkan-suku-bunga</guid><pubDate>Kamis 19 September 2019 10:22 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/19/20/2106690/bi-berani-ikuti-langkah-the-fed-turunkan-suku-bunga-NVJY34KIsw.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BI Berani Turunkan Suku Bunga Lagi (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/19/20/2106690/bi-berani-ikuti-langkah-the-fed-turunkan-suku-bunga-NVJY34KIsw.jpg</image><title>BI Berani Turunkan Suku Bunga Lagi (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi akan memangkas kembali suku bunga acuannya pada hari ini. Saat ini posisi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) berada di level 5,5%.
&amp;nbsp;Baca Juga: The Fed Pangkas Suku Bunga untuk Kedua Kalinya Tahun Ini
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam mengatakan, ada beberapa pertimbangan mengapa dirinya memprediksi hal tersebut. Pertimbangan pertama adalah untuk merespons keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang beberapa saat lalu menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin atau 0,25%.

&amp;ldquo;The Fed kemarin mengumumkan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 1,75% &amp;ndash; 2%. Ini menjadi langkah pemangkasan kedua yang dilakukan The Fed sepanjang tahun ini,&amp;rdquo; ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (19/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Gubernur BI Buka-bukaan Alasan Suku Bunga Acuan Turun 2 Kali
Menurut Piter, hal ini harus dimanfaatkan BI untuk memperkuat nilai tukar Rupiah. Dengan menurunkan suku bunga acuannya, maka aliran modal asing akan bisa semakin banyak yang masuk ke Indonesia.

&amp;ldquo;Saya kira langkah The Fed ini memperkuat keyakinan pasar bahwa likuiditas global akan lebih longgar hingga tahun depan. Sekaligus mendorong aliran modal asing masuk ke indonesia dan memperkuat rupiah,&amp;rdquo; jelas Piter

&amp;ldquo;Dengan pertimbangan itu saya meyakini BI hari ini akan menurunkan suku bunga,&amp;rdquo; imbuhnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/01/17/55399/280542_medium.jpg&quot; alt=&quot;Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Pertahankan BI7DRR Sebesar 6,00%&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga  memprediksi jika Bank Indonesia akan kembali menurunkan suku bunga  acuannya pada hari ini. Hal ini dilakukan dengan  mempertimbangkan  kestabilan harga-harga barang dan jasa yang tercermin dari perkembangan  laju inflasi serta perkembangan nilai tukar Rupiah.

&amp;ldquo;Laju inflasi cenderung stabil di tengah ekspektasi inflasi yang  cenderung terjangkar dalam target sasaran inflasi BI di kisaran 3,5%  plus minus 1% hingga akhir tahun ini,&amp;rdquo; ucapnya kepada Okezone.

Selain itu, nilai tukar rupiah cenderung stabil dalam sebulan  terakhir ini. Volatilitas rupiah secara rata-rata menurun yang  terindikasi dari one-month implied volatility yang menurun menjadi 6,4%  saat dari rata-rata bulan Agustus yang tercatat sekitar 7,6%.

&amp;ldquo;Rupiah secara rata-rata menguat sekitar 1% ke level Rp14.100 per USD sepanjang bulan September ini,&amp;rdquo; kata Josua.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/01/17/55399/280545_medium.jpg&quot; alt=&quot;Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Pertahankan BI7DRR Sebesar 6,00%&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurut Josua, terkendalinya laju inflasi serta kestabilan nilai   tukar rupiah juga ditopang oleh ekspektasi penurunan defisit transaksi   berjalan. Hal ini sejalan dengan membaiknya neraca perdagangan sepanjang   kuartal III tahun ini. Perbaikan defisit transaksi berjalan tersebut   didorong oleh penurunan laju impor yang lebih besar dibandingkan   penurunan laju ekspor.

&amp;ldquo;Namun demikian, penurunan laju impor tersebut mengindikasikan bahwa   realisasi investasi cenderung stagnan di tengah tren perlambatan  ekonomi  global yang mempengaruhi moderasi pertumbuhan permintaan  domestik,&amp;rdquo;  kata Josua.

Oleh karenanya, mempertimbangkan tingkat inflasi yang terkendali,   stabilnya nilai tukar rupiah dan perbaikan defisit transaksi berjalan,   maka ruang pelonggaran kebijakan moneter terbuka. Ditambah lagi sebagai   momentum pelonggaran kebijakan moneter dengan penurunan suku bunga  acuan  juga disaat bersamaan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan  ekonomi  domestik di tengah tren perlambatan ekonomi global dan bahkan  potensi  resesi dari beberapa negara maju dan berkembang.

Pelonggaran kebijakan moneter BI juga mempertimbangkan keputusan Fed   untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25bps menjadi 2% pada rapat   FOMC bulan ini. Stance pelonggaran kebijakan moneter dari bank sentral   global seperti Fed, ECB, PBoC, dan sebagian besar bank sentral negara   berkembang mengindikasikan masih tetap menariknya imbal hasil investasi   aset keuangan domestik.

&amp;ldquo;Oleh sebab itu, BI diperkirakan akan kembali memangkas tingkat suku   bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,25% dalam RDG bulan ini,&amp;rdquo;   ucapnya.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/01/17/55399/280546_medium.jpg&quot; alt=&quot;Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Pertahankan BI7DRR Sebesar 6,00%&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi akan memangkas kembali suku bunga acuannya pada hari ini. Saat ini posisi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) berada di level 5,5%.
&amp;nbsp;Baca Juga: The Fed Pangkas Suku Bunga untuk Kedua Kalinya Tahun Ini
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam mengatakan, ada beberapa pertimbangan mengapa dirinya memprediksi hal tersebut. Pertimbangan pertama adalah untuk merespons keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang beberapa saat lalu menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin atau 0,25%.

&amp;ldquo;The Fed kemarin mengumumkan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 1,75% &amp;ndash; 2%. Ini menjadi langkah pemangkasan kedua yang dilakukan The Fed sepanjang tahun ini,&amp;rdquo; ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (19/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Gubernur BI Buka-bukaan Alasan Suku Bunga Acuan Turun 2 Kali
Menurut Piter, hal ini harus dimanfaatkan BI untuk memperkuat nilai tukar Rupiah. Dengan menurunkan suku bunga acuannya, maka aliran modal asing akan bisa semakin banyak yang masuk ke Indonesia.

&amp;ldquo;Saya kira langkah The Fed ini memperkuat keyakinan pasar bahwa likuiditas global akan lebih longgar hingga tahun depan. Sekaligus mendorong aliran modal asing masuk ke indonesia dan memperkuat rupiah,&amp;rdquo; jelas Piter

&amp;ldquo;Dengan pertimbangan itu saya meyakini BI hari ini akan menurunkan suku bunga,&amp;rdquo; imbuhnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a.okezone.com/photos/2019/01/17/55399/280542_medium.jpg&quot; alt=&quot;Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Pertahankan BI7DRR Sebesar 6,00%&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga  memprediksi jika Bank Indonesia akan kembali menurunkan suku bunga  acuannya pada hari ini. Hal ini dilakukan dengan  mempertimbangkan  kestabilan harga-harga barang dan jasa yang tercermin dari perkembangan  laju inflasi serta perkembangan nilai tukar Rupiah.

&amp;ldquo;Laju inflasi cenderung stabil di tengah ekspektasi inflasi yang  cenderung terjangkar dalam target sasaran inflasi BI di kisaran 3,5%  plus minus 1% hingga akhir tahun ini,&amp;rdquo; ucapnya kepada Okezone.

Selain itu, nilai tukar rupiah cenderung stabil dalam sebulan  terakhir ini. Volatilitas rupiah secara rata-rata menurun yang  terindikasi dari one-month implied volatility yang menurun menjadi 6,4%  saat dari rata-rata bulan Agustus yang tercatat sekitar 7,6%.

&amp;ldquo;Rupiah secara rata-rata menguat sekitar 1% ke level Rp14.100 per USD sepanjang bulan September ini,&amp;rdquo; kata Josua.
&amp;nbsp;&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/01/17/55399/280545_medium.jpg&quot; alt=&quot;Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Pertahankan BI7DRR Sebesar 6,00%&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurut Josua, terkendalinya laju inflasi serta kestabilan nilai   tukar rupiah juga ditopang oleh ekspektasi penurunan defisit transaksi   berjalan. Hal ini sejalan dengan membaiknya neraca perdagangan sepanjang   kuartal III tahun ini. Perbaikan defisit transaksi berjalan tersebut   didorong oleh penurunan laju impor yang lebih besar dibandingkan   penurunan laju ekspor.

&amp;ldquo;Namun demikian, penurunan laju impor tersebut mengindikasikan bahwa   realisasi investasi cenderung stagnan di tengah tren perlambatan  ekonomi  global yang mempengaruhi moderasi pertumbuhan permintaan  domestik,&amp;rdquo;  kata Josua.

Oleh karenanya, mempertimbangkan tingkat inflasi yang terkendali,   stabilnya nilai tukar rupiah dan perbaikan defisit transaksi berjalan,   maka ruang pelonggaran kebijakan moneter terbuka. Ditambah lagi sebagai   momentum pelonggaran kebijakan moneter dengan penurunan suku bunga  acuan  juga disaat bersamaan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan  ekonomi  domestik di tengah tren perlambatan ekonomi global dan bahkan  potensi  resesi dari beberapa negara maju dan berkembang.

Pelonggaran kebijakan moneter BI juga mempertimbangkan keputusan Fed   untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25bps menjadi 2% pada rapat   FOMC bulan ini. Stance pelonggaran kebijakan moneter dari bank sentral   global seperti Fed, ECB, PBoC, dan sebagian besar bank sentral negara   berkembang mengindikasikan masih tetap menariknya imbal hasil investasi   aset keuangan domestik.

&amp;ldquo;Oleh sebab itu, BI diperkirakan akan kembali memangkas tingkat suku   bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5,25% dalam RDG bulan ini,&amp;rdquo;   ucapnya.
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/01/17/55399/280546_medium.jpg&quot; alt=&quot;Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Pertahankan BI7DRR Sebesar 6,00%&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;</content:encoded></item></channel></rss>
