<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Kapten Kartini, Sulitnya Pelaut Wanita Diterima di Perusahaan Pelayaran</title><description>Kapten Kartini berbagi kisah saat seorang perwira atau pelaut wanita sulit berkarier di dunia maritim Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/19/320/2106668/kisah-kapten-kartini-sulitnya-pelaut-wanita-diterima-di-perusahaan-pelayaran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/19/320/2106668/kisah-kapten-kartini-sulitnya-pelaut-wanita-diterima-di-perusahaan-pelayaran"/><item><title>Kisah Kapten Kartini, Sulitnya Pelaut Wanita Diterima di Perusahaan Pelayaran</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/19/320/2106668/kisah-kapten-kartini-sulitnya-pelaut-wanita-diterima-di-perusahaan-pelayaran</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/19/320/2106668/kisah-kapten-kartini-sulitnya-pelaut-wanita-diterima-di-perusahaan-pelayaran</guid><pubDate>Kamis 19 September 2019 09:28 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/19/320/2106668/kisah-kapten-kartini-sulitnya-pelaut-wanita-diterima-di-perusahaan-pelayaran-9hW8mMBFgS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kisah Kapten Kartini soal Pelaut Wanita (Foto: Okezone.com/Feby Novalius)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/19/320/2106668/kisah-kapten-kartini-sulitnya-pelaut-wanita-diterima-di-perusahaan-pelayaran-9hW8mMBFgS.jpg</image><title>Kisah Kapten Kartini soal Pelaut Wanita (Foto: Okezone.com/Feby Novalius)</title></images><description>LABUAN BAJO - Kapten Kartini berbagi kisah saat seorang perwira atau pelaut wanita sulit berkarier di dunia maritim Indonesia. Sedikit bahkan hampir tidak ada perusahaan pelayaran yang mau menerima seorang pelaut wanita ketika itu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pertama Kalinya Indonesia Miliki Buku Putih Diplomasi Maritim
Kartini yang disebut sebagai nahkoda wanita pertama Indonesia menceritakan soal banyak perusahaan pelayaran yang tidak menerima perwira perempuan karena alasan teknis.

&quot;Sulit berlayar dulu, karena perusahaan banyak yang ragu dan khawatir. Itu wajar, karena siapa yang mau menjamin kalau di kapal tidak ada apa-apa,&quot; ujarnya dalam diskusi Wanita Maritim Indonesia, Labuan Bajo, Kamis (19/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Ancaman Maritim Meningkat, ASEAN Perkuat Ketahanan
Namun kondisi itu sekarang sudah berubah saat pemerintah melalui Dirjen Hubla Kemenhub  menerbitkan aturan soal Pemenuhan/Pemberian Hak-hak Pelaut Perempuan,  dan Surat Edaran Ditkapel Hubla Kemenhub No: UM.002/89/3/DK-17 tentang Pemenuhan/Pemberian Hak-hak Pelaut Perempuan.

&quot;Sekarang tidak perlu khawatir karena sudah ada aturan dan kita harus berani,&quot; ujarnya.
&amp;nbsp;Hanya saja, lanjut Kartini, wanita yang memutuskan menjadj pelaut  dihadapkan dengan tantangan lain. Di Indonesia perwira wanita dilihat  sebagai pekerjaan yang tidak biasa. Apalagi ketika wanita tersebut sudah  menikah dan harus meninggalkan suami dan anak untuk melaut.

&quot;Kodrat wanita menjadi perwira di Indonesia itu masih aneh. Harus  tinggalkan suami, kalau mau melaut harus dapat izin keluarga. Kalau  tidak, gagal melaut karena waktunya tidak sebentar,&quot; ujarnya.
&amp;nbsp;
Untuk itu, Kartini menyarankan, bagi wanita yang saat pendidikan  mengambil akademi pelayaran harus sudah tahu nantinya akan kerja seperti  ini. Wajib dipahami benar-benar apa saja tugas sebagai perwira negara.

&quot;Jika memutuskan jadi pelaut, kita harus punya target sampai kapan.  Karena tidak mungkin selamanya di laut. Lalu harus siap mental karena  kehidupan di laut selalu tidak sama, ombak berubah-ubah dan macam-macam  lah,&quot; ujarnya.
</description><content:encoded>LABUAN BAJO - Kapten Kartini berbagi kisah saat seorang perwira atau pelaut wanita sulit berkarier di dunia maritim Indonesia. Sedikit bahkan hampir tidak ada perusahaan pelayaran yang mau menerima seorang pelaut wanita ketika itu.
&amp;nbsp;Baca Juga: Pertama Kalinya Indonesia Miliki Buku Putih Diplomasi Maritim
Kartini yang disebut sebagai nahkoda wanita pertama Indonesia menceritakan soal banyak perusahaan pelayaran yang tidak menerima perwira perempuan karena alasan teknis.

&quot;Sulit berlayar dulu, karena perusahaan banyak yang ragu dan khawatir. Itu wajar, karena siapa yang mau menjamin kalau di kapal tidak ada apa-apa,&quot; ujarnya dalam diskusi Wanita Maritim Indonesia, Labuan Bajo, Kamis (19/9/2019).
&amp;nbsp;Baca Juga: Ancaman Maritim Meningkat, ASEAN Perkuat Ketahanan
Namun kondisi itu sekarang sudah berubah saat pemerintah melalui Dirjen Hubla Kemenhub  menerbitkan aturan soal Pemenuhan/Pemberian Hak-hak Pelaut Perempuan,  dan Surat Edaran Ditkapel Hubla Kemenhub No: UM.002/89/3/DK-17 tentang Pemenuhan/Pemberian Hak-hak Pelaut Perempuan.

&quot;Sekarang tidak perlu khawatir karena sudah ada aturan dan kita harus berani,&quot; ujarnya.
&amp;nbsp;Hanya saja, lanjut Kartini, wanita yang memutuskan menjadj pelaut  dihadapkan dengan tantangan lain. Di Indonesia perwira wanita dilihat  sebagai pekerjaan yang tidak biasa. Apalagi ketika wanita tersebut sudah  menikah dan harus meninggalkan suami dan anak untuk melaut.

&quot;Kodrat wanita menjadi perwira di Indonesia itu masih aneh. Harus  tinggalkan suami, kalau mau melaut harus dapat izin keluarga. Kalau  tidak, gagal melaut karena waktunya tidak sebentar,&quot; ujarnya.
&amp;nbsp;
Untuk itu, Kartini menyarankan, bagi wanita yang saat pendidikan  mengambil akademi pelayaran harus sudah tahu nantinya akan kerja seperti  ini. Wajib dipahami benar-benar apa saja tugas sebagai perwira negara.

&quot;Jika memutuskan jadi pelaut, kita harus punya target sampai kapan.  Karena tidak mungkin selamanya di laut. Lalu harus siap mental karena  kehidupan di laut selalu tidak sama, ombak berubah-ubah dan macam-macam  lah,&quot; ujarnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
