<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Cara Kemenperin Tingkatkan Industri Tekstil</title><description>Kemenperin semakin gencar mendorong peningkatan Sumber Daya Manusia  (SDM) yang kompeten untuk menopang daya saing industri nasional.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/21/320/2107597/ini-cara-kemenperin-tingkatkan-industri-tekstil</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/21/320/2107597/ini-cara-kemenperin-tingkatkan-industri-tekstil"/><item><title>Ini Cara Kemenperin Tingkatkan Industri Tekstil</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/21/320/2107597/ini-cara-kemenperin-tingkatkan-industri-tekstil</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/21/320/2107597/ini-cara-kemenperin-tingkatkan-industri-tekstil</guid><pubDate>Sabtu 21 September 2019 12:25 WIB</pubDate><dc:creator>Delia Citra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/21/320/2107597/ini-cara-kemenperin-tingkatkan-industri-tekstil-QYmBp9VrQ9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tekstil (Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/21/320/2107597/ini-cara-kemenperin-tingkatkan-industri-tekstil-QYmBp9VrQ9.jpg</image><title>Tekstil (Reuters)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) semakin gencar mendorong peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk menopang daya saing industri nasional. Terutama, pada sektor-sektor yang menjadi prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

&amp;ldquo;Industri TPT membutuhkan tenaga kerja terampil yang sangat besar, karena termasuk sektor labor intensive atau industri padat karya. Karena itu, Kemenperin ikut memacu kualitas tenaga kerjanya,&amp;rdquo; kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto melansir keterangan, Jakarta, Sabtu (21/9/2019).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bertemu Pengusaha Tekstil, Presiden Jokowi Ingin Cari Peluang di Tengah Perang Dagang
Guna memenuhi permintaan tenaga kerja di sektor industri TPT, Kemenperin terus memaksimalkan Balai Pendidikan dan Latihan (Balai Diklat) khusus bidang tekstil yang ada di Jakarta dan Surabaya. Kemudian untuk tingkat perguruan tinggi, terdapat di Akademi Komunitas (Akom) Solo dan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung.

Contoh implementasinya, dihasilkan dari program Diklat 3in1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja) yang dilaksanakan di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta. &amp;ldquo;Baru-baru ini, kami baru membuka lagi pendidikan kilat untuk 300 orang di BDI Jakarta yang nantinya langsung dipekerjakan di industri garmen seluruh Indonesia, tentunya juga didorong di daerah-daerah lain,&amp;rdquo; ungkap Kepala BPSDMI.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Indonesia Perluas Pasar Ekspor Tekstil ke Amerika dan Eropa
Kegiatan diklat tersebut, dibuka pada 16 September 2019 dan akan berakhir hingga 5 Oktober 2019. &amp;ldquo;Para peserta mendaftar melalui tiga jalur rekrutmen. Ada yang mendaftar langsung melalui BDI daerah, daftar secara online, atau peserta sudah terdaftar sebagai tenaga kerja di pabrik yang kemudian dibawa ke BDI untuk menjalani diklat,&amp;rdquo; jelas Eko.

Para peserta diklat juga akan mendapatkan pelatihan langsung dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Mereka tidak hanya mendapat pelatihan teknis operasi mesin industri garmen dan tekstil, tetapi juga pembekalan kepribadian yang dibutuhkan saat kerja.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kesulitan Bahan Baku, Pengusaha Tekstil Minta Pembenahan Produsen Kain
&amp;ldquo;Dalam waktu dekat juga ada industri tekstil yang membutuhkan sekitar 4.000 tenaga kerja, karena melakukan perluasan usaha di daerah Jawa Barat, yakni Sukabumi, Tasik dan Subang yang semuanya merupakan satu grup perusahaan,&amp;rdquo; paparnya.Eko menambahkan, BDI Jakarta hingga saat ini sudah melaksanakan  diklat operator mesin industri garmen dengan jumlah peserta sebanyak  8.402 peserta yang diselenggarakan secara insite di BDI Jakarta maupun  onsite yaitu diklat yang diselenggarakan di perusahaan. &amp;ldquo;Dari seluruh  peserta, sebanyak 40 orang merupakan penyandang disabilitas,&amp;rdquo; imbuhnya.

BDI Jakarta juga telah melaksanakan diklat operator tekstil dengan  jumlah peserta sebanyak 500 orang, diklat membatik dengan jumlah peserta  sebanyak 1.100 orang, diklat bidang kualitas kontrol TPT sebanyak 180  orang, diklat tingkat supervisi TPT sebanyak 150 orang, dan diklat  bidang mekanik garmen sebanyak 30 orang.

&amp;ldquo;Sesuai dengan konsep 3in1, yaitu pelatihan, sertifikasi dan  penempatan kerja, para peserta akan ditempatkan bekerja di  perusahaan-perusahaan garmen yang telah menjalin kerja sama dengan BDI  Jakarta,&amp;rdquo; terangnya.

Eko menyebutkan, selain menyelenggarakan berbagai pelatihan,  Kemenperin juga akan mendorong akreditasi lembaga-lembaga pelatihan  kerja untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri TPT. &amp;ldquo;Karena  kebutuhan tenaga kerja yang terampil sangat besar, sehingga kami  mendorong jumlahnya terus naik,&amp;rdquo; tegasnya.

Secara keseluruhan untuk program Diklat 3in1, pada tahun ini,  Kemenperin menargetkan 72.000 orang mengikuti program tersebut yang  diproyeksikan untuk semua sektor industri, sehingga memenuhi kebutuhan  tenaga kerja kompeten dari peningkatan investasi sektor manufaktur. Dari  jumlah tersebut, termasuk di dalamnya untuk para penyandang disabilitas  yang dilatih agar mampu ikut berkontribusi dalam dunia industri Tanah  Air.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) API Ernovian G Ismy mengatakan,  penambahan sekolah dan lembaga pendidikan tekstil akan mampu menyiapkan  dan meningkatkan produktivitas dan kompetensi SDM industri tekstil.  Selama ini, menurut dia, kurangnya SDM di sektor industri tekstil  disebabkan kurangnya jumlah sekolah atau lembaga pendidikan untuk  mencetak SDM kompeten industri tekstil.

&amp;ldquo;API sendiri sudah berupaya untuk meningkatkan jumlah SDM di sektor  industri tekstil melalui pendirian sekolah vokasi di Jakarta dan Solo.  Pentingnya penambahan sekolah dan lembaga pendidikan tekstil bertujuan  untuk menyiapkan dan meningkatkan produktivitas SDM bagi industri  tekstil,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) semakin gencar mendorong peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk menopang daya saing industri nasional. Terutama, pada sektor-sektor yang menjadi prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

&amp;ldquo;Industri TPT membutuhkan tenaga kerja terampil yang sangat besar, karena termasuk sektor labor intensive atau industri padat karya. Karena itu, Kemenperin ikut memacu kualitas tenaga kerjanya,&amp;rdquo; kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto melansir keterangan, Jakarta, Sabtu (21/9/2019).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bertemu Pengusaha Tekstil, Presiden Jokowi Ingin Cari Peluang di Tengah Perang Dagang
Guna memenuhi permintaan tenaga kerja di sektor industri TPT, Kemenperin terus memaksimalkan Balai Pendidikan dan Latihan (Balai Diklat) khusus bidang tekstil yang ada di Jakarta dan Surabaya. Kemudian untuk tingkat perguruan tinggi, terdapat di Akademi Komunitas (Akom) Solo dan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung.

Contoh implementasinya, dihasilkan dari program Diklat 3in1 (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja) yang dilaksanakan di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta. &amp;ldquo;Baru-baru ini, kami baru membuka lagi pendidikan kilat untuk 300 orang di BDI Jakarta yang nantinya langsung dipekerjakan di industri garmen seluruh Indonesia, tentunya juga didorong di daerah-daerah lain,&amp;rdquo; ungkap Kepala BPSDMI.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Indonesia Perluas Pasar Ekspor Tekstil ke Amerika dan Eropa
Kegiatan diklat tersebut, dibuka pada 16 September 2019 dan akan berakhir hingga 5 Oktober 2019. &amp;ldquo;Para peserta mendaftar melalui tiga jalur rekrutmen. Ada yang mendaftar langsung melalui BDI daerah, daftar secara online, atau peserta sudah terdaftar sebagai tenaga kerja di pabrik yang kemudian dibawa ke BDI untuk menjalani diklat,&amp;rdquo; jelas Eko.

Para peserta diklat juga akan mendapatkan pelatihan langsung dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Mereka tidak hanya mendapat pelatihan teknis operasi mesin industri garmen dan tekstil, tetapi juga pembekalan kepribadian yang dibutuhkan saat kerja.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kesulitan Bahan Baku, Pengusaha Tekstil Minta Pembenahan Produsen Kain
&amp;ldquo;Dalam waktu dekat juga ada industri tekstil yang membutuhkan sekitar 4.000 tenaga kerja, karena melakukan perluasan usaha di daerah Jawa Barat, yakni Sukabumi, Tasik dan Subang yang semuanya merupakan satu grup perusahaan,&amp;rdquo; paparnya.Eko menambahkan, BDI Jakarta hingga saat ini sudah melaksanakan  diklat operator mesin industri garmen dengan jumlah peserta sebanyak  8.402 peserta yang diselenggarakan secara insite di BDI Jakarta maupun  onsite yaitu diklat yang diselenggarakan di perusahaan. &amp;ldquo;Dari seluruh  peserta, sebanyak 40 orang merupakan penyandang disabilitas,&amp;rdquo; imbuhnya.

BDI Jakarta juga telah melaksanakan diklat operator tekstil dengan  jumlah peserta sebanyak 500 orang, diklat membatik dengan jumlah peserta  sebanyak 1.100 orang, diklat bidang kualitas kontrol TPT sebanyak 180  orang, diklat tingkat supervisi TPT sebanyak 150 orang, dan diklat  bidang mekanik garmen sebanyak 30 orang.

&amp;ldquo;Sesuai dengan konsep 3in1, yaitu pelatihan, sertifikasi dan  penempatan kerja, para peserta akan ditempatkan bekerja di  perusahaan-perusahaan garmen yang telah menjalin kerja sama dengan BDI  Jakarta,&amp;rdquo; terangnya.

Eko menyebutkan, selain menyelenggarakan berbagai pelatihan,  Kemenperin juga akan mendorong akreditasi lembaga-lembaga pelatihan  kerja untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri TPT. &amp;ldquo;Karena  kebutuhan tenaga kerja yang terampil sangat besar, sehingga kami  mendorong jumlahnya terus naik,&amp;rdquo; tegasnya.

Secara keseluruhan untuk program Diklat 3in1, pada tahun ini,  Kemenperin menargetkan 72.000 orang mengikuti program tersebut yang  diproyeksikan untuk semua sektor industri, sehingga memenuhi kebutuhan  tenaga kerja kompeten dari peningkatan investasi sektor manufaktur. Dari  jumlah tersebut, termasuk di dalamnya untuk para penyandang disabilitas  yang dilatih agar mampu ikut berkontribusi dalam dunia industri Tanah  Air.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) API Ernovian G Ismy mengatakan,  penambahan sekolah dan lembaga pendidikan tekstil akan mampu menyiapkan  dan meningkatkan produktivitas dan kompetensi SDM industri tekstil.  Selama ini, menurut dia, kurangnya SDM di sektor industri tekstil  disebabkan kurangnya jumlah sekolah atau lembaga pendidikan untuk  mencetak SDM kompeten industri tekstil.

&amp;ldquo;API sendiri sudah berupaya untuk meningkatkan jumlah SDM di sektor  industri tekstil melalui pendirian sekolah vokasi di Jakarta dan Solo.  Pentingnya penambahan sekolah dan lembaga pendidikan tekstil bertujuan  untuk menyiapkan dan meningkatkan produktivitas SDM bagi industri  tekstil,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
