<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pekan Depan, Investor Kembali Fokus pada Hasil Pertemuan Negosiasi AS dengan China</title><description>Pasar menanti hasil pertemuan awal para negosiator kedua negara yang sudah di mulai dari Kamis-Minggu</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/22/278/2107826/pekan-depan-investor-kembali-fokus-pada-hasil-pertemuan-negosiasi-as-dengan-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/22/278/2107826/pekan-depan-investor-kembali-fokus-pada-hasil-pertemuan-negosiasi-as-dengan-china"/><item><title>Pekan Depan, Investor Kembali Fokus pada Hasil Pertemuan Negosiasi AS dengan China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/22/278/2107826/pekan-depan-investor-kembali-fokus-pada-hasil-pertemuan-negosiasi-as-dengan-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/22/278/2107826/pekan-depan-investor-kembali-fokus-pada-hasil-pertemuan-negosiasi-as-dengan-china</guid><pubDate>Minggu 22 September 2019 13:15 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/22/278/2107826/pekan-depan-investor-kembali-fokus-pada-hasil-pertemuan-negosiasi-as-dengan-china-xDGUmPSxsS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Perang Dagang China-AS. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/22/278/2107826/pekan-depan-investor-kembali-fokus-pada-hasil-pertemuan-negosiasi-as-dengan-china-xDGUmPSxsS.jpg</image><title>Ilustrasi Perang Dagang China-AS. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Selama satu pekan ke depan, pasar diprediksi akan kembali fokus pada perkembangan negosiasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Pasar menanti hasil pertemuan awal para negosiator kedua negara yang sudah di mulai dari Kamis-Minggu.
&amp;ldquo;Pertemuan awal ini akan memberikan gambaran perkembangan negosiasi dagang kedua negara ke depannya,&amp;rdquo; ujar  Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee, dalam keterangannya, Minggu (22/9/2019).
Baca Juga: Jokowi Sebut Resesi Ekonomi Global Akan Terjadi 1,5 Tahun ke Depan
Kemudian, data ekonomi dari beberapa negara yang keluar minggu lalu menunjukkan data yang bercampur. Sebagian menunjukkan indikasi perlambatan ekonomi.
&amp;ldquo; Tetapi pasar mulai mempertimbangkan akselasi ekonomi dunia menyusul banyaknya pelongaran kebijakan moneter oleh beberapa bank sentral,&amp;rdquo; ujarnya.
Di antaranya, pada minggu lalu pasar di warnai berita pelonggaran kebijakan moneter oleh beberapa bank sentral. Dimulai dari ECB yang menurunkan suku bunganya 10 bps dari minus 0.4% menjadi minus 0.5%. Kebijakan ini diikuti dengan pembelian obligasi sebesar 20 miliar euro per bulan mulai dari November 2019.

Kebijakan ini di harapkan mendorong laju perekonomian zona Euro dan mampu meningkatkan inflasi. Likuditas di industri keuangan pasti akan lebih longer dengan kebijakan ini.
Lalu, The Federal Reserve Amerika Serikat (Fed) melakukan kebijakan penurunan suku bunga 25 bps menjadi kisaran 1,75% sampai 2 %. Penurunan bunga diikuti dengan prediksi perekonomian AS masih tetap kuat dan inflasi masih terkendali di level 2%.
Baca Juga: Resesi Bayangi Ekonomi, Jokowi: Kita Harus Siapkan Diri
&amp;ldquo;Pasar saham dunia kecewa karena tidak ada indikasi penurunan lebih lanjut pada suku bunga. Dan dikhawatirakn penuruan ini adalah penurunan yang terakhir di tahun ini,&amp;rdquo; ujarnya.
Pasar punya harapan agar Fed dapat kembali melakukan penurunan suku bunga pada 11 Desember 2019. Hal ini yang membuat pasar saham kita terkoreksi setelah penurunan suku bunga Fed.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25%. Kebijakan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah, imbal hasil yang tetap menarik, serta sebagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.BI juga menyempurnakan pengaturan Rasio Intermediasi Makroprudensial  (RIM)/RIM Syariah, melakukan pelonggaran rasio Loan to Value/Financing  to Value (LTV/FTV) untuk kredit/pembiayaan properti sebesar 5%, uang  muka untuk kendaraan bermotor pada kisaran 5%-10%, serta tambahan  keringanan uang muka untuk kredit dan pembiayaan kendaraan bermotor  berwawasan lingkungan masing-masing 5%.
Ketentuan tersebut berlaku efektif sejak 2 Desember 2019. Kebijakan  pelonggaran likuditas akan berpengaruh baik untuk perekonomian  Indonesia, terutama pada sektor perbankan, properti, kendaraan dan multi  finance. Tetapi di jangka pendek masih agak sulit mendorong ekpansi  kredit akibat masih tingginya raiso LDR perbangkan.
:Pasar minggu ini kami perkirakan akan bergerak cukup mix dengan  potensi positif dengan support di level 6.193 sampai 6.022 dan  resistance level 6.282 sampai 6.318,&amp;rdquo; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Selama satu pekan ke depan, pasar diprediksi akan kembali fokus pada perkembangan negosiasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Pasar menanti hasil pertemuan awal para negosiator kedua negara yang sudah di mulai dari Kamis-Minggu.
&amp;ldquo;Pertemuan awal ini akan memberikan gambaran perkembangan negosiasi dagang kedua negara ke depannya,&amp;rdquo; ujar  Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee, dalam keterangannya, Minggu (22/9/2019).
Baca Juga: Jokowi Sebut Resesi Ekonomi Global Akan Terjadi 1,5 Tahun ke Depan
Kemudian, data ekonomi dari beberapa negara yang keluar minggu lalu menunjukkan data yang bercampur. Sebagian menunjukkan indikasi perlambatan ekonomi.
&amp;ldquo; Tetapi pasar mulai mempertimbangkan akselasi ekonomi dunia menyusul banyaknya pelongaran kebijakan moneter oleh beberapa bank sentral,&amp;rdquo; ujarnya.
Di antaranya, pada minggu lalu pasar di warnai berita pelonggaran kebijakan moneter oleh beberapa bank sentral. Dimulai dari ECB yang menurunkan suku bunganya 10 bps dari minus 0.4% menjadi minus 0.5%. Kebijakan ini diikuti dengan pembelian obligasi sebesar 20 miliar euro per bulan mulai dari November 2019.

Kebijakan ini di harapkan mendorong laju perekonomian zona Euro dan mampu meningkatkan inflasi. Likuditas di industri keuangan pasti akan lebih longer dengan kebijakan ini.
Lalu, The Federal Reserve Amerika Serikat (Fed) melakukan kebijakan penurunan suku bunga 25 bps menjadi kisaran 1,75% sampai 2 %. Penurunan bunga diikuti dengan prediksi perekonomian AS masih tetap kuat dan inflasi masih terkendali di level 2%.
Baca Juga: Resesi Bayangi Ekonomi, Jokowi: Kita Harus Siapkan Diri
&amp;ldquo;Pasar saham dunia kecewa karena tidak ada indikasi penurunan lebih lanjut pada suku bunga. Dan dikhawatirakn penuruan ini adalah penurunan yang terakhir di tahun ini,&amp;rdquo; ujarnya.
Pasar punya harapan agar Fed dapat kembali melakukan penurunan suku bunga pada 11 Desember 2019. Hal ini yang membuat pasar saham kita terkoreksi setelah penurunan suku bunga Fed.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25%. Kebijakan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah, imbal hasil yang tetap menarik, serta sebagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.BI juga menyempurnakan pengaturan Rasio Intermediasi Makroprudensial  (RIM)/RIM Syariah, melakukan pelonggaran rasio Loan to Value/Financing  to Value (LTV/FTV) untuk kredit/pembiayaan properti sebesar 5%, uang  muka untuk kendaraan bermotor pada kisaran 5%-10%, serta tambahan  keringanan uang muka untuk kredit dan pembiayaan kendaraan bermotor  berwawasan lingkungan masing-masing 5%.
Ketentuan tersebut berlaku efektif sejak 2 Desember 2019. Kebijakan  pelonggaran likuditas akan berpengaruh baik untuk perekonomian  Indonesia, terutama pada sektor perbankan, properti, kendaraan dan multi  finance. Tetapi di jangka pendek masih agak sulit mendorong ekpansi  kredit akibat masih tingginya raiso LDR perbangkan.
:Pasar minggu ini kami perkirakan akan bergerak cukup mix dengan  potensi positif dengan support di level 6.193 sampai 6.022 dan  resistance level 6.282 sampai 6.318,&amp;rdquo; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
