<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sesekali Mereda, Tensi Perang Dagang AS-China Diprediksi Belum Berakhir   </title><description>Pemerintah menilai ketegangan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China belum akan berakhir</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/23/20/2108245/sesekali-mereda-tensi-perang-dagang-as-china-diprediksi-belum-berakhir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/23/20/2108245/sesekali-mereda-tensi-perang-dagang-as-china-diprediksi-belum-berakhir"/><item><title>Sesekali Mereda, Tensi Perang Dagang AS-China Diprediksi Belum Berakhir   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/23/20/2108245/sesekali-mereda-tensi-perang-dagang-as-china-diprediksi-belum-berakhir</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/23/20/2108245/sesekali-mereda-tensi-perang-dagang-as-china-diprediksi-belum-berakhir</guid><pubDate>Senin 23 September 2019 15:53 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/23/20/2108245/sesekali-mereda-tensi-perang-dagang-as-china-diprediksi-belum-berakhir-gbaECh9L8s.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dampak Perang Dagang (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/23/20/2108245/sesekali-mereda-tensi-perang-dagang-as-china-diprediksi-belum-berakhir-gbaECh9L8s.jpg</image><title>Dampak Perang Dagang (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah menilai ketegangan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China belum akan berakhir pada waktu dekat ini. Walaupun kedua negara sedang melakukan pertemuan terkait penyelesaian perang dagang.
&quot;Jadi, meskipun tensi perang dagang sesekali mereda, namun beberapa saat kemudian akan kembali memanas. Maka itu kita lihat ini mungkin tensi dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok tidak akan segera berakhir,&quot; ujar Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Hidayat Amir di Gedung Kemenkeu Jakarta, Senin (23/9/2019).
Baca Juga: Pekan Depan, Investor Kembali Fokus pada Hasil Pertemuan Negosiasi AS dengan China
Menurut dia, tensi perang dagang diperparah dengan tekanan geopolitik lainnya yang terjadi di dunia. Seperti memburuknya hubungan Jepang dan Korea Selatan.

&quot;Bahkan kalian tahu semua, baru-baru ini terjadi penyerangan di fasilitas minyak milik Saudi Aramco,&quot; kata dia.
Baca Juga: Jokowi Sebut Resesi Ekonomi Global Akan Terjadi 1,5 Tahun ke Depan
Dia menambahkan, masalah Brexit juga masih belum kunjung selesai, serta krisis di Argentina. Hal tersebut menambah daftar ketidakpastian yang mengancam pertumbuhan ekonomi global.

&quot;Dan lanjut aktivitas riil perekonomian global masih menunjukkan  perlambatan. Itu dapat dilihat dari melemahnya pertumbuhan ekonomi di  banyak negara,&quot; ungkap dia.
Sebelumnya, Perang dagang global antara Amerika Serikat (AS) dan  China memberikan dampak negatif terhadap ekonomi global. Sebab,  menurunkan volume perdagangan dunia yang pada akhirnya bisa menekan  perekonomian di banyak negara.
Direktur Keuangan dan Strategy Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan,  dampak perang dagang antara AS dan China bagi Indonesia sangat negatif  terhadap penurunan kinerja ekspor melalui harga komoditas.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah menilai ketegangan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China belum akan berakhir pada waktu dekat ini. Walaupun kedua negara sedang melakukan pertemuan terkait penyelesaian perang dagang.
&quot;Jadi, meskipun tensi perang dagang sesekali mereda, namun beberapa saat kemudian akan kembali memanas. Maka itu kita lihat ini mungkin tensi dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok tidak akan segera berakhir,&quot; ujar Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Hidayat Amir di Gedung Kemenkeu Jakarta, Senin (23/9/2019).
Baca Juga: Pekan Depan, Investor Kembali Fokus pada Hasil Pertemuan Negosiasi AS dengan China
Menurut dia, tensi perang dagang diperparah dengan tekanan geopolitik lainnya yang terjadi di dunia. Seperti memburuknya hubungan Jepang dan Korea Selatan.

&quot;Bahkan kalian tahu semua, baru-baru ini terjadi penyerangan di fasilitas minyak milik Saudi Aramco,&quot; kata dia.
Baca Juga: Jokowi Sebut Resesi Ekonomi Global Akan Terjadi 1,5 Tahun ke Depan
Dia menambahkan, masalah Brexit juga masih belum kunjung selesai, serta krisis di Argentina. Hal tersebut menambah daftar ketidakpastian yang mengancam pertumbuhan ekonomi global.

&quot;Dan lanjut aktivitas riil perekonomian global masih menunjukkan  perlambatan. Itu dapat dilihat dari melemahnya pertumbuhan ekonomi di  banyak negara,&quot; ungkap dia.
Sebelumnya, Perang dagang global antara Amerika Serikat (AS) dan  China memberikan dampak negatif terhadap ekonomi global. Sebab,  menurunkan volume perdagangan dunia yang pada akhirnya bisa menekan  perekonomian di banyak negara.
Direktur Keuangan dan Strategy Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan,  dampak perang dagang antara AS dan China bagi Indonesia sangat negatif  terhadap penurunan kinerja ekspor melalui harga komoditas.</content:encoded></item></channel></rss>
