<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI: Negara Berkembang Akan Kebanjiran Dana Asing</title><description>Bank Indonesia (BI) menyebut negara-negara berkembang akan kebanjiran likuiditas global</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/27/20/2110246/bi-negara-berkembang-akan-kebanjiran-dana-asing</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/27/20/2110246/bi-negara-berkembang-akan-kebanjiran-dana-asing"/><item><title>BI: Negara Berkembang Akan Kebanjiran Dana Asing</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/27/20/2110246/bi-negara-berkembang-akan-kebanjiran-dana-asing</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/27/20/2110246/bi-negara-berkembang-akan-kebanjiran-dana-asing</guid><pubDate>Jum'at 27 September 2019 20:01 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/27/20/2110246/bi-negara-berkembang-akan-kebanjiran-dana-asing-3yzN3dxD0V.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/27/20/2110246/bi-negara-berkembang-akan-kebanjiran-dana-asing-3yzN3dxD0V.jpg</image><title>Bank Indonesia. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>BALI - Bank Indonesia (BI) menyebut negara-negara berkembang akan kebanjiran likuiditas global yang akan masuk ke dalam investasi portofolio. Salah satunya Indonesia.
Baca Juga: Posisi Investasi Internasional Indonesia Merangkak Naik
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko, mengungkapkan banyaknya likuiditas global yang mungkin akan masuk ke negara berkembang disebabkan tren pertumbuhan global yang sedang melambat. Selai itu, volume perdagangan global juga turun akibat adanya perang dagang.

&quot;Tapi, likuiditas tersebut memiliki sifat volatilitas yang tinggi, tergantung pada yield yang ditawarkan masing-masing negara berkembang,&quot; ujar dia di Bali, Jumat (27/9/2019).
Baca Juga: Posisi Investasi Internasional RI Tembus USD331,2 Miliar
Kemudian, lanjut dia, kondisi itu banyak direspons negara-negara yang mengalami perlambatan pertumbuhan dengan penurunan suku bunga yang dilakukan beberapa bank sentral.&quot;Seperti bank sentral AS, The Fed juga telah menurunkan suku bunganya  pada Juli dan September masing-masing sebesar 25 basis poin,&quot; tutur  dia.
Dia menuturkan pasar juga masih memperkirakan Fed Fund Rate masih  akan turun akhir 2019 dan 2020 seiring dengan perlambatan pertumbuhan  ekonomi dan tekanan inflasi AS yang rendah.
&quot;Sementara itu, stance kebijakan moneter bank sentral Eropa juga  akomodatif dengan adanya perlambatan ekonomi dan penurunan tekanan  inflasi melalui penurunan suku bunga deposit facility sebesar 10 basis  poin menjadi 0,5%,&quot; ungkap dia</description><content:encoded>BALI - Bank Indonesia (BI) menyebut negara-negara berkembang akan kebanjiran likuiditas global yang akan masuk ke dalam investasi portofolio. Salah satunya Indonesia.
Baca Juga: Posisi Investasi Internasional Indonesia Merangkak Naik
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko, mengungkapkan banyaknya likuiditas global yang mungkin akan masuk ke negara berkembang disebabkan tren pertumbuhan global yang sedang melambat. Selai itu, volume perdagangan global juga turun akibat adanya perang dagang.

&quot;Tapi, likuiditas tersebut memiliki sifat volatilitas yang tinggi, tergantung pada yield yang ditawarkan masing-masing negara berkembang,&quot; ujar dia di Bali, Jumat (27/9/2019).
Baca Juga: Posisi Investasi Internasional RI Tembus USD331,2 Miliar
Kemudian, lanjut dia, kondisi itu banyak direspons negara-negara yang mengalami perlambatan pertumbuhan dengan penurunan suku bunga yang dilakukan beberapa bank sentral.&quot;Seperti bank sentral AS, The Fed juga telah menurunkan suku bunganya  pada Juli dan September masing-masing sebesar 25 basis poin,&quot; tutur  dia.
Dia menuturkan pasar juga masih memperkirakan Fed Fund Rate masih  akan turun akhir 2019 dan 2020 seiring dengan perlambatan pertumbuhan  ekonomi dan tekanan inflasi AS yang rendah.
&quot;Sementara itu, stance kebijakan moneter bank sentral Eropa juga  akomodatif dengan adanya perlambatan ekonomi dan penurunan tekanan  inflasi melalui penurunan suku bunga deposit facility sebesar 10 basis  poin menjadi 0,5%,&quot; ungkap dia</content:encoded></item></channel></rss>
