<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Daya Saing Kalah, Menaker: Ekosistem Ketenagakerjaan Indonesia Sangat Kaku</title><description>Hanif Dhakiri menyatakan, ekosistem  ketenagakerjaan yang sangat kaku membuat Indonesia tidak cukup menarik  bagi investor.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/27/320/2110011/daya-saing-kalah-menaker-ekosistem-ketenagakerjaan-indonesia-sangat-kaku</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/27/320/2110011/daya-saing-kalah-menaker-ekosistem-ketenagakerjaan-indonesia-sangat-kaku"/><item><title>Daya Saing Kalah, Menaker: Ekosistem Ketenagakerjaan Indonesia Sangat Kaku</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/27/320/2110011/daya-saing-kalah-menaker-ekosistem-ketenagakerjaan-indonesia-sangat-kaku</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/27/320/2110011/daya-saing-kalah-menaker-ekosistem-ketenagakerjaan-indonesia-sangat-kaku</guid><pubDate>Jum'at 27 September 2019 12:35 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/27/320/2110011/daya-saing-kalah-menaker-ekosistem-ketenagakerjaan-indonesia-sangat-kaku-AbS3DDzPFY.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (Foto: Okezone.com/Yohana)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/27/320/2110011/daya-saing-kalah-menaker-ekosistem-ketenagakerjaan-indonesia-sangat-kaku-AbS3DDzPFY.jpeg</image><title>Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri (Foto: Okezone.com/Yohana)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menyatakan, ekosistem ketenagakerjaan yang sangat kaku membuat Indonesia tidak cukup menarik bagi investor. Tercermin dari data Bank Dunia yang menyebut 33 perusahaan asing hengkang dari China, namun tak satu pun relokasi ke Indonesia.
Seluruh perusahaan asing yang melakukan relokasi itu di antaranya 23 memilih ke Vietnam. Kemudian 10 lainnya memilih tersebar di Malaysia, Thailand dan Kamboja untuk relokasi.
Baca juga: Viral Kecanggihan Robot Kalahkan Tukang Kayu
Padahal investasi asing bersifat langsung (foreign direct investment) membuat terciptanya lapangan kerja berskala besar. Namun iklim investasi Indonesia yang kurang kondusif tak memikat investasi dan menghambat penciptaan lapangan kerja.

&quot;Tempo hari 33 perusahaan relokasi dari China enggak ada yang ke Indonesia, daya saing kita kalah. Salah satunya faktor daya saing ini adalah tenaga kerja yang terlalu kaku,&quot; ujar dia di Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Jumat (27/9/2019).
Dia menyatakan, tingkat daya saing tenaga kerja Indonesia masih  rendah, lantaran di  dominasi lulusan SD dan SMP sebesar 58%. Di sisi  lain, pengusaha banyak mengeluhkan persoalan tentang upah minimum, belum  lagi persoalan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
&quot;Itu semua menjadi tantangan Indonesia,&quot; katanya.
Baca juga: Canggih, Nginap di Hotel China Dilayani Robot
Oleh sebab itu, perlu adanya transformasi ekosistem ketenagakerjaan  di Indonesia menjadi lebih fleksibel, seiring dengan dunia yang bergerak  semakin fleksibel.
&quot;Suka tidak suka fleksibilitas harus diterima, termasuk fleksibilitas  di pasar kerja, untuk itu ekosistem tenaga kerja harus punya kemampuan  adaptasi,&quot; kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menyatakan, ekosistem ketenagakerjaan yang sangat kaku membuat Indonesia tidak cukup menarik bagi investor. Tercermin dari data Bank Dunia yang menyebut 33 perusahaan asing hengkang dari China, namun tak satu pun relokasi ke Indonesia.
Seluruh perusahaan asing yang melakukan relokasi itu di antaranya 23 memilih ke Vietnam. Kemudian 10 lainnya memilih tersebar di Malaysia, Thailand dan Kamboja untuk relokasi.
Baca juga: Viral Kecanggihan Robot Kalahkan Tukang Kayu
Padahal investasi asing bersifat langsung (foreign direct investment) membuat terciptanya lapangan kerja berskala besar. Namun iklim investasi Indonesia yang kurang kondusif tak memikat investasi dan menghambat penciptaan lapangan kerja.

&quot;Tempo hari 33 perusahaan relokasi dari China enggak ada yang ke Indonesia, daya saing kita kalah. Salah satunya faktor daya saing ini adalah tenaga kerja yang terlalu kaku,&quot; ujar dia di Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Jumat (27/9/2019).
Dia menyatakan, tingkat daya saing tenaga kerja Indonesia masih  rendah, lantaran di  dominasi lulusan SD dan SMP sebesar 58%. Di sisi  lain, pengusaha banyak mengeluhkan persoalan tentang upah minimum, belum  lagi persoalan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
&quot;Itu semua menjadi tantangan Indonesia,&quot; katanya.
Baca juga: Canggih, Nginap di Hotel China Dilayani Robot
Oleh sebab itu, perlu adanya transformasi ekosistem ketenagakerjaan  di Indonesia menjadi lebih fleksibel, seiring dengan dunia yang bergerak  semakin fleksibel.
&quot;Suka tidak suka fleksibilitas harus diterima, termasuk fleksibilitas  di pasar kerja, untuk itu ekosistem tenaga kerja harus punya kemampuan  adaptasi,&quot; kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
