<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sektor Automotif Lesu karena Perlambatan Ekonomi Global</title><description>Perlambatan ekonomi global berdampak besar pada kinerja pertumbuhan perdagangan beberapa sektor di Indonesia, salah satunya automotif.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/28/320/2110453/sektor-automotif-lesu-karena-perlambatan-ekonomi-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/28/320/2110453/sektor-automotif-lesu-karena-perlambatan-ekonomi-global"/><item><title>Sektor Automotif Lesu karena Perlambatan Ekonomi Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/28/320/2110453/sektor-automotif-lesu-karena-perlambatan-ekonomi-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/28/320/2110453/sektor-automotif-lesu-karena-perlambatan-ekonomi-global</guid><pubDate>Sabtu 28 September 2019 04:15 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/28/320/2110453/sektor-automotif-lesu-karena-perlambatan-ekonomi-global-GNeORkzu64.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Mobil (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/28/320/2110453/sektor-automotif-lesu-karena-perlambatan-ekonomi-global-GNeORkzu64.jpg</image><title>Ilustrasi Mobil (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)</title></images><description>BALI - Perlambatan ekonomi global berdampak besar pada kinerja pertumbuhan perdagangan beberapa sektor di Indonesia. Salah satu yang paling terdampak yakni pertumbuhan sektor automotif yang diprediksi akan mengalami kontraksi hingga -10% pada tahun 2019.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, pertumbuhan sektor automotif hingga pertengahan tahun ini sudah mengalami kontraksi hingga -11%.
&quot;Jadi, kami prediksi hingga akhir tahun mengalami kontraksi hingga -10 %,&quot; ujar dia saat Pelatihan Wartawan Bank Indonesia di Kuta Bali, Sabtu (28/9/2019).
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2016/01/17/22909/143292_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pameran Mobil Honda&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurut dia, kinerja sektor automotif sangat berhubungan erat dengan kondisi ekspor komoditas. Untuk kendaraan komersil, kinerjanya sangat tergantung pada kinerja perdagangan batu bara.
Sementara, pertumbuhan kendaraan penumpang sangat bergantung pada kondisi ekspor CPO.
&quot;Ketika perdagangan batu bara dan CPO turun, maka berbanding lurus dengan kinerja automotif yang ikut menurun,&quot; tutur dia.
Baca Juga: Ada 9 Sektor Usaha Perusahaan Tercatat di BEIDia menjelaskan kinerja pertumbuhan yang landai juga terjadi pada  kendaraan roda dua yaitu sekitar 4,4%. Hal tersebut bisa disebabkan  karena rumah tangga sudah banyak yang memiliki kendaraan roda dua  sehingga ruang gerak pertumbuhannya semakin sempit.
&amp;lt;img  src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/07/12/58016/296064_medium.jpg&quot;  alt=&quot;Penjualan Sepeda Motor Naik 8,1% Dibandingkan Tahun Lalu&quot;&amp;nbsp;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Selain itu, saat ini masyarakat juga sudah banyak yang menggunakan transportasi online sehingga mengurangi penggunaan motor.
&quot;Tapi, beberapa sektor masih memiliki pertumbuhan yang tinggi.  Misalnya, sektor properti rumah yang tumbuh 20% namun untuk rumah dengan  harga di bawah Rp1 miliar,&quot; pungkas dia.
Baca Juga: Perang Dagang Jepang-Korsel Memanas, Mendag: Tidak Ada yang Diuntungkan</description><content:encoded>BALI - Perlambatan ekonomi global berdampak besar pada kinerja pertumbuhan perdagangan beberapa sektor di Indonesia. Salah satu yang paling terdampak yakni pertumbuhan sektor automotif yang diprediksi akan mengalami kontraksi hingga -10% pada tahun 2019.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, pertumbuhan sektor automotif hingga pertengahan tahun ini sudah mengalami kontraksi hingga -11%.
&quot;Jadi, kami prediksi hingga akhir tahun mengalami kontraksi hingga -10 %,&quot; ujar dia saat Pelatihan Wartawan Bank Indonesia di Kuta Bali, Sabtu (28/9/2019).
&amp;lt;img src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2016/01/17/22909/143292_medium.jpg&quot; alt=&quot;Pameran Mobil Honda&quot;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Menurut dia, kinerja sektor automotif sangat berhubungan erat dengan kondisi ekspor komoditas. Untuk kendaraan komersil, kinerjanya sangat tergantung pada kinerja perdagangan batu bara.
Sementara, pertumbuhan kendaraan penumpang sangat bergantung pada kondisi ekspor CPO.
&quot;Ketika perdagangan batu bara dan CPO turun, maka berbanding lurus dengan kinerja automotif yang ikut menurun,&quot; tutur dia.
Baca Juga: Ada 9 Sektor Usaha Perusahaan Tercatat di BEIDia menjelaskan kinerja pertumbuhan yang landai juga terjadi pada  kendaraan roda dua yaitu sekitar 4,4%. Hal tersebut bisa disebabkan  karena rumah tangga sudah banyak yang memiliki kendaraan roda dua  sehingga ruang gerak pertumbuhannya semakin sempit.
&amp;lt;img  src=&quot;https://a-k.okeinfo.net/photos/2019/07/12/58016/296064_medium.jpg&quot;  alt=&quot;Penjualan Sepeda Motor Naik 8,1% Dibandingkan Tahun Lalu&quot;&amp;nbsp;  width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Selain itu, saat ini masyarakat juga sudah banyak yang menggunakan transportasi online sehingga mengurangi penggunaan motor.
&quot;Tapi, beberapa sektor masih memiliki pertumbuhan yang tinggi.  Misalnya, sektor properti rumah yang tumbuh 20% namun untuk rumah dengan  harga di bawah Rp1 miliar,&quot; pungkas dia.
Baca Juga: Perang Dagang Jepang-Korsel Memanas, Mendag: Tidak Ada yang Diuntungkan</content:encoded></item></channel></rss>
