<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Produk Amerika Kian Tergilas Perang Dagang?   </title><description>Dampak perang dagang menimbulkan kerusakan, terutana bagi produsen barang-barang AS yang mayoritas andalkan pasar global</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/30/278/2110868/produk-amerika-kian-tergilas-perang-dagang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/30/278/2110868/produk-amerika-kian-tergilas-perang-dagang"/><item><title>Produk Amerika Kian Tergilas Perang Dagang?   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/30/278/2110868/produk-amerika-kian-tergilas-perang-dagang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/30/278/2110868/produk-amerika-kian-tergilas-perang-dagang</guid><pubDate>Senin 30 September 2019 08:51 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/30/278/2110868/produk-amerika-kian-tergilas-perang-dagang-qqxXP2ev26.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Perang Dagang China-AS. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/30/278/2110868/produk-amerika-kian-tergilas-perang-dagang-qqxXP2ev26.jpg</image><title>Ilustrasi Perang Dagang China-AS. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>NEW YORK - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menguatkan nilai dolar AS. Hanya saja dampak perang dagang menimbulkan kerusakan, terutana bagi produsen barang-barang AS  yang mayoritas andalkan pasar global.
Institute for Supply Management (ISM) merilis indeks  pembelian yang mengukur sejauh mana pelaku pasar mendapatkan  kerugian akibat ketegangan perdagangan dan menguatnya mata uang dolar AS. Pada Agustus, sektor manufaktur menyumbang sekitar 12% pada ekonomi AS, namun data yang lebih mengkhawatirkan komponen ekspor mencapai level terendah lebih dari 10 tahun.
Baca Juga: Dampak Perang AS-China, Presiden Jokowi: Ada Peluang untuk Para Pengusaha Mebel di Indonesia
&quot;Para eksportir setidaknya lebih dekat dengan resesi yang diperkirakan,&quot; kata analis Senior Robert Pavlik, dikutip dari Reuters, Senin (30/9/2019).
Untuk ekspor terbaru pada Agustus anjlok atau menyentuh level terendah sejak April 2009. Hal tersebut terjadi ketika AS berada dalam pergolakan resesi besar.

Dalam survei PMI Agustus, produsen mengatakan bisnis mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang luas. Apalagi China menerapkan tarif sekitar USD110 miliar pada barang-barang AS, sebagai balasan atas tarif Presiden Donald Trump atas produk impor Tiongkok.
Baca Juga: Jokowi Keluarkan Aturan Khusus Selamatkan Sawah Indonesia
Sementara itu, dolar  yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, mencapai level tertinggi pada 3 September. Hal tersebut berimbas pada barang-barang AS yang menjadi lebih mahal di pasar global.Diperkirakan pendapatan kuartal ketiga Apple Inc, 7,4% lebih rendah  dari tahun lalu. Kemudian turun 16,7% untuk kuartal terakhir di  Oktober-Desember. General Electric Co (GE.N) mendapat sekitar 61,5% dari  pendapatannya dari luar negeri. Analis melihat pendapatan kuartal  ketiga perseroan bakal mencapai  44,6% di bawah level yang terlihat  setahun yang lalu, dan estimasi EPS kuartal keempatnya sekarang 43,5%  lebih rendah.
Micron Technology Inc mengandalkan bisnis non-AS untuk 88,1% dari  pendapatannya. Perkiraan pendapatan kuartal ketiga untuk perusahaan  telah jatuh 83,4% dari tahun lalu dan 42% dari kuartal terakhir.  Pelanggan luar negeri berkontribusi 97,4% dari pendapatan Qualcomm Inc  (QCOM.O). Analis telah memangkas estimasi pendapatan kuartal ketiga  mereka untuk perusahaan sebesar 47,7% dibandingkan tahun lalu.</description><content:encoded>NEW YORK - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menguatkan nilai dolar AS. Hanya saja dampak perang dagang menimbulkan kerusakan, terutana bagi produsen barang-barang AS  yang mayoritas andalkan pasar global.
Institute for Supply Management (ISM) merilis indeks  pembelian yang mengukur sejauh mana pelaku pasar mendapatkan  kerugian akibat ketegangan perdagangan dan menguatnya mata uang dolar AS. Pada Agustus, sektor manufaktur menyumbang sekitar 12% pada ekonomi AS, namun data yang lebih mengkhawatirkan komponen ekspor mencapai level terendah lebih dari 10 tahun.
Baca Juga: Dampak Perang AS-China, Presiden Jokowi: Ada Peluang untuk Para Pengusaha Mebel di Indonesia
&quot;Para eksportir setidaknya lebih dekat dengan resesi yang diperkirakan,&quot; kata analis Senior Robert Pavlik, dikutip dari Reuters, Senin (30/9/2019).
Untuk ekspor terbaru pada Agustus anjlok atau menyentuh level terendah sejak April 2009. Hal tersebut terjadi ketika AS berada dalam pergolakan resesi besar.

Dalam survei PMI Agustus, produsen mengatakan bisnis mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang luas. Apalagi China menerapkan tarif sekitar USD110 miliar pada barang-barang AS, sebagai balasan atas tarif Presiden Donald Trump atas produk impor Tiongkok.
Baca Juga: Jokowi Keluarkan Aturan Khusus Selamatkan Sawah Indonesia
Sementara itu, dolar  yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, mencapai level tertinggi pada 3 September. Hal tersebut berimbas pada barang-barang AS yang menjadi lebih mahal di pasar global.Diperkirakan pendapatan kuartal ketiga Apple Inc, 7,4% lebih rendah  dari tahun lalu. Kemudian turun 16,7% untuk kuartal terakhir di  Oktober-Desember. General Electric Co (GE.N) mendapat sekitar 61,5% dari  pendapatannya dari luar negeri. Analis melihat pendapatan kuartal  ketiga perseroan bakal mencapai  44,6% di bawah level yang terlihat  setahun yang lalu, dan estimasi EPS kuartal keempatnya sekarang 43,5%  lebih rendah.
Micron Technology Inc mengandalkan bisnis non-AS untuk 88,1% dari  pendapatannya. Perkiraan pendapatan kuartal ketiga untuk perusahaan  telah jatuh 83,4% dari tahun lalu dan 42% dari kuartal terakhir.  Pelanggan luar negeri berkontribusi 97,4% dari pendapatan Qualcomm Inc  (QCOM.O). Analis telah memangkas estimasi pendapatan kuartal ketiga  mereka untuk perusahaan sebesar 47,7% dibandingkan tahun lalu.</content:encoded></item></channel></rss>
