<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>2 Direksi Sriwijaya Air Mengundurkan Diri</title><description>Dua direksi Sriwijaya Air Group mengundurkan diri dari jabatannya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/30/320/2111158/2-direksi-sriwijaya-air-mengundurkan-diri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2019/09/30/320/2111158/2-direksi-sriwijaya-air-mengundurkan-diri"/><item><title>2 Direksi Sriwijaya Air Mengundurkan Diri</title><link>https://economy.okezone.com/read/2019/09/30/320/2111158/2-direksi-sriwijaya-air-mengundurkan-diri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2019/09/30/320/2111158/2-direksi-sriwijaya-air-mengundurkan-diri</guid><pubDate>Senin 30 September 2019 18:49 WIB</pubDate><dc:creator>Yohana Artha Uly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/30/320/2111158/2-direksi-sriwijaya-air-mengundurkan-diri-FWeomS14L7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sriwijaya Air (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/30/320/2111158/2-direksi-sriwijaya-air-mengundurkan-diri-FWeomS14L7.jpg</image><title>Sriwijaya Air (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Dua direksi Sriwijaya Air Group mengundurkan diri dari jabatannya. Hal itu sebagai buntut dari kisruh internal perusahaan usai putusnya kerja sama manajemen (KSM) dengan PT Citilink, anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).
Kedua direksi yang mengundurkan diri tersebut yakni Direktur Operasi Sriwijaya Air Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Sriwijaya Air Ramdani Ardali Adang.
Baca Juga: Tak Prioritaskan Keselamatan, Direktur Desak Sriwijaya Air Hentikan Operasi
Fadjar menjelaskan, pihaknya sudah menyampaikan surat kepada Plt. Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I. Jauwena terkait rekomendasi berhenti operasi sementara. Mengingat ada sejumlah masalah internal yang berat baik dari sisi finansial, operasional, teknis, hingga human capital.
Kendati demikian, surat itu tidak direspons dan perusahaan tetap berupaya menjalankan penerbangan seperti biasa. Menurutnya, hal ini sangat berkaitan dengan keamanan penerbangan.
Baca Juga: Kisruh Sriwijaya Air, Bagaimana Kelanjutan Kerja Sama dengan Garuda?
&quot;Maka kami berdua memutuskan untuk mengundurkan diri untuk menghindari conflict of interest (konflik kepentingan),&quot; ujarnya dalam konferensi pers di Kopi Oey, Jakarta, Senin (30/9/2019).
Masalah di sisi operasional perusahaan maskapai itu bermula dari konfliknya bersama Garuda Indonesia Group. Lantaran, sejumlah fasilitas dari Garuda Indonesia melalui KSM seperti maintenance repair dan overhaul (MRO) dai GMF Aeroasia sudah dihilangkan.&quot;Sejak putus kerja sama dengan GMF sampai saat ini kami khawatir HIRA  cukup merah, meski belum terjadi tapi dari indikasi tersebut berkaitan  dengan keselamatan penerbangan, itu sangat membahayakan. Jadi kalau  surat kami tidak dipedulikan lebih baik saya mengundurkan diri,&quot; jelas  Ramdani menambahkan.
Tak hanya itu, fasilitas yang dimiliki perseroan juga tidak mencukupi  untuk menunjang operasional. Dari sekitar 30 unit pesawat yang  dikelola, per hari ini hanya ada sekitar 10 unit pesawat yang beroperasi  dan melayani sekitar 80 rute.
Baca Juga: Takut Merugi, Sriwijaya Air Tak Ajukan Penerbangan Tambahan untuk Mudik Lebaran
Sedangkan dari sisi finansial, Sriwijaya Air kini tengah terseok-seok  yang jika diibaratkan seperti menunggu listrik padam. Kecuali ada  investor yang bersedia mengucurkan dana agar maskapai bisa memperbaiki  operasionalnya.
&quot;Saya terus terang, sejak putus GMF sampai hari ini saya khawatir  sekali. Ada tunggakan Rp800 miliar, operasional penerbangan berisiko,&quot;  ujar Fadjar.</description><content:encoded>JAKARTA - Dua direksi Sriwijaya Air Group mengundurkan diri dari jabatannya. Hal itu sebagai buntut dari kisruh internal perusahaan usai putusnya kerja sama manajemen (KSM) dengan PT Citilink, anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).
Kedua direksi yang mengundurkan diri tersebut yakni Direktur Operasi Sriwijaya Air Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Sriwijaya Air Ramdani Ardali Adang.
Baca Juga: Tak Prioritaskan Keselamatan, Direktur Desak Sriwijaya Air Hentikan Operasi
Fadjar menjelaskan, pihaknya sudah menyampaikan surat kepada Plt. Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I. Jauwena terkait rekomendasi berhenti operasi sementara. Mengingat ada sejumlah masalah internal yang berat baik dari sisi finansial, operasional, teknis, hingga human capital.
Kendati demikian, surat itu tidak direspons dan perusahaan tetap berupaya menjalankan penerbangan seperti biasa. Menurutnya, hal ini sangat berkaitan dengan keamanan penerbangan.
Baca Juga: Kisruh Sriwijaya Air, Bagaimana Kelanjutan Kerja Sama dengan Garuda?
&quot;Maka kami berdua memutuskan untuk mengundurkan diri untuk menghindari conflict of interest (konflik kepentingan),&quot; ujarnya dalam konferensi pers di Kopi Oey, Jakarta, Senin (30/9/2019).
Masalah di sisi operasional perusahaan maskapai itu bermula dari konfliknya bersama Garuda Indonesia Group. Lantaran, sejumlah fasilitas dari Garuda Indonesia melalui KSM seperti maintenance repair dan overhaul (MRO) dai GMF Aeroasia sudah dihilangkan.&quot;Sejak putus kerja sama dengan GMF sampai saat ini kami khawatir HIRA  cukup merah, meski belum terjadi tapi dari indikasi tersebut berkaitan  dengan keselamatan penerbangan, itu sangat membahayakan. Jadi kalau  surat kami tidak dipedulikan lebih baik saya mengundurkan diri,&quot; jelas  Ramdani menambahkan.
Tak hanya itu, fasilitas yang dimiliki perseroan juga tidak mencukupi  untuk menunjang operasional. Dari sekitar 30 unit pesawat yang  dikelola, per hari ini hanya ada sekitar 10 unit pesawat yang beroperasi  dan melayani sekitar 80 rute.
Baca Juga: Takut Merugi, Sriwijaya Air Tak Ajukan Penerbangan Tambahan untuk Mudik Lebaran
Sedangkan dari sisi finansial, Sriwijaya Air kini tengah terseok-seok  yang jika diibaratkan seperti menunggu listrik padam. Kecuali ada  investor yang bersedia mengucurkan dana agar maskapai bisa memperbaiki  operasionalnya.
&quot;Saya terus terang, sejak putus GMF sampai hari ini saya khawatir  sekali. Ada tunggakan Rp800 miliar, operasional penerbangan berisiko,&quot;  ujar Fadjar.</content:encoded></item></channel></rss>
